AG: Aretha Ghibran

AG: Aretha Ghibran
part 142



"Assalamu'alaikum." ucap Ghibran saat memasuki rumahnya.


"Waalaikum salam." balas orang orang yang kebetulan ada di sana.


Ghibran pun masuk dan gabung bersama yang lainnya di ruang tamu.


"Sudah selesai mas?" tanya Aretha menghampiri Ghibran sambil tangannya membawa satu cangkir teh hangat.


"Sudah yang." jawab Ghibran menerima minuman yang Aretha berikan.


"Gimana tadi acaranya? Maaf ya bang, tadi Ghibran gak bisa hadir." ucap Ghibran merasakan tidak enak.


"Ya elah santai aja kali, lagian juga nanti waktu resepsi lo bisa datang." balasan Arthan.


"Kamu udah makan siang mas?" tanya Aretha.


"Sudah yang tadi di cafe." balas Ghibran.


"Terus gimana tadi, jadi mau buka cabang di mana lagi?" tanya Abi Umar pada Ghibran.


"Alhamdulillah jadi bi, rencananya mau bangun cabang di Korea Selatan. Kan sekarang muda mudi di sini pada demam Korean." jawab Ghibran.


"Bagus itu, gw juga setuju kalau lo mau buka cabang di sana. Sekalian nanti kalau gw ke sana biar gak susah lagi cari makanan halal." setuju Arthan.


"Kamu mau buka cabang di sana?" tanya Aretha memastikan.


"Iya, kenapa hmm?" tanya Ghibran mengelus kepala Aretha yang duduk di sampingnya.


"Nanti kalau peresmian aku ikut ke sana ya, siapa tahu kan nanti bisa ketemu oppa oppa ganteng di sana." jawab Aretha.


"Setuju tuh, gw nanti juga ikut dong Ret." timpal Ruby yang sama seperti Aretha suka hal yang berbau bau Korea.


"No, aku gak izinin kamu." bantah Arthan.


"Iisss...." decak Ruby.


"Sama aku juga gak setuju kalau kamu ikut ke sana, apalagi kamu lagi hamil gini." setuju Ghibran dengan apa yang Arthan katakan.


"Kalian mah sama saja, dah yuk by kita ke kamar aja nonton drakor." ajak Aretha berdiri dan di ikuti Ruby di belakangnya.


Para kaum pria dan Umi Fatimah serta ibu nyai Halimah yang melihat itu pun hanya menggelengkan kepalanya saja melihat tingkah mereka berdua.


"Iya nak, kamu bersih bersih sana, pasti kamu juga capek." balas Umi Fatimah.


"Iya mi." Ghibran pun pergi dari sana setelah mengucapkan salam.


Dan setelah kepergian Ghibran, Arthan pun ikutan pergi juga menyusul Ghibran.


Saat Ghibran memasuki kamarnya, di sana dia hanya melihat istrinya saja tidak ada Ruby. Entah kemana Ruby tadi, mungkin pergi ke kamarnya sendiri.


"Yang." pangil Ghibran.


"Iya mas, kamu mandi dulu gih sana biar segar." suruh Aretha.


"Mas boleh minta pijitin sebentar gak yang, punggung mas tiba tiba rasanya gak enak." pinta Ghibran yang sudah membuka kemejanya.


"Sini kamu tengkurap dulu, biar aku ambil minyak urutnya." suruh Aretha.


Ghibran pun dengan senang hati tidur tengkurap di atas ranjang, dan setelah itu Aretha memijat punggung Ghibran.


"Mas seandainya nanti kalau aku gak bisa ikut ke Korea, kamu ajak anak anak kita ke sana ya. Biar mereka bisa mewakilkan aku untuk melihat negri Gingseng." ucap Aretha sambil memijat punggung Ghibran.


"Kamu ngomong apa sih yang, nanti kita pergi ke sana sama sama setelah kamu lahiran." balas Ghibran.


"Iya mas, kan tadi aku bilang seandainya, jadi kalau aku bisa yang pasti kita pergi ke sana sama sama lah." balas Aretha.


"Ya makanya kamu tuh dari kemaren ngomongnya ngelantur mulu sih."


"Ya aku kan gak tahu mas, itu semua keluar sendiri dari mulut aku."


"Dah sana kamu mandi, nanti malam aja aku pijitin lagi kalau masih gak enak rasanya." suruh Aretha.


Cup.


"Aku mandi dulu, kamu jangan ke mana mana. Tunggu aku selesai mandi baru'kita keluar bareng." ucap Ghibran sebelum beranjak ke kamar mandi.


"Iya babe sayang." balas Aretha gemas.


Ghibran pun masuk kedalam kamar mandi, sedangkan Aretha pergi menyiapkan pakaian santai untuk Ghibran.


...***...