
Mereka saling diam hingga tiba tiba saja Ghibran menambah kecepatan laju mobilnya semakin kencang dan membuat Aretha kaget.
"Kamu gila ya, kalau mau bunuh diri jangan ajak aku, aku masih sayang sama nyawa aku." Cerocos Aretha sambil tangannya mencari pegangan.
"Siapa yang mau bunuh diri, tuh liat di belakang ada yang ngikutin kita." Balas Ghibran tetap fokus menatap ke depan tanpa menoleh ke arah Aretha.
Aretha menatap ke kaca spion, dan benar saja di belakangnya mobil Ghibran terdapat beberapa mobil yang sudah jelas mengikuti mereka.
"Dan kamu tadi sudah ngatain suami mu ini gila, tunggu hukuman kamu di rumah nanti sayang." Lanjut Ghibran sambil tersenyum licik.
Aretha yang melihat senyuman itu pun bergidik ngeri, dia menyesal karena tidak bisa mengontrol mulutnya ini yang selalu ngomong tanpa di saring terlebih dahulu.
"Udah gak usah panik, sekarang kamu ambil pistol di dasbor itu cepat." Perintah Ghibran.
"Hah, apa? Pistol?"
"Iya cepat, kamu tembakau mobil di belakang kita." Perintah Ghibran lagi.
"Kamu jangan aneh aneh deh, itu gak boleh itu dosa. Kamu mau masuk penjara gara gara mainan pistol."
"Cepat sayang ku Aretha ambil pistolnya keburu mereka mendekat." Perintah Ghibran tak menghiraukan ucapan Aretha.
"Enggak aku gak mau, kamu bilang sama aku kalau aku boleh nolak perintah kamu kalau itu gak baik. Dan sekarang aku nolak perintah kamu, karena menurut ku itu gak baik buat kita kedepannya." Tolak Aretha.
"Lagian juga aku gak tahu cara menggunakan pistol." Lanjut Aretha.
"Ya udah kita ganti posisi aja, kamu yang bawa mobil aku yang tembakin mobil mereka. Kamu bisa kan bawa mobil dalam keadaan kayaknya gini?"
"Nah kalau itu aku setuju."
Mendengar itu Ghibran segera menepikan mobilnya dan dengan kecepatan kilat mereka berdua berganti posisi menjadi Aretha yang memegang kemudi.
Aretha segera melajukan mobil Ghibran dengan kecepatan tinggi menyalip nyalip kendaraan yang ada di depannya. Sedangkan Ghibran sibuk mencari keberadaan pistolnya, setelah mendapatkannya Ghibran segera mengambilnya.
"Plis kamu jangan gunakan alat itu ya, itu bahaya." Ujar Aretha melarang Ghibran.
"Bahaya kenapa sih, kamu khawatir sama aku hmm?"
"Ya iyalah gobl*k." Maki Aretha dalam hati, kalau keluar di mulut mungkin Aretha nanti akan mendapatkan hukuman yang lebih berat lagi saat sampai nanti.
"Ya iyalah khawatir, masak iya kita baru nikah nanti kamu udah di penjara gara gara nembak orang kan malu aku." Balas Aretha.
"Oooh gitu, ya udah aku tembak mereka aja biar aku di penjara terus kamu bisa bebas deh tidur tanpa aku."
"Kamu jangan gila ya." Mata Aretha melotot.
"Tuh kan, fix nanti kamu dapat hukuman banyak banyak dari aku."
"Kok gitu."
"Udah kamu jangan ngajak aku ngobrol terus nanti aku gak jadi jadi nembaknya. Dan kamu tenang aja aku gak akan nembak orangnya kok tapi ban mobilnya aja supaya pecah dan gak bisa ngejar kita."
Ghibran segera membuka kaca jendela mobil dan mengarahkan tembakan pada ban mobil yang ada di belakang mobilnya.
Dor.
Satu tembakan Ghibran layangkan dan itu tepat mengenai sasaran.
Ciitttt.
Brak.
Suara rem mobil dan hantaman antara mobil satu dengan yang lainnya di belakang mobil Ghibran.
Ya, tadi setelah Ghibran menembak ban mobil yang paling depan, mobil itu oleng dan berhenti di tengah jalan. Sedangkan di belakang mobil itu ada mobil lainnya yang melaju dengan kencang jadi otomatis tabrak saling menabrak pun terjadi.
"Berhasil, yuk yank kita pulang." Ajak Ghibran senang.
"Pulang? Kamu gak lihat tuh ada lagi mobil satu." Tunjuk Aretha pada mobil hitam yang sekarang sudah berada di samping Aretha.
"Cepat kita tukar posisi, biar aku yang tangani." Ajak Ghibran.
"Udah kamu diam aja di situ, biar aku yang tangani." Tolak Aretha dengan pandangan fokus ke depan.
Tin tin tin.
Begitu juga mobil di belakangnya, mobil itu mengikuti apa yang Aretha lakukan hingga Aretha membelokkan mobilnya ke jalanan yang sepi pun mobil itu masih saja mengikutinya, mungkin malahan menurut mereka ini kesempatan yang bagus.
"Kenapa kamu malah belok ke sini?" Tanya Ghibran agak panik.
"Udah gak usah panik, bahaya kalau kita kejar kejaran di jalan raya." Balas Aretha santai.
Saat ada di jalanan yang lebar dengan gesit Aretha membalikkan posisi mobilnya sampai sampai Ghibran yang belum siap pun kepalanya kejeduk.
"Auw." Ringis Ghibran.
"Makanya pegangan." Sindir Aretha.
Ghibran tak menghiraukan ucapan Aretha, dia lebih fokus melihat apa yang istrinya lakukan. Hebat bukan kalau Aretha yang cewek bisa mengendarai mobil dengan selincah itu. Hmm sepertinya Ghibran harus memberikan hadiah buat istrinya nanti.
Sekarang Aretha menghentikan mobilnya tapi tidak mematikan mesinnya. Mobil Ghibran sekarang menghadap ke arah mobil hitam yang mengikuti mereka tadi.
Brum Brum bruuummmm....
Aretha menginjak gas dan melajukan mobilnya dengan kencang menuju mobil hitam itu.
Brum brum Brum.
Otomatis mobil hitam itu pun mundur, Aretha semakin menambah kecepatan laju mobilnya sehingga membuat orang yang mengemudikan mobil hitam itu kualahan untuk mundur dan berakhir dengan menabrak pohon yang ada di pinggir jalan.
Ciitttt brum brum bruuummmm....
Aretha mengerem dan memutar mobilnya dengan sekali putaran sudah berubah arah dan melakukannya dengan kencang meninggalkan mobil hitam itu.
"Si*lll kita gagal lagi." Umpat orang yang mengikuti mobil Ghibran.
-
"Hebat benar dah istri ku ini, kamu mau hadiah apa hmm? Sini bilang nanti aku kasih." Puji Ghibran dan bertanya apa keinginan Aretha.
"Apaan sih lebay banget, orang cuma gitu doang orang orang juga bisa." Balas Aretha merendah.
"Iya semua orang bisa mengendarai mobil, tapi tidak semua orang bisa seperti kamu barusan."
"Kamu mau hadiah apa dari aku, aku akan berikan apapun itu."
"Beneran apapun itu?" Antusias Aretha.
"Hmm."
"Oke, aku mau hukuman aku di hapus dan perjanjian yang aku buat semalam di tiadakan." Ucap Aretha.
"Oh tidak bisa kalau itu."
"Katanya tadi bakal di turutin apapun itu, jadi ya harus."
"Aku kan tadi bilangnya hadiah apa yang kamu mau, bukan apa mau kamu." Balas Ghibran tak mau kalah.
"Ya itu hadiah yang aku mau, hadiahnya dengan kamu menghapus keinginan kamu menghukum aku, itu aja aku udah seneng banget."
"Maaf nona kalau itu tidak bisa." Tolak Ghibran menggunakan bahasa baku.
"Ya udah berarti kamu punya hutang sama aku."
"Ya udah pokoknya nanti kamu di hukum."
"Kamu kok ngeselin sih sekarang."
"Enggak tuh biasa aja." Balas Ghibran.
"Udah ahh, ini rumahnya di mana nanti malah nyasar lagi." Tanya Aretha malas melanjutkan perdebatan.
"Di depan sana kamu menepi aja, biar aku yang bawa." Ucap Ghibran.
Aretha pun mengikuti apa yang Ghibran ucapkan dan setelah itu mereka bertukar posisi lagi seperti semula dengan Ghibran yang memegang kemudi.
...***...