AG: Aretha Ghibran

AG: Aretha Ghibran
part 89



"Ibu silahkan berbaring di sini dulu biar saya periksa." perintah dokter suci pada Aretha.


Aretha pun langsung berbaring di atas bangkar dengan perasaan yang cukup gugup karena takut dirinya terkena penyakit yang berbahaya.


"Permisi Bu, bolehkah saya izin untuk membuka baju ibu di bagian perut." izin dokter suci dan langsung di angguki oleh Aretha.


Dokter suci pun menyuruh asistennya untuk membuka baju Aretha di bagian perut dan mengolesi perut Aretha dengan jel.


Setelah itu dia mengarahkan sebuah alat di atas perut Aretha dan menggerakkannya di sana.


"Bagaimana dok, apakah ada yang parah dengan keadaan istri saya?" tanya Ghibran yang sedari tadi setia menemani Aretha.


"Tuan bisa lihat di layar itu," menujuk sebuah alat yang memperlihatkan keadaan perut Aretha.


"Maksudnya itu apa ya dok, maaf saya tidak mengerti?" tanya Ghibran yang tidak mengenali apa yang ada di dalam layar itu.


"Begini tuan, ini." menunjuk sebuah bulatan kecil seperti biji kacang, " Itu adalah janin yang ada di dalam perut nyonya Aretha." jelas dokter Suci.


"Jadi maksud dokter istri saya sedang hamil?" tanya Ghibran dengan antusias.


"Benarkah tuan, usia kandungan istri anda sudah memasuki Minggu ke empat. Berarti itu sudah hampir satu bulan. Dan ini keadaan janinnya sangat sehat dan kuat." jelas dokter suci membuat mata Ghibran berkaca kaca.


"Alhamdulillah sayang, Allah sudah menitipkan malaikat kecil buat kita." syukur Ghibran sambil menciumi tangan Aretha dan kening Aretha.


"Iya mas, aku udah gak sabar mau punya anak." balas Aretha juga dengan mata'yang berkaca kaca.


"Sebentar biar saya lihat lebih jelasnya lagi." ucap dokter suci menyelusuri rahim Aretha.


"Tunggu." ucap dokter suci membuat Ghibran dan Aretha takut, takut kalau ada sesuatu yang membahayakan calon anak mereka.


"Kenapa dok?" tanya Ghibran.


"Ini." tunjuk dokter pada bulatan kecil seperti biji kacang yang lainnya.


"Maksudnya itu apa dok, apakah itulah penyakit yang sangat berbahaya?" tanya Ghibran takut.


"Bukan tuan, ini calon anak kalian juga." balas dokter.


"Maksudnya gimana ya dok?"


"Begini tuan, calon anak kalian sepertinya kembar dua. Terlihat adanya dua bulatan kecil berbentuk kacang ini." jelas dokter.


"Alhamdulillah ya Allah...." Ghibran langsung bersyukur syukur, sebagai tanda terimakasihnya kepada sang maha pencipta yakni Allah SWT.


"Sayang anak kita kembar." ucap Ghibran terharu.


"Iya mas." balas Aretha tak kalah senang.


Setelah selesai, asisten dokter suci pun membersihkan jel yang ada di perut Aretha. Dan setelah mereka akan bertanya tanya perihal apa saja yang boleh di lakukan orang hamil dan tidak boleh di lakukan oleh orang hamil.


"Dok apakah kita masih boleh main?" tanya Ghibran ambigu setelah dokter menjelaskan banyak hal.


"Boleh tuan tapi harus hati-hati karena trimester pertama sangat rentan akan keguguran jadi tuan harus hati-hati saat bermain. Dan saya juga menganjurkan agar tidak mengeluarkannya di dalam dan jangan main setiap hari." jelas dokter suci.


Aretha pun merasa sangat malu karena pertanyaan Ghibran barusan. Bagaimana bisa suaminya itu bertanya perihal masalah ranjang tanpa ada rasa sungkan pada dokter Suci.


"Begitu ya dok, ya udah terimakasih ya dok. Kami pamit dulu." pamit Ghibran setelah mendapatkan jawaban yang dia butuhkan.


Ghibran dan Aretha pun berjalan menuju parkiran untuk mengambil mobil Ghibran dan pulang ke rumah.


"Kamu gak mau kasih kabar ke Umi sama Abi?" tanya Ghibran sambil mengemudi pada Aretha.


"Nanti aja biar aku suruh Umi sama Abi ke rumah kita." jawab Aretha.


Setelah itu mereka saling diam, tak ada lagi yang berbicara.


"Untuk sekarang sih enggak, tapi gak tahu nanti." jawaban tidak memuaskan bagi Ghibran.


Kalau sudah seperti ini, Ghibran harus siap siap kalau sewaktu waktu Aretha meminta sesuatu yang di luar nalar seperti yang sebelum sebelumnya.


"Terus ini kamu mau langsung pulang gitu aja?" tanya Ghibran lagi.


"Iya aku ngantuk pengen istirahat." jawab Aretha.


Mendengar istrinya pengen istirahat, Ghibran pun menambahkan kecepatan mobilnya agar cepat sampai di rumah dan istrinya bisa cepat cepat istirahat.


"Oh iya mas kok bisa ya aku hamil kembar, padahal kan kita gak ada keturunan kembar?" tanya Aretha.


"Mungkin ada cuma kita tidak tahu." jawab Ghibran seadanya, dia tak mau memperpanjang jawabannya lagi. Nanti yang ada Aretha malah curiga kepadanya.


"Mungkin juga sih, ehh mas aku lupa mau bilang ini sama kamu dari dulu. Wajah bang Arthan itu kok kayak gak asing ya kalau di lihat, kayak siapa gitu." ucap Aretha membuat Ghibran menelan ludahnya kasar.


"Perasaan kamu aja kali yang, kan memang wajah kita ini memiliki tujuh kembaran." balas Ghibran.


"Iya juga sih, mungkin aku yang salah lihat." setuju Aretha.


Mobil Ghibran sudah sampai di halaman rumahnya. Ghibran segera turun dan keluar memutari mobil untuk membukakan pintu mobil buat Aretha. Setelah Aretha keluar, dengan posesif Ghibran menuntun Aretha masuk ke dalam rumah.


"Assalamualaikum." salam mereka berdua.


"Waalaikum salam, surprise." teriak orang yang ada di dalam rumah membuat Aretha kaget.


"Welcome to home bumil." sambut mereka.


Di sana ada Umi, Abi, Arthan, Ruby, bi Wati dan pak Tomo yang tak ketinggalan.


"Ini kalian semua yang siapin?" tanya Aretha tak percaya melihat dekorasi yang ada di rumahnya.


"Iya dong. Lo percaya gak kalau tadi suami lo itu udah bikin kita kalang kabut buat selesaiin ini semua sebelum lo sampai di rumah." adu Ruby pada Aretha.


"Kamu kasih tahu mereka mas?" tanya Aretha Dan di balas anggukan oleh Ghibran.


"Selamat ya buat kalian berdua z akhirnya gw bakalan segera punya keponakan yang ucul ucul." ucap Ruby memberikan selamat kepada Aretha dan Ghibran.


"Apaan tuh ucul ucul, lo kira calon anak gw tuyul di TV apa." balas Ghibran tak terima.


"Iiih kalian inilah kudet banget sih, ucul ucul itu lucu lucu." jelas Ruby.


"Apalagi itulah kudet Ruby?" tanya Umi Fatimah.


"Kurang update Umi." jawab mereka semua karena hanya Umi Fatimah saja yang tidak tahu.


"Wah ternyata hanya Umi yang tidak tahu." cengir Umi Fatimah.


"Umi sih kurang update, jadi gak tahu bahasa gaul kan." balas Ruby.


"Ya kan Umi sibuk by." balasan Umi.


"Udah udah, karena sekarang tuan putrinya sudah sampai, yuk kita mulai makan makanya." ajak Abi Umar.


"Yuk, Arthan juga udah laper dari tadi dengerin ocehan Ruby mulu." semangat Arthan.


"Gw lagi." pasrah Ruby, karena setiap apa yang di keluhkan oleh Arthan pasti ujung-ujungnya Ruby lah yang di salahkan.


Dasar Arthan.


...***...


Wah 13ribu kata lebih lagi nih untuk hari ini. Makasih ya buat yang udah setia baca cerita ini sampai sini. Author minta kalian tetap lanjut bacanya, dan jangan lupa dukungannya buat author 😁😁😂