
Arthan keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk saja, dia berjalan menghampiri Ruby yang sudah membawa pakaian untuknya.
"Nih kamu pakai dulu." ucap Ruby menyodorkan pakaian ganti untuk Arthan.
Arthan menerima dan langsung membuangnya ke segala arah sehingga membuat kening Ruby berkerut.
"Jangan mulai deh." ucap Ruby hendak mengambil pakaian yang Arthan buang tapi langsung di tahan oleh Arthan.
"Eistt...." tahan Arthan memegang tangan Ruby.
"Apa sih, aku mau ambil pakaian kamu dulu." kesal Ruby.
"Udah gak usah di ambil. Lagian ngapain sih pakai baju, nanti juga bakalan di lepas juga." balas Arthan menarik tangan Ruby dan membawanya menuju ranjang.
Arthan menidurkan tubuh Ruby di atas ranjang dan menindihnya. Jarak wajah mereka sangatlah sedikit. Mungkin jika Arthan memajukan bibirnya sedikit saja bibir mereka akan bersatu.
Mereka berdua saling pandang satu sama lain. Hingga pandangan Arthan terfokuskan pada bibir ranum Ruby yang selalu membuat dirinya salah fokus.
Cup.
Arthan mengecup bibir Ruby dan diam di sana. Mata Ruby melotot sempurna karena mendapatkan serangan mendadak. Tapi tak ulung dia juga menikmati ciumannya.
Ruby teringat kalau istri yang meminta terlebih dahulu maka istri akan mendapatkan pahala yang sangat besar, maka mengingat itu membuat Ruby berinisiatif untuk mengerakkan bibirnya di bibir Arthan.
Karena ini yang pertama buat Ruby, jadi dia masih amatiran. Dan Arthan yang merasakan itu pun tersenyum senang. Dengan cepat Arthan membalik keadaan menjadi dirinya yang berkuasa dan dirinya yang memimpin agenda ciuman ini.
Suara decapan bibir mereka berdua terdengar di seluruh penjuru kamar. Hingga Arthan merasa pasokan nafas Ruby menipis barulah Arthan melepaskan ciumannya.
"Gilak kamu mau bunuh aku ya." marah Ruby dengan nafas yang tersengal-sengal.
"Ssttt... bisa gak sehari aja gak marah marah." ucap Arthan sambil telunjuk tangannya berada di depan bibir Ruby.
"Kamu yang buat aku marah marah kayak gini." sungut Ruby tak terima.
"Aah." de**h Ruby saat Arthan tiba-tiba menghisap lehernya bak vampir yang tengah memangsa mangsanya.
Ingin rasanya Ruby menyumpal bibir Arthan, bagaimana bisa, dia yang berbuat pada tubuhnya ehh malah sang pemilik tubuh gak boleh bersuara, kan itu gila.
Arthan menjatuhkan tubuhnya lagi di bahu Ruby dan bibirnya tak pernah berhenti untuk menjilat ataupun menghisap leher dan bahu Ruby sehingga membuat tubuh Ruby semakin meremang dan terangsang.
Ruby yang tidak tahan dengan rangsangan yang di berikan Arthan pun tanpa ba-bi-bu langsung menarik kepala Arthan dan mencium bibir Arthan dengan ganasnya.
Arthan yang merasa itu pun sempat kaget, tapi setelah itu dia mulai menikmati ciuman yang Ruby berikan. Di rasa Ruby mau melepaskan ciumannya, Arthan dengan cepat memegang tengkuk Ruby agar ciuman mereka semakin dalam.
"Eemhh...." lengkuh Ruby saat tangan Arthan mulai berjalan nakal.
"Enak hmm?" tanya Arthan dengan tangan yang masih setia bertengker di atas buah Ruby.
Ruby yang sudah terangsang pun hanya menganggukkan kepalanya saja sambil matanya merem melek.
Saat tangan Arthan akan menyentuh bagian bawah Ruby, Ruby langsung menahannya.
"Tunggu." ucap Ruby membuat Arthan menghentikan kegiatannya.
"Aku mau ke kamar mandi dulu." ucap Ruby dan langsung berlari menuju kamar mandi.
"Hufft...." hela nafas Arthan yang tersiksa, karena bagian tubuhnya yang lain sudah mulai berdiri.
Arthan pun tiduran terlentang di atas ranjang sambil melihat langit langit kamarnya. Tak berapa lama pintu kamar mandi terbuka dan Arthan pun langsung menoleh ke arah sana.
"Mas." pangil Ruby yang hanya menampilkan kepalanya saja, sedangkan tubuhnya berada dalam kamar mandi.
Arthan pun bangun dan melihat ke arah Ruby.
"Tolong beliin aku pembalut ya."
JEDER
...***...