AG: Aretha Ghibran

AG: Aretha Ghibran
part 43



"Ghibran...." Teriak Aretha saking kesalnya pada Ghibran, dan seketika itulah Aretha menutup mulutnya karena dia sudah salah dalam memanggil lelaki yang bergelar sebagai suaminya ini.


"Ooh gitu, mau di hukum sekarang atau nanti hmm?" tanya Ghibran dengan ekspresi yang sangat mengancam bagi Aretha.


"Anu itu, ...."


"Apa hmm?"


"Kita masak sup ayam aja, iya masak sup ayam." ucap Aretha bermaksud mengalihkan pembicaraan.


"Oooh sup ayam, ok kita masak sup ayam." balas Ghibran sambil menggangukkan kepalanya.


"Tapi aku gak lupa sama hukuman buat kamu baby." lanjut Ghibran berbicara di telinga Aretha dengan nada yang sangat lirih sehingga membuat bulu kuduk Aretha berdiri.


"Dah yuk kita masak." ucap Ghibran menegakkan tubuhnya.


"Aku bantu apa?" tanya Aretha bingung.


"Kamu siapin bahan bahannya aja biar aku yang siapin bumbunya. Kamu bisa cuci daging kan?" tanya Ghibran di balas anggukan ragu oleh Aretha.


"Ya udah ayo kamu cuci dulu dagingnya, kayaknya masih ada di kulkas." perintah Ghibran.


"Dengan langkah yang ragu Aretha berjalan menuju kulkas dan mengambil potongan daging yang ada di sana.


Setelah mendapatkan apa yang dia cari, Aretha berjalan menuju wastafel untuk mencuci daging ayamnya. Sedangkan Ghibran dia tengah meracik bumbu untuk membuat sup ayam sambil sesekali melirik Aretha.


Saat mencuci daging ayam, ada beberapa daging yang potongannya belum sempurna sehingga membuat daging itu masih menyambung satu sama lagi.


"Hufft... ini gimana coba." gumam Aretha.


Mendengar gumaman Aretha, Ghibran yang sudah selesai meracik bumbu pun berjalan menghampiri Aretha.


"Kenapa hmm?" tanya Ghibran berdiri di belakang Aretha.


"Nih lihat, yang jual niat gak sih potongnya. Masak gini aja gak lepas." adu Aretha menyalahkan yang menjual daging.


Aretha diam tak segera melakukan perintah Ghibran, hal itu membuat kening Ghibran berkerut.


"Kenapa?" tanya Ghibran heran.


Aretha memandang wajah Ghibran yang berada di samping pipinya, yang kurang dikit lagi menempel di pipinya.


"Aku gak bisa." cengir Aretha sambil menahan malu.


Ghibran tersenyum dan mengelus rambut Aretha, "Sini aku ajarin." ucap Ghibran menuntun tangan Aretha yang memegang pisau dan daging dengan cara menggenggam tangannya.


Aretha mengikuti apa yang Ghibran kerahkan. Bahkan mereka berdua tidak menyadari bahwa posisi mereka sekarang tengah berpelukan dengan Ghibran yang memeluk Aretha dari belakang.


"Dah, sekarang tinggal kamu cuci." ucap Ghibran menyadarkan Aretha.


"Hah." Aretha tadi terlalu larut dalam penjelasan penjelasan yang Ghibran berikan sehingga tidak menyadari akan suatu hal yang terjadi pada mereka.


"Kamu bisa minggir dulu gak?" ucap Aretha dengan perasaan yang sudah dag dig dug ser.


"Emang kenapa kalau aku di sini?"


"Emmm aku gak nyaman." jujur Aretha.


"Oh, maaf." dingin Ghibran dan segera beralih dari sana.


Entah mengapa hati Ghibran sakit mendengar Aretha yang tidak nyaman berada di dekatnya. Padahal Ghibran juga sudah tahu kalau Aretha memang belum mencintainya. Ingat ya BELUM, bukan tidak.


"Kamu lanjutin cuci sayurnya kalau sudah selesai." perintah Ghibran tanpa menatap Aretha.


Ghibran pun menyibukkan dirinya dengan menyiapkan peralatan yang lain. Aretha pun menggerutuki mulutnya yang terlalu asal ceplos tanpa di saring dulu. Tapi dia memang jujur, dia gak nyaman berdekatan dengan Ghibran seperti tadi. Tapi entah kenapa hatinya juga tidak suka melihat wajah Ghibran yang seperti itu.


Akhirnya mereka masak dengan suasana yang sangat canggung, bahkan lebih canggung dari yang sebelum sebelumnya. Setelah selesai mereka menyantap makanan dan setelah itu mereka sibuk dengan kegiatan masing-masing.


...***...