
Aretha dan Ghibran pun telah sampai di rumah mereka. sekarang mereka tengah selesai membersihkan tubuh mereka dan membereskan barang bawaan mereka.
"Yang." pangil Ghibran pada Aretha yang tengah sibuk melilitkan hijab pashminanya.
"Hmm." jawab Aretha.
"Ayang ihh, kalau di pangil tuh jawab yang jelas dong, masak hmm doang." protes Ghibran.
"Iya Ghibran ku sayang, ada apa hmm?" balas Aretha sambil tersenyum paksa.
"Nah gitu dong, itu baru istri Ghibran." senang Ghibran.
"Nih giti ding, iti biri istri Ghibrin." menye menye Aretha.
"Ooh gitu, oke." beranjak menghampiri Aretha.
"Kamu mau ngapain?" panik Aretha yang melihat wajah Ghibran sangat menyeramkan.
Ghibran diam saja tak menjawab, dia semakin dekat dengan Aretha dan tanpa aba aba Ghibran langsung menggendong tubuh Aretha ala karung beras dan setelah itu dia lempar ke atas ranjang.
"Auw, sakit tauk." ringis Aretha, untung saja kepalanya tidak terjeduk kepala ranjang, kalau sampai iya pasti nanti Ghibran sendiri yang panik.
Tak menghiraukan ringisan Aretha, Ghibran merangkak ke atas tubuh Aretha dan mengurungnya di bawah tubuhnya.
"Kamu mau ngapain?" panik Aretha sambil menahan tubuh Ghibran agar tidak terlalu menempel pada tubuhnya.
"Menurut kamu aku mau ngapain hmm?" balik tanya Ghibran.
Keringat dingin sudah membasahi pelipis Aretha. Dia takut kalau Ghibran sampai meminta hak nya sekarang, Aretha belum siap.
"Bibir kamu manis banget sih, jadi pengen makan." ucap Ghibran ambigu.
"Apalagi ini." menunjuk ke arah bawah kepala Aretha yang berisi dua gunung.
Dengan otomatis tangan Aretha melindungi kedua gunungnya dari pandangan Ghibran.
"Kamu jangan main main ya." peringat Aretha.
"Main main seperti apa sih baby." balas Ghibran sambil tersenyum devil.
Ghibran mendekatkan wajahnya dengan pandangan yang tertuju pada bibir pink Aretha. Aretha pun dalam hati sudah berdoa banyak banyak agar dia tidak di santap Ghibran sekarang.
Semakin dekat wajah Ghibran, Aretha pun semakin memejamkan matanya lantaran takut. Dan....
"Hahahaha geli stop geli hahahaha...." tawa Aretha pecah karena ternyata Ghibran bukan menciumnya melainkan menggelitik tubuhnya hingga membuat tubuh Aretha terasa sangat mengelikan.
"Stop, plis stop Ghibran geli." mohon Aretha.
Aretha berusaha kabur dari Ghibran tapi itu tidak bisa. Salah satu tangan Ghibran menahan kedua tangan Aretha di atas kepalanya agar tidak menggangu kegiatannya.
"Plis Ghibran stop, geli." mohon Aretha sambil di sudut matanya sudah keluar air mata.
"Geli hmm, makanya jangan main main sama." Ghibran menghentikan gelitikan nya dan memandang Aretha dengan intens.
"Mau lagi hmm?" tanya Ghibran dan dengan cepat Aretha menggelengkan kepalanya pertanda menolak.
Cup cup.
"Dua hukuman untuk kamu sayang karena sudah memanggil namaku dengan sebutan nama." ucap Ghibran dengan deep voice nya di telinga Aretha yang membuat Aretha merinding.
Setelah itu Ghibran berdiri dan beranjak menuju kamar mandi.
"Kamu mau kemana?" tanya Aretha melihat Ghibran seperti buru buru masuk ke kamar mandi.
"Bentar aku ada urusan." jawab Ghibran dan akan masuk ke dalam kamar mandi tapi dengan cepat Aretha menahannya.
"Tunggu." tahan Aretha dan beranjak menghampiri Ghibran.
"Ada apa sih yang, aku udah gak tahan." tanya Ghibran kesal.
"Kamu mau itu?" tanya Aretha ambigu.
"Itu apa sih yang, kalau ngomong tuh yang jelas." kesal Ghibran karena Aretha mengganggu dirinya yang sudah kebelet.
"Hah, onani apa itu?" tanya Ghibran.
"Itu,"
"Apa sih yang cepet, aku udah gak tahan." mohon Ghibran.
"Itu kamu berdiri kan?" tunjuk Aretha dengan matanya ke arah ************ Ghibran yang agak menggembung sedikit.
"Hah," cengoh Ghibran dan mengikuti arah pandangan Aretha.
Ghibran dengan cepat menutupi dengan tangannya karena malu.
"Boleh gak aku minta kamu jangan main sama tangan kamu, kamu boleh kok kalau mau minta bantuan aku." ujar Aretha.
"Hahaha kamu lucu banget sih sayang, aku tuh kebelet kencing. Kalau soal itu kamu tenang aja aku bisa kok mengangani nya tanpa harus bermain dengan tanganku." jelas Ghibran.
"Ya udah aku ke kamar mandi dulu, udah gak tahan." Ghibran pun segera masuk ke dalam kamar mandi dan menutupnya meninggalkan Aretha yang masih bengong di sana.
"Hah." kesal Aretha pada dirinya sendiri.
"Lo bodoh banget sih Aretha, kenapa lo sampai ngomong seperti itu. Ghibran jadi mikir yang enggak enggak pasti nanti." gumam Aretha menggerutuki dirinya sendiri.
"Aaaaa gw malu." teriak Aretha sambil menutupi seluruh wajahnya dengan kedua tangannya.
Untung saja Ghibran di kamar mandi lagi menyalakan air keran, jadi Ghibran tidak mendengar teriakkan Aretha.
"Gw harus gimana ini, aaaaa gw malu." monolog Aretha sambil berguling guling di atas ranjang.
Ceklek.
Pintu kamar mandi terbuka membuat Aretha terduduk dan merapikan penampilannya yang belum jadi memakai hijab gara gara gangguan Ghibran tadi.
"Mas." pangil Aretha pada Ghibran.
Sebenarnya Aretha merasa geli sendiri kalau pangil Ghibran seperti itu, tapi mau bagaimana lagi, kalau gak gitu nanti dirinya kena hukum Ghibran.
"Kenapa hmm?" balas Ghibran sambil berusaha menahan tawanya.
Ghibran tahu Aretha sekarang tengah merasa malu kepada dirinya akibat perbuatannya tadi.
"Soal yang tadi itu...."
"Udah kamu gak usah malu, wajar kok kalau kamu berfikir seperti itu karena biasanya orang laki laki akan melakukan hal yang ada di pikiran kamu. Tapi kamu tenang saja aku bisa kok menanganinya tanpa harus melakukan apa yang kamu pikirkan. Aku sudah terbiasa akan hal ini." Ghibran memotong ucapan Aretha.
"Hah, sudah biasa? Maksud kamu?"
"Udah yuk kita ke bawah, kamu pasti lapar kan." ajak Ghibran agar Aretha tidak lagi memikirkan apa yang tadi dia ucapkan.
Aretha pun mengambil kerudung bergo miliknya agar lebih simpel, toh dia juga tidak ke mana mana selain di rumah. Aretha mengikuti ajakan Ghibran dengan pikiran yang sibuk memikirkan apa yang Ghibran ucapkan.
Benarkah Ghibran sudah terbiasa merasakan hal itu. Apakah dia berdosa karena sudah membuat suaminya tersiksa? Hal itulah yang ada di pikiran Aretha sekarang.
Apakah Aretha terima saja kalau Ghibran mau mengajaknya, ataukah dirinya saja yang mulai menggoda Ghibran. Sepertinya poin ke dua yaitu lebih menarik, karena jika sampai suaminya tergoda maka Aretha akan mendapatkan pahala juga karena dialah yang mengajak.
Huh, tapi entahlah nanti bagaimana. Kita jalani saja sesuai alurnya.
"Assalamualaikum tuan, nyonya." salam bi Wati pada tuan dan nyonya-nya.
"Waalaikum salam bi." balas mereka berdua.
"Bibi masak apa hari ini?" tanya Aretha yang melihat meja makan sudah penuh dengan berbagai masakan.
"Ini ada sumur jengkol, sayur asam, Ayam rica-rica, capcay, sambal dan gorengan tempe saja nyonya. Kalau nyonya mau yang lainnya biar saya buatkan sebentar."
"Oh gak usah bi, ini saja sudah banyak kok."
"Kalau gitu saya pamit ke belakang dulu nyonya, tuan. Silahkan di nikmati masakan saya, semoga tuan dan nyonya suka." ucap bi Wati.
Bi Wati pun pergi setelah mengucapkan salam. Dia tidak akan mengganggu kegiatan makan tuan dan nyonya-nya.
...***...