
Ghibran dan Aretha sholat dhuhur berjamaah meskipun dengan keadaan yang canggung. Selesai sholat mereka berdua melakukan kegiatan masing-masing, Ghibran ke ruang kerjanya dan Aretha yang tetap di dalam kamar.
"Apa Ghibran masih marah ya sama aku." gumam Aretha.
Sebenarnya tadi selesai sholat Aretha hendak meminta maaf, tapi entah mengapa bibirnya sangat kelu mengucapkan kata maaf pada Ghibran. Terlebih lagi tadi Ghibran hanya diam saja, membuat Aretha enggan untuk berbicara.
Drrtt drrtt drrtt.
Ponsel Aretha bergetar, Aretha pun segera mengangkat panggilan telepon yang ternyata dari Ruby.
'Assalamualaikum By.' sapa Aretha.
'Waalaikum salam Ret.' balas Ruby dari sebrang sana.
'Lo kok belum datang juga ke toko, lo cuti ya?' tanya Ruby.
'Lo pikun atau apa, gw habis nikah kemaren masak iya gw udah masuk kerja.' sungut Aretha.
'Ya siapa tahu kan lo mau menghindari kebersamaan dengan suami lo, secara kan lo dulu gak mau banget waktu di jodohin.'
'Meskipun gw gak mau, tapi gw juga tahu aturannya. Istri itu surganya ada di suami, jadi ya gw harus mengikuti apa yang suami gw mau, termasuk sekarang gw tinggal di rumah baru.'
'Oooh gitu, berarti lo mau dong kalau Ghibran minta hak nya sama lo.' ucap Ruby membuat Aretha diam.
'Kenapa lo diam Ret? Bukannya lo tadi bilang kalau surga istri itu ada di suami. Dan sedangkan menolak permintaan suami itu dosa.' lanjut Ruby semakin menyindir Aretha.
'Aduh, perut gw sakit gw matiin dulu ya gw mau ke kamar mandi.'
Tut.
Tanpa menunggu jawaban Ruby, Aretha langsung mematikan sambungan teleponnya.
"Hufft...." hela nafas Aretha.
"Ampuni Aretha ya Allah karena sudah berbohong pada sahabat Aretha." ucap Aretha sambil menadahkan tangannya ke atas.
Sekarang Aretha jadi terdiam setelah mengingat apa yang Ruby katakan tadi. Dia paham soal agama, tapi kenapa dia malah tidak melaksanakan apa yang di perintahkan oleh agama. Menyenangkan suami bukankah itu akan mendapatkan pahala, lalu tadi dirinya malah membuat Ghibran sakit hati.
Dengan tekad yang kuat Aretha berjalan menuju dapur dan membuatkan teh hangat untuk dia bawa ke ruangan Ghibran. Dia sudah bertekad akan meminta maaf pada Ghibran, tidak baik jika menunda-nunda kebaikan.
Tok tok tok.
Aretha mengetuk pintu ruangan kerja Ghibran.
"Masuk." jawab orang dari dalam yang tak lain adalah Ghibran.
Ceklek.
"Assalamualaikum." salam Aretha sambil tangannya memegang nampan yang berisi secangkir teh hangat.
"Waalaikum salam." balas Ghibran mengalihkan pandangannya dari laptop ke arah Aretha.
"Eemm... ini ada teh hangat buat kamu, maaf kalau nanti rasanya kurang enak." ucap Aretha meletakkan secangkir teh di atas meja kerja Ghibran.
"Terimakasih." balas Ghibran di balas senyuman oleh Aretha.
Ghibran langsung meminum teh hangat itu, tenggorokannya yang tadi gersang seperti di Padang pasir sekarang sudah sangat lega karena sudah di siram dengan teh hangat buatan orang yang dia cinta.
"Ada lagi?" tanya Ghibran yang melihat Aretha masih setia berdiri di sampingnya.
Bukan berniat mengusir, tapi Ghibran bisa tidak tahan untuk memeluk Aretha nanti kalau Aretha terus menerus berada di sisinya.
"Aku ganggu kamu ya?" bukannya menjawab Aretha malah balik bertanya.
"Eemmm... aku, aku mau minta maaf sama kamu." Huh, akhirnya Aretha bisa juga ngomong, meskipun tadi sempat gugup.
"Minta maaf, minta maaf soal apa? Emang kamu ada salah?" tanya Ghibran heran.
"Itu, soal yang tadi di dapur." Aretha diam sebentar sebelum melanjutkan ucapannya lagi, " Waktu aku bilang tidak nyaman berada di dekat kamu."
"Hei, ngapain minta maaf. Kamu gak salah kok, seharusnya aku yang minta maaf karena sudah membuat kamu tidak nyaman. Bahkan di hari pertama setelah kita menikah aku udah buat kamu tidak nyaman, jadi seharusnya yang minta maaf itu aku bukan kamu."
"Aku minta maaf ya, karena sudah buat kamu tidak nyaman. Maaf juga aku udah jadi laki laki yang pengecut yang tidak berani minta maaf duluan." lanjut Ghibran sambil matanya tak pernah lepas dari Aretha.
"Maafin aku ya." ulang Ghibran sekali lagi dan di balas anggukan lemah oleh Aretha.
"Boleh kah aku memegang tangan kamu?" ucap Ghibran meminta izin.
Hal itu semakin membuat Aretha merasa bersalah. Bahkan sekarang Ghibran ini sudah sah menjadi suami. Dan Ghibran juga sudah halal bersentuhan dengan dirinya, bahkan menyentuh dirinya itu juga seharusnya tidak memerlukan izin. Tapi karena saking menghormati dan mencintai dirinya, Ghibran sampai izin dengan sopan pada Aretha.
"Kenapa harus izin, bahkan tubuh ini sudah milik kamu." balas Aretha sambil tangannya memilin ujung bajunya dan pandangan yang tetap setia menatap ke bawah alias menunduk.
Ghibran tersenyum mendengar itu, dia berdiri mendekati Aretha dan menarik dagu Aretha agar menatap wajahnya.
"Kamu kenapa hmm?" tanya Ghibran lembut di balas gelengan kepala oleh Aretha.
Sekarang posisi mereka sudah sangat berdekatan, bahkan kulit wajah mereka saja hanya tinggal beberapa senti lagi sudah menempel.
"Kenapa istri aku yang banyak tingkah ini sekarang malah jadi pendiem kayak gini, kenapa hmm? Atau kepala kamu habis kejeduk?" tanya Ghibran dengan tangan yang mengelus pipi Aretha yang lembut.
"Apaan sih gak lucu." salting Aretha mengalihkan pandangannya.
"Loh, emang siapa yang ngelawak hmm?" makin mendekatkan wajahnya.
"Ghibran...." mendorong kepala Ghibran.
"Ooh, sepertinya ada yang mau nambahin hukuman."
"Hukuman ap-pa?" tanya Aretha dan langsung mengingatnya.
"Gimana udah ingat, mau di sini atau di kamar hmm?" goda Ghibran semakin membuat perasaan Aretha campur aduk gak karuan, terlebih pipinya sekarang sudah memerah.
"A, a, aku...."
"Apa hmm?"
"Aku mau ke kamar mandi dulu." segera berbalik dan hendak berlari dari hadapan Ghibran tapi Ghibran segera mencekal tangannya.
"Mau kemana hmm, di situ juga ada kamar mandi." tunjuk Ghibran pada pintu kamar mandi yang ada di dalam ruangan kerja Ghibran.
"Aaahh iya, aku ke sana dulu." Aretha menarik tangannya dengan paksa dan berlari menuju kamar mandi.
Ghibran tersenyum dan menggelengkan kepalanya melihat tingkah istri kecilnya itu, ingin sekali Ghibran melahapnya tapi dia akan menunggu waktu yang tepat nanti tidak sekarang.
"Sabar, nanti kalau udah waktunya juga mau di mana pun tetap bisa." gumam Ghibran ambigu.
Ghibran pun kembali duduk di kursi kerjanya dan melanjutkan pekerjaannya tadi sambil menunggu Aretha keluar dari kamar mandi.
Sementara itu, Aretha yang ada di kamar mandi pun tengah mengatur nafasnya yang ngos-ngosan akibat berlari. Dan juga menetralkan detak jantungnya yang berdetak kencang.
"Kalau gini terus aku bisa cepat jatuh cinta sama dia. Ingin menyelidiki pun sepertinya susah." batin Aretha.
Aretha pun memutuskan untuk mencuci tangan dan mukanya, siapa tahukan nanti setelah cuci muka dirinya sudah normal kembali.
...***...