AG: Aretha Ghibran

AG: Aretha Ghibran
part 107



Pagi hari di kediaman Ghibran sudah ramai banyak orang untuk mempersiapkan acara tujuh bulanan kandungan Aretha besok.


Kiyai Mahfudz dan ibu nyai Halimah pun sudah tiba tadi pagi pagi sekali. Sekarang mereka tengah melakukan sarapan bersama di ruang makan rumah Ghibran.


"Ayo nak silahkan kamu pimpin doa." suruh Kiyai Mahfudz pada Ghibran dan langsung di laksanakan oleh Ghibran.


Ghibran memimpin doa makan, setelah selesai barulah mereka makan sarapan yang sudah di siapkan di atas meja makan.


Selesai sarapan mereka kembali melakukan kegiatan masing-masing, ada yang menata dekorasi ada juga yang membersihkan dan memindahkan sofa sofa yang ada di ruang tamu karena besok acara akan di laksanakan di ruang tamu.


Sebenarnya ini semua bukan kemauan Aretha, Aretha hanya meminta di adakan pengajian saja. Tapi Ghibran tidak setuju, Ghibran ingin di rayakan secara besar besaran memakai adat Jawa. Mau tak mau Aretha pun menyetujuinya, toh percuma kalo dia protes pun tak akan di idahkan oleh Ghibran.


"Retha sayang, sini deh duduk sama nenek. Kamu jangan kecapekan, kasian nanti dedek bayinya."pangil ibu nyai Halimah pada Aretha yang tengah mondar-mandir melihat lihat dekorasi yang mulai di pasang.


"Kenapa nek?" tanya Aretha setelah duduk di samping ibu nyai Halimah.


"Nenek minta kamu duduk di sini saja sama nenek. Kasian dedek bayinya kalo kecapekan nanti." ulang ibu nyai Halimah.


"Iya nek nanti kalo Aretha lelah juga Retha bakal istirahat, tadi Retha cuma mau lihat lihat dekorasinya saja." balas Aretha.


"Ya udah, gimana kandungan kamu, aman aman saja kan selama ini?" tanya ibu nyai Halimah perhatian sambil mengelus perut buncit Aretha.


"Alhamdulillah nek, si kembar gak pernah rewel. Tapi kalau tidak ada ayahnya mereka akan rewel nendang nendang perut Aretha dengan keras." jawab Aretha.


"Alhamdulillah kalau gitu, nenek khawatir kalau kamu nanti jadi seperti umi kamu saat melahirkan kalian." ibu Nyai Halimah segera menutup mulutnya karena dia sudah keceplosan bilang sebuah rahasia besar dalam keluarga anaknya.


"Oh enggak, nenek salah ngomong. Maksud nenek tadi nenek takut kalau kamu nanti waktu melahirkan sama seperti Umi kamu, yang pendarahan sangat hebat saat melahirkan." ralat ibu nyai Halimah agar Aretha tidak curiga.


"Aretha minta doa nya saja sama nenek, semoga nanti Aretha di mudahkan saat proses melahirkan." balas Aretha.


Aretha tak lagi menanyakan perihal apa yang ibu nyai Halimah tadi ucapkan, tapi dia tetap memikirkannya. Mungkin nanti dirinya akan langsung bertanya kepada Uminya setelah acara tujuh bulanan kandungannya sudah selesai.


"Nenek selalu mendoakan yang terbaik buat kalian, nenek selalu berharap semoga saja nanti cucu nenek ini laki laki semua, agar bisa meneruskan bisnis keluarga kamu." doa ibu nyai Halimah.


"Apa pun nanti jenis kelaminnya asal mereka berdua sehat semua Aretha sudah sangat bersyukur nek. Meskipun nanti seandainya mereka berdua perempuan, mereka juga bisa meneruskan bisnis keluarga Aretha nek." balas Aretha yang tak suka dengan apa yang ibu nyai Halimah ucapkan.


"Iya nenek tahu, tapi itu nanti akan mempersulit berjalannya bisnis. Contohnya saja kamu, dulu kamu sebelum menikah memang bisa fokus mengurus toko kamu. Tapi sekarang lihatlah setelah kamu menikah kamu sudah jarang ke toko, apalagi setelah kamu hamil."


"Kenapa nenek bicara seperti itu?" Aretha memandang ibu nyai Halimah penuh tanda tanya.


"Ehh, enggak papa. Nenek hanya suka saja dengan anak laki laki, tapi benar apa kata kamu kalau seandainya nanti cucu nenek ini perempuan mereka juga pasti sangat pintar berbisnis seperti ayah dan kakeknya." balas ibu Nyai Halimah sambil tersenyum dan mengelus perut Aretha.


"Nenek samperin kakek kamu dulu ya." pamit ibu nyai Halimah dan segera pergi dari sana.


Aretha memandang neneknya dengan pandangan bingung, kenapa neneknya sekarang jadi seperti itu, perasaan saat dia dulu sering main ke Malang neneknya tidak begitu. Apakah karena dia sudah jarang mengunjungi neneknya ke Malang, sikap nenek sampai begitu. pikir Aretha bingung.


...***...