
Jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam, tapi Ghibran dan juga Abi Umar belum juga menunjukkan kabar. Dan hal itu membuat Aretha sangat resah, terlebih lagi internet di rumahnya gak bisa di gunakan. Mau pakai kuota Aretha juga tak punya.
Ya begitulah orang kaya, lupa beli kuota karena sibuk memikirkan uangnya buat apa😂
"Umi ada kuota kan, kalau ada Aretha pinjam dong buat hubungi mas Ghibran." ucap Aretha yang sudah resah.
"Umi juga gak ada, ini aja Umi mau hubungi Abi kamu bingung. Udah sabar aja nanti juga bakalan pulang Ghibran nya." bohong Umi Fatimah.
"Ya Allah ampunilah dosa hanya yang sudah membohongi anak hamba lagi." batin Umi Fatimah.
"Gak bisa Umi, ini udah jam tujuh lebih loh. Biasanya mas Ghibran paling malam itu pulangnya jam tujuh sudah sampai rumah. Apalagi semenjak Aretha hamil mas Ghibran gak pernah lagi pulang telat."
"Ya mungkin kan Ghibran pikir sudah ada Umi di rumah jadi dia gak khawatir banget kalau dia harus pulang malam." balas Umi Fatimah.
"Tapi Umi, ini bukan mas Ghibran banget. Biasanya juga dia bakal ngasih kabar sama Aretha. Kalaupun Aretha gak bisa di telfon lewat WA biasanya juga dia langsung telfon pakai pulsa."
"Ya udah kamu sabar aja, kita tunggu satu jam lagi, kalau belum ada kabar juga nanti kita suruh mang Tomo buat beliin kuota." Umi Fatimah menenangkan Aretha agar tidak panik dan berfikir yang tidak tidak.
"Hufft... baiklah."
Aretha kembali duduk dengan tenang ya walaupun pikirannya selalu berlarian kemana mana.
Sebenarnya bukan cuma Aretha yang resah, Umi Fatimah juga. Tapi Umi Fatimah menutupinya dengan bersikap tenang agar Aretha tidak curiga.
Bahkan rasanya Umi Fatimah juga ingin menangis saat mengingat anak lelakinya yang kecelakaan. Tapi Umi Fatimah menahan diri agar tidak menangis.
Satu jam berlalu dengan Aretha dan Umi Fatimah yang sudah selesai melaksanakan sholat isya' dan juga makan malam. Meskipun tadi sempat ada cekcok Aretha yang menolak untuk makan malam dan ingin menunggu Ghibran buat makan malam bersama, tapi dengan kerja keras Umi Fatimah akhirnya Aretha luluh dan mau makan malam juga.
Dan sekarang sudah jam delapan malam lebih lima menit, tapi Ghibran dan juga Abi Umar tak kunjung pulang dan memberikan kabar. Dan hal itu membuat Aretha bingung dan khawatir lagi.
"Umi ayo kita suruh mang Tomo buat beliin kuota, atau kalau perlu kita aja yang pergi." ajak Aretha.
"Sabar dong sayang, biar kita suruh bi Wati panggilkan mang Tomo dulu." Balas Umi Fatimah.
"Bi, bi Wati." panggil Umi Fatimah keras.
"Iya nyonya ada yang bisa saya bantu?" bi Wati berjalan setengah berlari menghampiri Aretha dan Umi Fatimah.
"Mang Tomo ada gak bi?" tanya Umi Fatimah.
"Ada nyonya, mas Tomo ada di belakang." jawab bi Wati.
"Bisa tolong panggilkan gak bi?"
"Bisa nyonya, tunggu sebentar biar saya panggil dulu mas Tomo nya." Bi Wati pun segera ke belakang untuk memangil pak Tomo atas perintah nyonya-nya.
"Assalamualaikum nyonya, ini mas Tomo nya." salam bi Wati dan di belakangnya ada pak Tomo yang mengikutinya.
"Waalaikum salam Bi, makasih ya. Maaf sudah merepotkan bibi." balas Umi Fatimah dan Aretha.
"Tidak nyonya, itu sudah menjadi tugas saya." balas bi Wati.
"Kalau begitu saya pamit ke belakang dulu nyonya, assalamualaikum." pamit bi Wati untuk melanjutkan pekerjaannya.
"Waalaikum salam." balas mereka.
"Mang bisa minta tolong gak?" tanya Umi Fatimah.
"Bisa nyonya, mau minta tolong apa?" tanya pak Tomo.
"Tolong beliin kita kuota dong mang." pinta Aretha menjawab duluan sebelum Umi Fatimah menjawab.
"Bisa nyonya, mana nomornya biar saya belikan di konter depan." jawab pak Tomo.
"Sama saya juga mang, nomor nya mang Tomo udah punya kan nomor saya?" timpal Umi Fatimah.
"Sudah nyonya."balas pak Tomo.
"Kalau begitu saya permisi pergi dulu nyonya." pamit pak Tomo.
"Iya mang hati hati." balas Aretha.
"Assalamualaikum."
"Waalaikum salam."
Pak Tomo pun pergi meninggalkan rumah Ghibran untuk membelikan nyonya nyonya-nya kuota.
Dan tanpa sepengetahuan Aretha, Umi Fatimah menggetikkan sesuatu di ponselnya dan mengirimkannya pada pak Tomo.
"Kita ke kamar kamu aja yuk, dingin di sini." ajak Umi Fatimah dan di angguki oleh Aretha.
Mereka berdua pun pergi ke kamar Aretha. Umi Fatimah berharap kalau Aretha bisa tertidur nanti saat berada di dalam kamarnya agar tak lagi bertanya di mana Ghibran dan menunggu kepulangan Ghibran.
Setengah jam berlalu, tapi Aretha tak kunjung tidur juga. Dia hanya membolak-balikkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri mencari posisi ternyaman karena perutnya yang sudah membesar jadi dia sangat sulit mendapatkan posisi yang nyaman.
"Mang Tomo mana sih mi, kok gak balik balik?" tanya Aretha mendudukkan tubuhnya yang tadi sudah tiduran.
"Mungkin di konternya lagi rame, jadi dia harus ngantri dulu." jawab Umi Fatimah.
Entahlah, kenapa otak Umi Fatimah sedari tadi sangat encer kalau untuk membohongi Aretha. Dan Aretha juga kenapa gak merasa curiga kalau dirinya tengah di bohongin sedari tadi.
"Hufft... lama banget sih." kesal Aretha.
"Udah nanti juga akan pulang mereka semua, lebih baik kita tiduran. Siapa tahu kan nanti waktu bangun Ghibran dan yang lainnya udah pada pulang." ajak Umi Fatimah.
"Tapi Aretha gak bisa tidur Umi, biasanya ada mas Ghibran yang selalu elus elus perut Aretha. Apalagi dari tadi si kembar aktif banget." jawab Aretha.
"Ya udah sini biar Umi yang elusin, siapa tahukan mereka pengen di elusin sama neneknya."
Aretha pun memposisikan dirinya tiduran lagi, dan Umi Fatimah pun dengan lembut mengelus perut Aretha hingga Aretha merasa nyaman dan tertidur.
"Maafkan Umi yang dari tadi selalu bohongin kamu." ucap Umi Fatimah sambil mengelus kepala Aretha.
"Kita doain ya semoga Abang kamu selamat dan cepat di temukan." lanjutnya.
Setelah memastikan Aretha tidak akan bangun, Umi Fatimah pun memutuskan untuk keluar dari kamar Aretha.
Umi Fatimah akan menghubungi Abi Umar atau Ghibran untuk menanyakan perkembangan pencarian Arthan dan Ruby.
"Assalamualaikum nyonya, ini uangnya yang tadi." ucap pak Tomo menghampiri Umi Fatimah.
"Ambil aja mang, simpan saja buat keperluan mang Tomo sama bi Wati." balas Umi Fatimah memberikan uang yang tadi akan buat beli kuota pada pak Tomo.
"Gak usah nyonya, saya gak enak." tolak pak Tomo dengan halus.
"Udah ambil aja mang ga papa." Balas Umi Fatimah memaksa.
"Terimakasih nyonya, sayang doain semoga tuan Arthan cepat ketemu dan bisa berkumpul lagi bersama keluarga di sini."
"Aamiin mang, terimakasih doanya." balas Umi Fatimah.
Setelah itu Umi Fatimah pun pamit pergi ke kamarnya dan pak Tomo juga pergi kembali ke belakang.
...***...