AG: Aretha Ghibran

AG: Aretha Ghibran
part 124



"Kita semua masih belum bisa temuin Arthan." ucap Abi Umar yang seketika membuat Umi Fatimah menangis kembali.


"Kenapa bi, kenapa harus anak kita yang menanggung semua ini. Kenapa gak Umi aja." Tangis Umi Fatimah.


"Ssttt... Umi jangan ngomong gitu Abi jadi ikutan sedih. Kita terus berdoa saja semoga Arthan dan Ruby di berikan keselamatan di luaran sana. Percaya sama Allah, Allah gak akan memberikan cobaan di luar kemampuan hambanya." Abi Umar merangkul pundak istrinya agar tenang.


"Bi, mi Ghibran pamit ke kamar dulu ya mau lihat Aretha. Nanti kalau adiknya Ruby sama Adam sudah sampai tolong pangil Ghibran di kamar." pamit Ghibran yang akan memberikan ruang untuk kedua mertuanya untuk saling berbicara dan menenangkan dirinya. Terlebih dia juga sudah kangen dengan istrinya yang manja itu.


"Iya nak kamu mendung istirahat, biar besok kita bisa lanjutin pencarian Arthan sama Ruby." balas Abi Umar.


"Kenapa dengan bang Arthan dan Ruby?" tanya seseorang yang suaranya sangat Ghibran kenal. Siapa lagi kalau bukan Aretha.


"Sayang...." ucap Ghibran yang panik melihat wajah Aretha sudah penuh dengan air mata.


"Jawab aku, kenapa sama bang Arthan dan Ruby, mereka kenapa mas?" tanya Aretha dengan nada yang keras.


"Dengerin mas dulu, kamu jangan marah seperti ini gak baik buat kandungan ku." balas Ghibran agar Aretha tenang.


"Jawab aku mas, mereka kenapa... huhuhu...." tangis Aretha.


"Mereka kenapa mas, kenapa semua bohongin Aretha dari tadi, kenapa... hiks hiks...."


"Kamu jangan nangis ya, nanti mas ceritakan semuanya sama kamu. Tapi mas minta kamu jangan nangis ya, mas jadi ikutan sedih nanti." ucap Ghibran agar Aretha tenang.


Ghibran mengelap air mata yang ada di pipi Aretha dengan tangannya langsung.


"Kita ke kamar ya, mas jelasin di sana nanti." ajak Ghibran dan di angguki Aretha.


Ghibran pun pamit ke Umi Fatimah dan juga Abi Umar sambil merangkul pundak Aretha dan membawanya pergi ke kamar mereka berdua.


Sampai di kamar Ghibran menjelaskan semua perihal kecelakaan yang di alami oleh Arthan dan juga Ruby. Dan hal itu semakin membuat Aretha makin terisak dalam pelukan Ghibran.


"Bang Arthan... hiks hiks, abang di mana?" tangis Aretha dalam pelukan Ghibran.


"Udah ya jangan nangis, kan tadi udah janji kalau mas ceritakan semuanya kamu gak bakalan nangis."


"Sekarang tidur ya, ini sudah malam." ajak Ghibran.


Ghibran menata bantal untuk membuat tidur Aretha agar nyaman. Setelah itu dia membaringkan tubuh Aretha di sana.


"Gimana, udah nyaman?" tanya Ghibran seperti malam malam sebelumnya dan di balas anggukan oleh Aretha.


"Kamu tidur ya, kamu gak boleh kecapekan, apalagi stress. Nanti kalau kamu stress dedek bayinya jadi ikutan stress juga kayak bundanya." Ghibran mengelusi perut buncit Aretha.


Duk.


"Auw...." ringis Aretha karena mendapatkan serangan dari kedua anaknya yang masih berada dalam kandungan.


"Dedek jangan nakal dong, kasian bundanya jadi kesakitan." Ghibran mengajak anaknya yang masih berada dalam perut Aretha berbicara.


Duk.


Sepertinya anak anak Ghibran mengerti kalau ayahnya lagi mengajak mereka ngobrol hingga mereka dengan kompak merespon ucapan Ghibran dengan tendangan.


"Sepertinya mereka tahu mas kalau kamu sedang marahin mereka." ucap Aretha.


Meskipun dia merasa kesakitan, tapi tak bisa di tutupi kalau hatinya juga merasakan senang saat kedua buah hatinya dengan aktif menendang nendang perutnya. Aretha jadi semakin tidak sabar ingin melihat kedua anaknya langsung dan ingin cepat cepat bermain sama mereka.


"Iya kayak bundanya, kalau di bilangin langsung marah marah gak jelas." balas Ghibran sambil menempelkan sebelah telinganya di perut Aretha.


"Auw... sakit yang." ringis Ghibran karena Aretha menjewer telinganya.


"Makanya kalau bicara jangan suka ngada ngada." balas Aretha.


"Iya deh iya tuan putri, maaf kalau Baginda raja mu ini salah." ngalah Ghibran.


"Iya emang salah."


"Udah sekarang kamu tidur, besok harus bangun pagi dan masakin masakan yang enak buat aku." suruh Ghibran.


"Oke, siapa takut."


"Tapi elusin." lanjut Aretha manja.


"Iya sini, dedeknya pasti kangen sama ayahnya." Balas Ghibran dan langsung mengelus perut buncit Aretha sambil sesekali dia ajak ngobrol kedua anaknya, meskipun yang menjawab adalah ibunya.


Setelah di rasa Aretha sudah tertidur Ghibran pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang sudah lengket dan agak bau. Setelah selesai dia segera turun untuk menemui Adam dan Haikal yang baru saja sampai di rumahnya.


"Ayo silahkan masuk." ucap Ghibran mempersilahkan masuk Adam dan juga Haikal.


"Assalamualaikum." salam Haikal Dan juga Adam.


"Waalaikum salam." balas Ghibran.


"Halo Haikal gimana kabar kamu?" tanya Ghibran pada Haikal.


"Alhamdulillah baik kak, kalau kakak?" balik tanya Haikal.


"Kakak juga Alhamdulillah baik. Kamu sudah makan malam belum?" tanya Ghibran di balas gelengan kepala oleh Haikal.


Memang sedari sore Haikal belum makan apapun karena biasanya Ruby akan membawakan makanan untuk Haikal sepulang dari kerja. Kalau untuk makan siang dia biasanya makan makanan sisa sarapan.


"Seriusan kamu belum makan?" tanya Adam tak percaya dan di balas gelengan kepala oleh Haikal.


"Kenapa kamu gak bilang sama kak Adam, tahu gitu tadi kakak ajak kamu makan di luar." lanjut Adam.


"Udah jangan lo ajak ngobrol mulu kasian dia udah kelaparan. Lo mau makan juga gak?" tawar Ghibran.


"Boleh lah." balas Adam.


"Ya udah ayo kita ke ruang makan." ajak Ghibran.


Mereka pun makan dengan Haikal yang makan sangat lahap. Mungkin kalau Haikal tahu kakaknya kecelakaan dia tidak akan seenak itu makannya. Tapi biarlah seperti itu untuk sekarang biar Haikal tidak bersedih.


"Ini kamar untuk Haikal selama tidur di sini, biasanya ini yang tempatin kak Ruby. Tapi karena sekarang Haikal yang menginap di sini jadi Haikal yang bakal tidur di kamar ini." ucap Ghibran menggantarkan Haikal ke kamar yang biasa di tempatin Ruby.


"Makasih kak, kamarnya besar.' balas Haikal dan memuji kamar yang akan dia tempati.


"Kamu beranikan tidur sendiri?" tanya Ghibran.


"Berani kok kak, kan biasanya Haikal juga tidur sendiri di rumah." jawab Haikal.


"Ya udah sana kamu tidur, nanti kalau kamu ada perlu apa apa kamu tinggal pangil kak Adam yang kamarnya ada di sebelah kanan kamar kamu."


"Iya kak, makasih sudah mengijinkan Haikal buat tinggal di sini."


"Iya sama sama, udah sana kamu tidur biar besok kalau sekolah tidak kesiangan." suruh Ghibran dan langsung di angguki oleh Haikal.


"Assalamualaikum kak, selamat malam." salam Haikal sebelum berpisah dengan Ghibran.


"Waalaikum salam Ghibran, selamat malam juga." balas Ghibran.


Setelah memastikan Haikal masuk ke kamarnya, Ghibran pun pergi menuju ruang kerjanya yang sudah ada Adam yang menunggunya sehabis makan malam tadi.


"Sorry harus buat lo nunggu lama." ucap Ghibran yang merasa tidak enak pada sahabatnya.


"It's oke, apa sih yang enggak buat pak bos." balas Adam.


"Bisa aje Lo."


"Oh iya gimana, apa lo ada ide buat temuin bang Arthan?" tanya Ghibran.


"Entahlah gw juga bingung, soalnya kalau pencarian di dalam air itu agak sulit." jawab Adam.


"Iya juga sih, gw tadi ikut dalam pencarian aja melihat banyak sekali halangan halangan yang ada di sungai. Seperti debit air naik dan juga kedalaman sungai yang tidak menentu sehingga menyulitkan pencarian ini."Balas Ghibran yang setuju dengan apa yang di ucapkan oleh Adam.


"Ehh gw lupa mau tanya sama Lo."


"Tanya apa?" balas Ghibran.


"Di mobil Arthan ada GPS nya gak, kalau ada kita bisa melacaknya?" tanya Adam.


"Kayaknya sih ada, soalnya gw pernah di kasih saran sama bang Arthan untuk kasih GPS di mobil aku buat jaga jaga kalau suwaktu waktu di perlukan." jawab Ghibran mengingat usulan dari Arthan beberapa waktu lalu.


"Nah itu, kita coba aja lacak keberadaan mobilnya dulu." ide Adam.


"Ide yang bagus tuh."


...***...