AG: Aretha Ghibran

AG: Aretha Ghibran
part 117



"Mas aku kok khawatir ya sama Ruby." ucap Aretha pada Ghibran yang tengah fokus menatap laptop di pangkuannya.


"Nanti kita ke sana setelah mas cek laporan cafe dulu." balas Ghibran tanpa mengalihkan perhatiannya dari laptop di pangkuannya.


"Iih itu mah masih lama mas, bagiamana kalau aku pergi sama bang Arthan aja." usul Aretha.


"No." tegas Ghibran dan mengalihkan laptop di pangkuannya ke meja.


"Lah, kenapa?" heran Aretha.


"Ayo kamu siap siap, aku antar cari Ruby sekarang." suruh Ghibran.


Tak lagi mempermasalahkan hal yang tadi, Aretha segera masuk ke dalam kamar mandi untuk membasuh wajahnya dan berganti pakaian dasternya dengan gamis hitam.


Begitu juga dengan Ghibran, dia bersiap siap sebelum menggantarkan istrinya pergi dengan memakai celana jeans hitam dan kaos putih saja sambil memakai topi hitam di kepalanya.


"Udah yuk." ajak Aretha.


Mereka berdua pun keluar dari kamar dan turun menuju lantai satu. Di sana dia berpapasan dengan Arthan yang baru saja keluar dari kamarnya yang berada di lantai satu.


"Abang mau kemana?" tanya Aretha pada Arthan.


"Mau nyamperin Ruby sekalian cari HP baru." jawab Arthan.


"Lah kan belum lama Abang beli HP baru, masak iya sekarang mau beli lagi?" tanya Aretha.


"Iya hp Abang ilang waktu kemarin nyari Ruby."


"Kok bisa?"


"Ya bisa, orang takdir." balas Arthan santai.


"Udah jadi nyari Ruby gak?" tanya Ghibran menengahi perdebatan antara saudara kembar beda kelamin ini.


"Ya jadilah." balas Arthan dan Aretha barengan.


"Kompak bener." ucap Abi Umar yang baru datang bersama Umi Fatimah.


"Abi, Umi." sapa Ghibran, Aretha dan Arthan.


"Kalian mau kemana?" tanya Abi Umar.


"Kita mau cari Ruby, soalnya dari kemaren gak bisa di hubungi, kita khawatir." jawab Aretha.


"Ya udah kalian hati hati ya, Ghibran jaga istri kamu, dan Arthan jaga adik kamu." ucap Umi Fatimah.


"Iya mi, kalau gitu kita pamit dulu, Assalamualaikum." salam mereka bertiga dan salim kepada kedua orang tua mereka.


"Abang gak mau ikut mobil kita?" tanya Aretha saat mereka sudah berada di parkiran.


"Gak deh, nanti yang ada gw jadi obat nyamuk kalian berdua. Abang bawa mobil sendiri aja." jawab Arthan dan masuk ke dalam mobil sport miliknya sendiri.


"Ya udah yuk." ajak Ghibran dan membukakan pintu mobil untuk Aretha, setelah itu baru dia masuk ke mobil dan menjalankan mobilnya.


"Kita mau cari Ruby ke mana?" tanya Ghibran pada Aretha.


"Kalau ke rumahnya kayaknya dia udah pergi deh, mending ke toko aja." jawab Aretha dan di angguki Ghibran.


Ghibran segera melajukan mobilnya menuju toko AG bakery di ikuti Arthan di belakang mobil Ghibran.


-


Sementara di posisi Ruby, dia baru saja mengaktifkan ponselnya yang sedari kemaren mati. Saat sudah menyala ternyata banyak panggilan tak terjawab dari beberapa orang. Yang paling sering menghubunginya adalah Aretha dan Arthan. Tapi Arthan lah yang paling banyak, bahkan sampai ratusan panggilan tak terjawab dari dia.


"Hufft... Gw harus gimana nanti kalau ketemu sama dia, apakah harus pura pura gak kenal atau pura pura tak ada rasa sama dia." bingung Ruby pada dirinya sendiri.


Ruby membuka akun Wha**sApp miliknya dan membaca satu persatu pesan yang Arthan kirimkan kepadanya.


Mulai dari permintaan maaf, dan kata kata kekhawatiran yang di tujukan kepada dirinya karena dia tak kunjung membalas pesan Arthan.


Setelah itu tanpa membalasnya, Ruby beralih membuka room chat dia dan Aretha. Di sana juga sama berisi banyak pesan yang mengkhawatirkan dirinya karena tak kunjung datang dan membalas pesan Aretha.


Sorry Ret kemarin ponsel gw mati dan gw lupa gak ngabarin lo kalau gw gak bisa datang ke acara lo kemaren. Gw gak papa kok lo gak usah khawatir, sekarang gw lagi ada di toko jadi lo gak usah khawatir lagi.


Isi pesan yang langsung Ruby kirimkan ke Aretha.


Setelah itu Ruby kembali menyibukkan dirinya dengan membuat adonan kue kue agar tidak kepikiran lagi masalah Arthan kemaren.


-


Klunting.


Bunyi nada pesan di ponsel Aretha, dengan cepat dia membukanya karena berharap kalau itu balasan dari Ruby. Dan ternyata benar, itu pesan dari Ruby sahabatnya. Dengan cepat Aretha membaca pesan Ruby.


"Syukurlah kalau Ruby tidak kenapa kenapa." ucap syukur Aretha.


"Kenapa yang?" tanya Ghibran.


"Ini Ruby ngabarin kalau di baik baik saja dan sekarang lagi ada di toko." jawab Aretha menjelaskan.


"Tuh kan apa yang aku bilang kemaren, kalau Ruby itu gak bakalan kenapa kenapa. Orang dia aja kuat kayak gitu mentalnya." balas Ghibran.


"Ya tapi kan tetap aja, aku sebagai sahabatnya khawatir kalau dia gak ada kabar."


"Ya udah sekarang kamu udah tenang kan setelah dapat kabar dari dia?"


"Belum, sebelum aku ketemu langsung sama dia." balas Aretha sambil nyengir menampilkan giginya yang rapi.


" Iya deh yang terserah kamu saja , asal kamu seneng aku juga ikutan seneng." pasrah Ghibran.


"Ini mereka berdua lagi ngapain sih, lelet banget bawa mobilnya." gruntu Arthan dari dalam mobilnya.


Bagaimana tidak, tadi saat masih baru berangkat Ghibran melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, tapi sekarang apa, Ghibran malah mengurangi kecepatannya.


"Awas aja kalau mereka lagi mesra mesraan di mobil, untung aja tadi gw nolak ajakan Aretha." lanjut Arthan.


"Nih kalau gw gak ada kepentingan sama mereka, udah gw tinggal mereka berdua." kesal Arthan.


Tin tin tin.


"Woy cepet, jangan lelet." teriak Arthan dari samping Ghibran.


Ghibran membuka kaca jendela mobilnya dan tersenyum mengejek pada Arthan.


"Bang Arthan kenapa sih?" tanya Aretha heran.


"Mungkin gila gara gara mikirin Ruby." balas Ghibran santai.


"Kalau mereka berdua sampai punya hubungan, aku orang pertama yang bakalan memberikan restu buat mereka berdua." ucap Aretha yang setuju dengan hubungan Ruby dan Arthan.


"Kalau kamu gimana?" tanya Aretha.


"Kalau aku sih gimana mereka berdua saja, kalau mereka berdua ada hubungan yang aku dukung kalau gak ada yang gapapa." jawab Ghibran.


"Nanti kalau mereka berdua nikah aku minta uang ya sama kamu buat kado mereka." pinta Aretha.


"Lah, gak salah tuh. Kan uangku semuanya ada di kamu jadi yang ada ya aku yang minta uang." balas Ghibran tak habis pikir.


"Ya kan ini juga masih uang kamu, jadi aku harus minta izin sama yang punya uang." balas Aretha.


"Kan aku sudah bilang sama kamu, terserah uangnya mau kamu buat apa. Asal kamu gunain buat hal yang bermanfaat."


"Makasih babe, makin cinta deh." memeluk lengan Ghibran.


Arthan yang sedari tadi melirik tingkah laku mereka berdua pun merasa gerah, padahal AC di mobilnya sudah menyala, tapi entah kenapa dia merasa kepanasan.


"Beda mobil aja gw masih jadi obat nyamuk, apalagi satu mobil." gruntu Arthan.


...*** ...