
"Sembarang kamu kalau ngomong, buatnya aja baru semalam masak udah jadi." ucap Aretha.
"Jika Allah sudah berkehendak, tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini sayangku." balas Ghibran sambil mencubit pipi Aretha.
"Apaan sih kamu suka banget cubit pipi aku."
"Habisnya pipi kamu bikin aku gemas. Boleh gak sih kalau aku makan?"
"Ya jangan dong, nanti bisa habis pipi aku."
"Hhhhh kamu ini bisa saja."
"Oh iya yang, nanti toko kamu mau kamu gimana in kalau masalahnya sudah beres?" lanjut Ghibran bertanya perihal toko roti Aretha.
"Ya gak mau gimana gimana, ya tetap aku buka lah." jawab Aretha.
"Iya tahu pasti tetap kamu buka, tapi kamu gak ada keinginan gitu buat ganti nama, masak iya cuma toko roti gitu doang?" tanya Ghibran membuat Aretha berfikir.
"Bener juga apa kata kamu, ya udah nanti akan aku coba buat rundingan dulu sama Ruby." setuju Aretha.
"Kok Ruby sih, kan yang punya toko kamu. Jadi ya kamu yang ambil keputusan."
"Tapi kan aku bangun toko roti itu bersama sama dengan Ruby, jadi ya aku harus tanya dulu sama Ruby."
"Ya udah deh terserah kamu aja."
"Kenapa sih, ada yang mau kamu omongin?" tanya Aretha heran karena melihat raut wajah Ghibran yang seperti tengah kesal.
"Gak ada, lagian juga nanti pasti kamu gak setuju." balas Ghibran.
"Gak setuju apanya sih mas Ghibran ku sayang."
"Hufft... Aku tuh pengennya nama toko roti kamu jadi GA Bakery cake gitu. Kan biar sama kayak cafe punya aku GA cafe." jelas Ghibran.
"Ooh gitu, bilang dong dari tadi jangan malah marah marah gitu." ucap Aretha.
"Lah siapa juga ya marah orang aku biasa aja kok." balas Ghibran tak membenarkan perkataan Aretha.
"Itu tadi."
"Enggak sayang, aku enggak marah cuma kesel dikit aja. Tapi aku sadar sih aku gak ada hak untuk toko kamu karena itu kamu sendiri yang bangun sama Ruby sahabat kamu."
"Nah itu kamu tahu. Tapi boleh gak aku tahu GA cafe itu artinya apa?" penasaran Aretha.
"Kamu gak tahu?" tanya Ghibran dan di balas gelengan oleh Aretha.
"Astaghfirullah sayang, GA itu kepanjangan dari nama aku loh. Ghibran Arfan Alhusayn. Tapi karena kepanjangan jadi aku singkat GA saja." jelas Ghibran.
"Ooh gitu, aku kira GA itu giveaway." canda Aretha.
"Sayang serius ih jangan becanda." tak habis pikir Ghibran, bisa bisanya dalam keadaan seperti ini istri ini malah ngelawak.
"Hehehe iya iya maaf." cengir Aretha.
"Tapi karena aku sudah menikah dengan kamu, maka GA itu kepanjangan dari Ghibran Aretha." lanjut Ghibran.
"Loh?"
"Iya kan, nama aku awalannya huruf G dan nama kamu A kan jadi pas GA. Makanya tadi aku mau kamu menamai toko roti kamu jadi GA biar sama kayak cafe aku, sekaligus buat penanda hubungan kita juga." jelas Ghibran.
"Maaf ya aku tadi sempat gak ngerti maksud dari nama toko yang kamu berikan. Padahal niat kamu itu baik." ujar Aretha merasa dirinya kurang peka.
"It's oke sayang tidak apa apa, aku tahu kok kalau otak kamu itu lemot." balas Ghibran mengejek Aretha.
"Enak aja, aku pintar tauk. Cuma tadi rada Erot aja otaknya." tak terima Aretha.
"Oh ya?"
"Iya lah, kalau aku bodoh manajemen mungkin aku bisa sampai lulus kuliah." yakin Aretha.
"Kan bisa saja kamu bayar orang buat menyelesaikan tugas kamu." goda Ghibran.
"Hehehe gak gak sayang aku cuma becanda, aku percaya kok kalau calon ibu dari anak anak aku nanti ini orangnya pinter dan baik hati serta dermawan."
"Iya aku tahu kok kalau kamu berniat goda aku. Kan emang aktivitas kamu kalau goda aku." balas Aretha.
"Iih sayang ku ini pinter banget sih, jadi pengen makan deh."
"Makan mulu makanan mulu, noh di dapur kalau makan." judes Aretha.
"Oouhh istri aku sudah mulai kesal nih permirsa, mari kita lihat seberapa kuat dia dalam pertahanannya." canda Ghibran menirukan suara host di acara sepak bola.
"Ya Allah berikanlah Aretha kesabaran yang berlipat lipat ya Allah, agar Aretha mampu menghadapi suami Aretha yang sudah gila ini." doa Aretha mendramatisir.
"Enak aja aku gila, aku masih waras ya." tak terima Ghibran.
"Oh ya, masak sih kok aku gak percaya?" tantang Aretha.
Mereka berdua pun terus becanda di sana sampai adzan Maghrib berkumandang barulah mereka beranjak pergi untuk melangsungkan sholat Maghrib berjamaah di dalam kamar.
-
Tok tok tok.
Ketukan pintu sangat keras terdengar di rumah Wahyu dan Nafisah. Karena merasa terganggu Nafisah pun membuka pintu tanpa melihat dulu siapa yang sudah mengetuk pintunya dengan tidak sabaran.
"Maaf siapa ya, kok gak sopan banget ketuk pintu rumah orang kayak gitu?" tanya Nafisah pada tiga orang yang berdiri di depan pintu rumahnya.
"Benar ini rumah ibu Nafisah?" tanya salah satu di antara ketiga orang itu.
"Iya dengan saya sendiri." jawab Nafisah.
"Mari anda silahkan ikut kami, karena tuan kami sudah menunggu anda." ajak orang itu.
"Ikut kalian, emang kalian siapa kenal aja enggak." balas Nafisah menolak ajakan orang itu.
"Kalau anda tidak bisa kami ajak baik baik, maka dengan terpaksa kami akan mengunakan cara kasar." ancam salah satu dari mereka.
"Mas, mas Wahyu." pangil Nafisah ketakutan.
Nafisah pun akan masuk ke dalam rumah lagi, tapi pintu rumah langsung di tahan oleh orang yang tubuhnya paling besar sendiri.
"Andai sudah tidak bisa kabur lagi nona." ucap mereka dan mencekal tangan Nafisah.
"Lepas, lepasin aku." berontak Nafisah.
"Ada apa sih sayang kenapa kamu teriak teriak?" tanya Wahyu yang baru saja dari belakang.
"Astaghfirullah hallazim kalian siapa, kenapa kalian tangkap istri saya seperti itu. Lepaskan dia." kaget Wahyu yang sudah melihat Nafisah di ikat tangannya dan di beri lakban pada mulutnya agarwal tidak berisik.
"Maaf tuan kami tidak ada urusan dengan tuan, tapi kalau tuan mau ikut kami silahkan. Kami menangkap nona Nafisah atas perintah dari tuan Arthan." Ucap salah satu dari mereka.
"Arthan?" beo Wahyu mencoba mengingat nama itu.
"Arthan temannya Ghibran?" tanya Wahyu setelah mengingat nama itu.
"Iya tuan." jawab mereka.
Nafisah yang mendengar nama Arthan pun panik, sampai sampai keringat dingin sudah membasahi pelipisnya karena saking paniknya.
"Ada masalah apa sampai dia mau menangkap istri ku, bukankah masalah yang kemarin sudah selesai?" tanya Wahyu.
"Kami tidak bisa menjelaskannya tuan, untuk lebih jelasnya tuan bisa ikut kami ke Jakarta." balas mereka.
"Ya udah saya siap siap dulu." Wahyu tak mau banyak bertanya lagi.
Dia yakin kalau sampai Arthan menangkap Nafisah berarti ini masalahnya sangat serius.
Sedangkan Nafisah dia sudah tidak bisa berkutik lagi. Bahkan kakinya juga sudah di ikat mengunakan tali agar dia tidak bisa kabur.
...***...