AG: Aretha Ghibran

AG: Aretha Ghibran
part 86



"Woy kalian mau ngapain?" panik Arthan sampai membangunkan Ghibran yang sedang tidur.


"Kalian ngapain?" tanya Ghibran sambil mengucek matanya.


Lihatlah sekarang Aretha tengah mencekal kedua tangan Arthan, sedangkan Ruby sibuk mengikatnya. Tak lupa mereka juga mengikat kaki Arthan agar dia tidak bisa kabur.


"Kamu harus bantuin kita, Ruby akan mengambil kutu dari kepala bang Arthan. Tapi kita harus mengikat bang Arthan agar dia tidak banyak gerak dan kabur." jelas Aretha membuat Ghibran menatap iba pada Arthan.


"Kasian banget nasib lo bang."


"Ini semua gara gara lo."


Ucap mereka dalam hati melalui tatapan mata mereka.


Setelah di rasa Arthan tak bisa gerak lagi, Ruby pun segera naik ke atas sofa dan duduk di sandaran sofa agar memudahkan dia dalam mencari kutu di kepala Arthan.


Arthan sudah tak bisa berkutik lagi. Dia hanya pasrah menerima semua cobaan ini. Bagi Arthan lebih baik dia menghadapi seribu musuh dari pada harus menghadapi kedua wanita yang ada di depan dan di belakangnya.


Ruby menyuruh Arthan menunduk, melihat ke atas, ke kira dan je kanan. Bahkan Ruby juga kalau mengambil kutu sambil mencabut rambut Arthan juga sehingga membuat Arthan mengaduh kesakitan.


"Tahu gini gw gak akan lagi lagi deh berurusan ama mereka berdua." batin Arthan menangis.


"Mana ponsel kamu." pinta Aretha pada Ghibran.


"Mau ngapain?" heran Ghibran tapi tetap memberikan ponselnya pada Aretha.


Aretha mengotak atik ponsel Ghibran dan membuka m-banking, setelah itu dia memasukkan nomor rekening Ruby dan mengetikkan nominal di sana dalam jumlah yang begitu besar.


"Kamu mau ngapain itu?" tanya Ghibran hendak mengambil ponselnya dari tangan Aretha tapi Aretha menahannya.


"Mau tidur di luar?" ancam Aretha membuat Ghibran takut dan membiarkan saja Aretha melakukan apapun pada ponselnya.


"Buat apa sih?" kepo Ghibran setelah Aretha mengembalikan ponselnya.


"Transfer ke Ruby." jawab Aretha santai.


"Buat apa?"


"Buat bonus karena dia sudah membantu kamu mengambil kutu dari kepala bang Arthan." jelas Aretha.


"Emang tadi kamu transfer berapa ke dia?" tanya Arthan sambil melihat data pengeluaran yang ada di m-banking miliknya.


"Gak banyak kok, cuma dua puluh lima juga aja."


Apa, gak banyak kata Aretha. Emang sih kakak sama adik itu sama aja gak ada bedanya.


"Apa." kaget Ghibran.


Sedangkan Ruby dengan kasar dia menjambak rambut Arthan.


"Astaghfirullah hallazim ya Allah ampunilah dosa Arthan ya Allah, ini sangat menyakitkan." doa Arthan sambil meringis kesakitan.


"Ehh sorry sorry aku gak sengaja." ucap Ruby meminta maaf.


"Udah udah kepala gw makin pusing." dengan sekali gerakan Arthan sudah bisa membuka pengikat tali yang ada di tangannya.


Setelah tangannya terbebas sekarang giliran membuka pengikat tali di kakinya. Hal itu semua tak luput dari perhatian Ruby dan Aretha. Mereka berdua terpesona dengan aksi Arthan.


"Mingkem nanti lalernya masuk loh." sindir Arthan pada Ruby yang mulutnya terbuka menganga.


Sedangkan Ghibran menutup mata Aretha dengan tangannya agar tidak terus terusan menatap Arthan. Suami yang posesif, masak terpesona sama abangnya sendiri aja cemburu.


"Apaan sih kamu, aku gak bisa liat ini." ucap Aretha menyuruh Ghibran agar melepaskan tangannya dari matanya.


Ghibran pun melepaskan tangannya dan menatap Arthan dengan tajam.


"Apa, jangan salahin gw kalo bini lo terpesona sama gw. Makanya jadi cowok tuh yang kuat." sombong Arthan.


"Cih, gitu doang gw juga bisa." decih Ghibran.


"Arthan kalau kamu tadi bisa buka sendiri kenapa kamu gak kabur aja dari tadi?" tanya Ruby.


Blus.


Seketika semburat warna merah hadir di pipi Ruby membuat Ruby malu sendiri.


Arthan pun pergi dari sana menuju kamarnya untuk mengistirahatkan tubuhnya yang terasa sangat pening kepalanya.


"Ret." pangil Ruby.


"Kenapa by?" balas Aretha.


"Kenapa lo transfer banyak banget uangnya, uang ku aja masih banyak." polos Ruby.


"Udah santai aja, kalau lo bingung buat habisin mending lo ajak si Haikal buat main di mall." usul Aretha. Haikal itu nama adiknya Ruby yang sekarang sudah kelas enam SD dan akan segera lulus.


"Lagian juga uang segitu juga gak akan bikin mas Ghibran bangkrut, iya gak bang?" lanjut Aretha.


"Hahahaha iya." tawa sumbang Ghibran.


"Iya dia gak bangkrut, tapi dia nanti bisa tekor. Karena tadi yang Aretha pakai buat transfer ke Ruby itu bukan uangnya sendiri tapi uang di cafe. Kalau uangnya sendiri bukan ada di ponselnya, tapi ada di ponsel Aretha.


Emang dah Aretha itu paling the best, udah tahu semua uang suaminya dia yang pegang tapi masih aja minta uang pada Ghibran. Padahal kan setiap dapat uang Ghibran selalu memberikan semuanya pada Aretha.


"Ya udah deh, makasih ya." ucap Ruby di balas senyuman dan anggukan oleh Aretha.


"Mas." pangil Aretha sambil bergelayut manja di lengan Ghibran.


"Kenapa hmm?"


"Aku mau makan nasi goreng buatan kamu boleh?" pinta Aretha dengan wajah menggemaskan sehingga sulit buat Ghibran untuk menolaknya.


"Ya udah kamu tunggu di sini dulu ya, biar aku buatin." balas Ghibran akan beranjak menuju dapur tapi langsung di tahan oleh Aretha.


"Kenapa lagi hmm?" tanya Ghibran dengan sabar.


"Tapi aku maunya nasi yang di masak oleh Umi, bukan bi Wati."


JEDER.


Apalagi ini permintaan Aretha, Ghibran sampai pusing sendiri memikirkannya.


"Kan sama saja sayang, merk berasnya juga sama." Ghibran mencoba bernegosiasi dengan Aretha.


"Beda mas... Tangan bi Wati sama Umi itu beda." balas Aretha.


"Ya udah kamu tunggu di sini dulu, biar aku telfon ke mama suruh pak sopir antar nasi ke sini." ngalah Ghibran.


"Try, makasih mas." senang Aretha memeluk Ghibran, dan Ghibran juga membalasnya.


Setelah itu Ghibran segera menghubungi Umi Fatimah dan mengatakan keinginan Aretha tadi. Dan Umi Fatimah pun segera menyiapkan semuanya agar segera di bawa oleh pak sopir ke rumah Aretha dan Ghibran.


Ruby yang sedari tadi memperhatikan kelakuan Aretha pun merasa ada yang aneh dengan sikap sahabatnya hari ini.


"Lo kenapa sih Ret, dari tadi aneh banget?" tanya Ruby.


"Kenapa, aku gak papa kok." balas Aretha.


"Tapi sikap lo itu aneh banget tau gak."


"Perasaan lo aja kali, orang aku biasa aja kok." yakin Aretha.


"Iya juga sih, mungkin hanya perasaan gw aja." balas Ruby.


"Kamu di sini dulu ya sama Ruby, biar aku siapkan bumbunya dulu." ucap Ghibran dan di angguki Aretha.


Ghibran pun berjalan meninggalkan mereka berdua menuju dapur. Sebenarnya tadi Ghibran setuju dengan apa yang Ruby katakan. Tapi nanti kalau dia ikutan komen takutnya nanti malah dia kena masalah. Kan gak lucu.


...***...