AG: Aretha Ghibran

AG: Aretha Ghibran
part 85



"Gw punya ide." ucap Ghibran membuat Arthan yang sedang tiduran sampai kaget.


"Ayam ayam ayam." latah Arthan.


"Hahahaha lo kalau kaget bisa gitu ya bang." tawa Ghibran.


"Si*l*n lo." Arthan melemparkan bantal sofa ke Ghibran.


"Hehehe sorry bang." cengir Ghibran.


"Apaan ide lo?" tanya Arthan.


"Gimana kalau bang Arthan suruh anak buah bang Arthan cari kutu terus nanti kita taruh di kepala bang Arthan terus nanti aku ambil dan kita kasih ke bini ku." jelas Ghibran memberikan ide.


"Boleh juga ide lo, kenapa gak bilang dari tadi aja." setuju Arthan.


Arthan pun segera menyuruh anak buahnya untuk mencarikan kutu untuk dirinya dalam waktu lima menit. Kalau sampai belum dapat maka Arthan akan melemparkan mereka ke dalam kolam buaya.


Mendengar ancaman yang tuannya berikan, anak buah Arthan pun berlari kocar-kacir untuk segera mendapatkan kutu yang tuannya inginkan selama lima menit.


"Dan beres, kita tunggu saja mereka lima menit lagi juga bakalan sampai." ucap Arthan dan duduk kembali digelar sofa dengan santai.


"Gilak kamu bang, mana ada orang bisa mendapatkan hewan sekecil kutu dalam waktu lima menit." tak habis pikir Ghibran.


"Kita lihat saja nanti." Balas Arthan santai dan memejamkan matanya.


Setelah menunggu tidak sampai lima menit dua orang anak buah Arthan datang dan memberikan beberapa ekor kutu pada Arthan.


"Ini bos kutunya." ucap salah satu anak buah Arthan menyerahkan plastik bening yang berisi beberapa ekor kutu.


"Kerja bagus, silahkan kalian kembali kepada tempat kalian. Nanti kalau ada perlu lagi saya pangil kalian." ucap Arthan mengusir anak buahnya.


"Baik bos kami permisi dulu." pamit mereka berdua dan pergi meninggalkan Arthan dan Ghibran.


"Gilak, cepet banget mereka dapatnya." kagum Ghibran.


"Bener kan apa kata gw, mereka gak akan berani mengingkari ucap gw." sombong Arthan.


"Ya udah ayo tunggu apa lagi, kita taruh kutunya di kepala bang Arthan." Ghibran langsung mengambil kutu yang ada di tangan Arthan dan segera mengeluarkan semuanya dan meletakkannya di kepala Arthan tanpa memikirkannya terlebih dahulu.


"Lo gila, kenapa lo taruh di sini semua bodoh." Arthan pun dengan cepat mengacak acak rambutnya agar kutu yang ada di kepalanya jatuh.


Tapi itu semu nihil, karena yang ada kutunya malah semakin berjalan dengan cepat di kepala Arthan.


"Dasarnya Ghibran brengs*k, ini gimana cara ngambil semua kutunya." umpat Arthan kesal.


"Ya maap bang, gw kan gak tahu." balas Ghibran santai tak merasa bersalah sedikitpun.


"Ya udah sekarang cepat cariin kutunya di kepala gw, sebelum mereka makin menyebar." suruh Arthan.


Ghibran pun segera mencari kutu kutu yang baru saja dia letakkan di kepala Arthan.


"Oh ini bang ini."


"Ini gimana cara ngambilnya."


"Lah kok gak kena."


"Yah mati deh."


Heboh Ghibran tak satupun kutu yang berhasil dia tangkap. Saat berhasil mendapatkan satu, kutu itu malah mati karena Ghibran mengambilnya dengan kuku. Sehingga membuat kutu itu gepeng.


"UDAH STOP." bentak Arthan pada Ghibran karena bukannya mendapatkan kutu, Ghibran malah membuat kepalanya semakin pusing.


Ghibran pun melepaskan tangannya dari kepala Ghibran.


"Jangan marah dong bang, nanti makin jelek loh." Ghibran segera menutup mulutnya karena sudah keceplosan mengatai Arthan jelek.


Arthan akan merendam kepalanya di dalam air, siapa tahukan nanti kutunya kedinginan terus gak betah tinggal di kepalanya. Dan pindah deh.


-


Sementara itu di dalam kamar Aretha, dia dan Ruby tengah tertawa bahagia karena sudah berhasil mengerjai kedua cowok yang sangat menyebalkan menurut mereka.


"Hahahaha sumpah muka mereka lucu banget kalau kayak tadi." tawa Aretha.


"Bener Ret, apalagi waktu Arthan marah marah sama Ghibran." timpal Ruby.


Ya, sedari tadi mereka mengamati Ghibran dan Arthan dari lantai atas. Sebenarnya tadi Aretha sudah akan mencabut keinginannya, tapi melihat Arthan yang akan menyuruh anak buahnya untuk mencarikan kutu dan di taruh di kepalanya pun mengurungkan niatnya. Jadi mereka terus mengawasi mereka sambil menahan diri agar tidak tertawa.


"Tapi kasian juga si Arthan, pasti sekarang dia lagi marah marah di dalam kamarnya." ucap Ruby kasian pada Arthan.


"Bener juga sih apa yang kami bilang, aku keterlaluan gak sih?" ucap Aretha merasa bersalah.


"Enggak kok Ret, itu memang pantas buat Arthan. Kan dia memang sangat menyebalkan." balas Ruby.


"Tapi kasian dia." sedu Aretha.


Entah mengapa sekarang Aretha malah merasa bersalah dan ingin menangis. Padahal tadi saat dia mengerjai Arthan dan Ghibran dia fine fine aja.


"Terus kita harus ngapain, bantuin dia ngambil kutu gitu?" kesal Ruby, bagiamana bisa tadi aja Aretha yang nyuruh nyuruh, trus sekarang malah dia yang akan menangis karena kasian.


"Ya udah ayo kita turun, kita bantu bang Arthan ngambil kutunya. Kan kamu jago, dulu aja kamu sering ngambilin kutu punya tetangga kamu."


"Jangan gila deh Ret, gw gak mau ya deket deket ama dia terus." Ruby tak setuju dengan ide gila Aretha.


"Ayo dong by, emang kamu gak kasian apa sama Arthan. Nanti aku kasih kamu bonus deh." mohon Aretha.


"Bener ya?"


"Iya, bener deh."


"Ya udah ayo." setuju Ruby demi mendapatkan uang.


Mereka berdua pun turun untuk menghampiri Arthan di dalam kamarnya. Saat sampai di lantai bawah dia hanya mendapati Ghibran yang tengah tiduran di sofa, mungkin efek kelelahan sampai sampai Ghibran bisa tidur sepulas itu di sofa.


"Lo gak mau bangunin suami lo Ret?" tanya Ruby.


"Gak deh by kasian, mungkin dia kelelahan sampai sampai tertidur seperti itu."


"Mungkin sih, ya udah yuk kita cari Arthan." ajak Ruby.


Mereka pun mengetuk kamar Arthan, setelah di buka oleh Arthan mereka berdua langsung menyeret Arthan ke sofa samping Ghibran tidur.


Penampilan Arthan sangatlah menggoda bagi kaum wanita, kecuali bagi Aretha ya. Karena bagi Aretha yang menggoda hanyalah suaminya seorang.


Rambut yang masih basah, dan celana pendek yang sangat ngepres dengan bodynya. Dan kaos singlet yang melekat di tubuh bagian atasnya membuat penampilan Arthan sangatlah menggoda.


Ruby saja tadi sempat tergoda, tapi dia segera tersadar saat Aretha mengajaknya berbicara.


"Kalian mau apa sih?" tanya Arthan bingung memandang kedua wanita yang ada di hadapannya ini.


"Kamu lagi pusing mikirin ngambil kutu di kepala kamu kan?" balik tanya Aretha.


"Iya emang kenapa, ini semua gara gara kamu." balas Arthan.


"Nah makanya itu aku berniat untuk menebus kesalahanku."


"Dengan cara?" tanya Arthan dengan curiga.


Aretha dan Ruby saling pandang sebelum menjawab pertanyaan Ghibran.


...***...