AG: Aretha Ghibran

AG: Aretha Ghibran
part 123



Ghibran dan Abi Umar masih ada di pinggiran sungai, mereka berdua baru saja naik ke pinggiran sungai setelah membantu mencari keberadaan Arthan. Bahkan sekarang jam sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam tapi tim sar yang lainnya masih melanjutkan pencarian dengan bantuan senter.


Keadaan malam hari yang gelap, di tambah dengan debit air yang naik membuat mereka semua kesusahan dalam mencari keberadaan Arthan, Ruby beserta mobil milik Arthan.


"Sebaiknya kita pulang dulu Bi, takut nanti Umi sama Aretha khawatir." ajak Ghibran pada Abi Umar yang lesu.


"Hufft... Baiklah ayo kita pulang, besok kita lanjutkan lagi proses pencarian ini." setuju Abi Umar.


Mereka berdua pun masuk ke dalam mobil dengan keadaan pakaian bawah yang agak Basar karena terkena air sungai.


Drrtt drrtt drrtt.


Ponsel Abi Umar bergetar, dengan cepat dia menjawab panggilan suara dari istrinya.


'Assalamualaikum mi.' sapa Abi Umar membuka pembicaraan.


'Waalaikum salam bi, gimana udah ketemu belum Arthan nya?' tanya Umi Fatimah to the poin.


'Nanti Abi ceritakan di rumah ya, ini Abi sama Ghibran dalam perjalanan pulang.'


'Ya udah kalian hati hati ya, Umi tunggu di rumah.' balas Umi Fatimah.


'Abi tutup dulu mi, Assalamualaikum.'


'Waalaikum salam.' balas Umi Fatimah dan panggilan pun berakhir.


Kali ini bukan Ghibran sendiri yang memegang kemudi, tapi Ghibran menyuruh salah satu orangnya yang mengendarai mobil Ghibran. Ghibran sudah capek dan banyak pikiran, dia takut kalau harus menyetir mobil sendiri.


-


Sementara itu di kontrakan Ruby, Haikal tengah menunggu kakaknya pulang kerja di kursi depan rumah kontrakannya sambil membaca buku pelajaran.


Tak lama muncullah mobil dan berhenti tepat di depan rumah kontrakan Ruby. Turunlah seseorang laki-laki yang memakai jaket kulit hitam yang di dalamnya ada kaos putih polos dan celana hitam sebagai pakaian bawahnya.


Laki laki itu berjalan menghampiri Haikal. Haikal yang tadinya fokus belajar pun menatap orang itu dengan penuh tanya.


"Assalamualaikum dek." salam lelaki itu.


"Waalaikum salam, cari siapa ya kak?" tanya Haikal berdiri dari tempat duduknya.


"Kamu Haikal adiknya Ruby kan?" tanya lelaki itu yang ternyata mengenali Haikal.


"Iya kak, ada apa ya? Dan kakak tahu namaku dari mana?" tanya Haikal.


"Kenalin nama kakak Adam, kakak adalah sahabat sekaligus tangan kanan di cafe milik Ghibran suami Aretha sabahat kakak kamu Ruby."


Ya, lelaki itu adalah Adam. Tadi memang Ghibran menyuruhnya waktu siang hari, tapi karena banyaknya pekerjaan yang harus dia urus di cafe jadi dia bisa datangnya malam hari.


"Ooh iya kak, ada apa ya kakak ke sini?" tanya Haikal.


"Kamu gak ada niatan mempersilahkan kakak duduk gitu, kakak capek loh sedari tadi berdiri terus." canda Adam.


"Oh iya kak Haikal lupa. Mari kak silahkan masuk." ucap Haikal mempersilahkan masuk tamunya.


Adam pun masuk dan duduk di salah satu sofa yang ada di sana. Haikal pergi menuju dapur untuk membuatkan tamunya ini minum.


"Maaf kak hanya ada teh di dapur." ucap Haikal sambil meletakkan satu cangkir teh di atas meja.


"Aduh kakak jadi merepotkan kamu nih." basa basi Adam agar Haikal tidak terlalu canggung saat bersamanya.


"Enggak kok kak, mari silahkan di minum kak." Haikal mempersilahkan Adam untuk minum.


Adam pun meminum teh hangat buatan Haikal, rasanya sangat pas dan cocok di lidah Adam. Adam kagum sama Haikal yang masih berusia dini tapi sudah bisa menjamu tamu dengan baik, tidak seperti dirinya dulu yang kalau ada tamu malah kabur sembunyi di dalam kamar.


"Ada apa kok ngajak Haikal tinggal di sana, nanti bagaimana kak Ruby, jadi sendirian dong di rumah." balas Haikal tak mengerti maksud orang dewasa di depannya ini.


"Nanti kak Ruby juga bakalan ke sana, tapi tidak sekarang. Jadi untuk sementara waktu dari pada Haikal di sini sendiri lebih baik Haikal ikut kakak tinggal di rumah kak Aretha."


"Sendirian? Emang kak Ruby kemana?" tanya Haikal.


"Aduh, salah ngomong nih gw." batin Adam menggerutuki dirinya sendiri yang sudah keceplosan.


"Eemmm itu, kak Ruby lagi ada tugas di suruh sama kak Aretha pergi ke luar kota untuk mengurus cabang toko yang ada di sana. Kan kak Aretha nya lagi hamil jadi dia menyuruh kak Ruby buat yang pergi ke sana." bohong Adam.


"Oooh keluar kota. Ehh tapi kok kak Ruby gak ambil pakaian dulu di rumah?"


Nah Lo, susah juga membodohi anak kecil yang pintar. Kan jadi harus memikirkan kebohongan apa lagi yang harus Adam buat alasan.


"Kalau soal itu kak Adam gak tahu, kak Adam hanya menjalankan perintah dari kak Ghibran saja. Udah yuk kamu berkemas biar kita gak kemalaman pergi nya." suruh Adam.


"Tapi ini kakaknya bukan penculik kan?" curiga Haikal.


"Ya Allah, bener kakak gak bohong. Nih kalau kamu gak percaya kakak ada foto kakak sama kak Ghibran." Adam pun mencarikan foto di ponselnya waktu dia berfoto bersama Ghibran.


"Nih lihat." Adam menunjukkan fotonya.


"Udah sana cepat kamu bersiap, jangan lupa bawa seragam dan juga buku pelajaran kamu, biar nanti kalau sekolah langsung berangkat dari sana."


"Iya kak, Haikal ke kamar dulu." pamit Haikal dan pergi dari sana menuju kamarnya.


"Hufft... selamat." lega Adam.


Adam pun segera memberikan info pada bos nya kalau dia berhasil menggajak Haikal pergi ke rumah Ghibran. Ghibran yang tahu itu pun lega, karena dia tak perlu khawatir lagi akan Haikal yang sendirian di kontrakan.


"Udah yuk kak." ajak Haikal sambil menenteng tas yang berukuran besar.


"Yuk, sini kakak bawain tas nya." tawar Adam.


"Makasih kak." balas Haikal dan memberikan tasnya pada Adam karena dia juga keberatan membawanya.


Mereka berdua pun segera pergi menuju rumah Ghibran.


-


Ghibran dan Abi Umar berjalan memasuki rumah Ghibran. Di ruang tamu sudah ada Umi Fatimah yang menunggu kedatangan mereka berdua.


"Gimana bi?" tanya Umi Fatimah tak sabaran.


"Assalamualaikum mi." salam Ghibran dan Abi Umar.


"Waalaikum salam." balas Umi Fatimah.


"Gimana bi, Arthan selamat kan? Arthan sudah ketemukan?" berondong Umi Fatimah dengan berbagai pertanyaan.


"Abi sama Ghibran baru sampai loh, kok malah di tanya tanyain bukannya di kasih minum. Kita berdua kan juga haus Umi." balas Abi Umar dan duduk di sofa untuk mengistirahatkan tubuhnya yang lelah.


"Hehehe maaf Abi, Umi terlalu khawatir sama Arthan."


"Iya Abi ngerti, tapi Abi juga haus Umi." balas Abi Umar.


Tanpa pamit Umi Fatimah segera pergi ke dapur untuk mengambilkan minuman untuk Ghibran dan Abi Umar.


...***...