
"Mungkin saat ini momen yang tepat untuk Abi bicarakan ini sama Umi dan Aretha."ucap Abi Umar membuat semua orang menatap Abi Umar.
Aretha dan Umi Fatimah dengan pandangan yang penuh tanya. Sedangkan Arthan dengan tatapan memohon agar tidak mengharapkannya, dan Ghibran yang hanya bersikap biasa saja.
"Ini sudah waktunya Arthan." Abi Umar membalas tatapan Arthan dengan ucapannya, yang membuat Umi Fatimah dan Aretha semakin penasaran.
"Maksud Abi apa sih?" tanya Aretha bingung.
"Jadi sebenarnya Arthan itu adalah saudara kembar kamu." ucap Abi Umar to the poin.
Mereka semua terdiam, Aretha dan Umi Fatimah diam dan mencerna apa yang Abi Umar katakan. Sedangkan Arthan hanya menunduk takut nanti kalau Umi Fatimah dan Aretha tak mau menerima dan marah kepadanya.
"Maksud Abi Arthan itu adalah anak kita yang hilang waktu itu?" tanya Umi Fatimah memastikan takut salah menangkap ucapan Abi Umar.
"Iya Umi, Arthan adalah saudara kembar Aretha yang sudah di culik beberapa tahun yang lalu." jelas Abi Umar.
Air mata Umi Fatimah pun menetes tanpa disuruh. Umi Fatimah segera berhambur memeluk Arthan dengan erat sambil menangis tersedu-sedu.
"Arthan anakku... huhuhu...."
"Kamu kemana saja nak, kita semua mencaci kamu selama ini. Maafkan Umi yang tidak bisa menjaga kamu. Bahkan tadi saat kamu ingin memeluk Umi saja Umi marahin kamu, maaf kan Umi nak, hiks hiks hiks...." tangis sedu Umi Fatimah sambil memeluk Arthan.
"Arthan selalu ada kok di sekitar Umi, Arthan juga minta maaf karena tidak langsung bilang sama kalian dari jauh jauh hari. Ini semua bukan salah Umi, tapi ini udah takdir hidup Arthan." balas Arthan juga menangis, tapi Arthan tidak sampai menangis pilu, bisa rusak nanti images nya.
"Sayang...." pangil Ghibran pada Aretha yang sedari tadi hanya diam saja.
"Hei." pangil Ghibran lagi.
"Kenapa kalian semua tutupin ini dari Aretha." ucap Aretha datar dengan pandangan kosong.
Umi Fatimah pun melepaskan pelukannya pada Arthan saat mendengar suara Aretha.
"Kenapa Hah, kenapa kalian harus menyembunyikan hal sebesar ini dari Aretha." marah Aretha dengan mata yang berkaca-kaca.
"Sayang kamu tenang dulu, ingat kamu lagi hamil." ucap Ghibran berusaha menenangkan Aretha.
"Kamu tahu semua ini kan mas, kenapa kamu gak pernah bilang sama aku kalau aku punya saudara kembar, kenapa Hah!!" marah Aretha pada Ghibran.
"Aku gak bermaksud sembunyikan ini dari kamu." balas Ghibran berusaha tetap tenang agar tidak terpancing emosinya.
"Terus ini apa, kalian semua tahu dan hanya aku yang gak tahu kalau aku punya saudara kembar. Aku terlihat seperti orang bodoh di sini."
"Kanapa kalian tega, kenapa... hiks hiks hiks...." akhirnya tangis Aretha pecah juga.
Ghibran langsung membawa Aretha ke dalam pelukannya. Sedangkan Umi Fatimah langsung berhambur memeluk Abi Umar. Untung saja di rumah Ghibran pada pelayan sedang sibuk di lantai bawah, jadi tidak mendengar kegaduhan dari lantai atas.
"Hiks kalian jahat hiks hiks...."
bug bug bug.
Aretha memukuli dada Ghibran untuk menyalurkan amarahnya, dan Ghibran hanya membiarkannya saja, toh pukulan Aretha juga tidak memberikan efek sakit sama sekali.
"Retha...." pangil Arthan menghampiri Aretha dan duduk di sebelahnya.
"Abang minta maaf sama kamu, ini semua kemauan Abang. Jangan salahin suami kamu. Abang yang minta sama Abi dan Ghibran agarwal tidak ngasih tahu kalian semua karena ini demi kebaikan kita semua. Abang minta maaf." ucap Arthan dan menggambil Aretha dari pelukan Ghibran ke pelukannya.
Ghibran pun membiarkan saja, sebenarnya sih dia tidak rela tapi mau bagaimana lagi, toh Arthan juga kakaknya Aretha, sekaligus kakak iparnya.
"Hiks Abang jahat hiks hiks...." balas Aretha.
"Iya Abang jahat, Abang minta maaf. Aretha boleh hukum Abang sepuas Aretha asal Aretha mau memaafkan Abang."
Arthan memberikan kecupan di kening Aretha yang membuat mata Ghibran melotot.
Ingin sekali Ghibran memukul bibir Arthan yang dengan mudahnya memberikan kecupan ke istri tercintanya. Tapi dia urungkan saat melihat Aretha yang bisa tenang dalam pelukan Arthan.
"Abang minta maaf ya." ucap permintamaafan Arthan lagi.
"Abang janji gak akan tinggalin Aretha lagi?" tanya Aretha memandang Arthan dengan mata sembabnya.
"Iya Abang janji gak akan tinggalin adek Abang yang cantik ini, kecuali maut yang menjemput Abang." janji Arthan.
"Abang gak boleh ngomong gitu, Aretha gak suka."
"Iya iya Abang minta maaf, sekarang adek gak boleh nangis lagi ya."
Aretha mengganguk dalam pelukan Arthan. Dan Aretha juga semakin mengeratkan pelukannya di tubuh atletis Arthan yang membuat hati Ghibran panas.
"Ayang kamu kok tega sih, anggurin suami tampan kamu." protes Ghibran.
"Diam, kamu gak di ajak di sini, salah sendiri kamu jahat sama aku." balas Aretha yang membuat Ghibran langsung diam karena takut kalau nanti Aretha menyuruh dia tidur di luar kalau kebanyakan omong.
"Sini kamu sama Abi." ajak Abi Umar pada menantunya.
Dan dengan senang hati Ghibran menghampiri Abi Umar dan Umi Fatimah. Ghibran duduk di samping Abi Umar dan memeluk Abi Umar dengan erat begitu juga Umi Fatimah. Sekarang posisi Abi Umar berada di tengah tengah antara Ghibran dan Umi Fatimah yang memeluk dirinya dengan erat.
Melihat itu seketika Aretha melepaskan diri dari pelukan Arthan karena dia cemburu melihat suaminya yang malah memeluk Abi nya dari pada dirinya.
"Babe kok kamu tega sih sama aku. Kenapa kamu lebih memilih peluk Abi dari pada peluk aku." kesal Aretha yang seketika membuat semua orang menepuk jidat mereka masing-masing.
"Untung lo adek gw, coba kalau bukan udah gw gantung di atas Monas." ucap Arthan.
"Abang kok ngomong gitu sih, katanya tadi udah minta maaf sekarang kok mau jahatin Aretha sih." cemberut Aretha.
"Iya dah terserah lo, capek gw mau tidur." Arthan berdiri hendak pergi dari sana.
"Bi, mi Arthan ke kamar dulu." pamit Arthan dan di angguki oleh Abi Umar serta Umi Fatimah.
"Babe...." pangil Aretha manja sambil merentangkan kedua tangannya minta di gendong.
"Apa?" cuek Ghibran.
"Gendong." jawab Aretha sambil mengedip edipkan matanya sehingga membuat wajahnya terlihat sangat imut.
"Katanya aku tadi di suruh diam dan gak di ajak di sini." balas Ghibran mengulang perkataan Aretha tadi.
"Maaf...." Aretha mengerucutkan bibirnya dan mengedip edipkan matanya sehingga membuat Ghibran dan kedua orang tua Aretha gemas sendiri melihatnya.
"Udah nak sama kamu gendong dia, gak tahan Umi lihatnya kalau kayak gitu." suruh Umi Fatimah.
Ghibran pun menghampiri Aretha dan membawa Aretha dalam gendongannya.
"Ghibran sama Aretha ke kamar dulu mi, bi." pamit Ghibran sambil menggendong Aretha.
"Iya sana kamu manjain bayi tua kamu, biar gak cemberut kayak gitu." balas Abi Umar.
Ghibran pun pergi dari sana menuju kamarnya dengan menggendong Aretha yang berat badannya sudah bertambah setengah dari berat badan Aretha yang dulu.
Sebenarnya Ghibran mau mengeluh, tapi dia tak mungkin mengatakan kalau istrinya berat bisa bisa nanti dia di tendang ke segitiga Bermuda.
...*** ...