AG: Aretha Ghibran

AG: Aretha Ghibran
part 24



Deg.


Entah ke berapa kalinya jantung Aretha di buat berdetak oleh Ghibran. Aretha diam memandang Abi Umar serta Ghibran yang tengah asik berbincang sambil menunggu kedatangannya.


"Udah yuk, yang lain udah nungguin." ajak Umi Fatimah membuyarkan lamunan Aretha.


Dengan berat hati Aretha mengikuti langkah Umi Fatimah. Sampai di sana Aretha segera mengambil tempat duduk di depan Abi Umar sebelum ke duluan Umi Fatimah.


"Loh, itukan tempat Umi." ucap Umi Fatimah.


"Iiisss Umi, sekali kali napa Aretha duduk di sini. Kan Aretha juga mau berhadapan sama Abi." balas Aretha.


"Udah kalian jangan ribut, ayo kita makan. Kasian nak Ghibran udah nungguin dari tadi." sela Abi Umar menengahi pembicaraan ibu dan anak.


Ghibran hanya tersenyum saja melihat keadaan di hadapannya, dalam hatinya dia berdoa semoga saja rumah tangganya nanti bisa seharmonis keluarga Abi Umar.


Melihat ada makanan kesukaannya yang tak lain adalah tempe mendoan, dengan semangat Aretha mengambil nasi serta lauk pauk tanpa menghiraukan adanya Ghibran di sana. Aretha mengganggap sekarang ini dia hanya makan bersama kedua orang tuanya saja tanpa ada orang lain.


"Emmmm ini enak banget Umi tempenya, bisa dong Umi buatin Aretha tempe mendoan tiap hari." puji Aretha setelah mencoba tempe mendoan buatan Ghibran.


"Tapi itu bukan Umi yang buat." balas Umi Fatimah.


"Ooh pasti bibi, nanti aku minta dia buatin lagi aja." tebak Aretha.


"Bukan Retha, itu yang buat nak Ghibran. Bahkan semua makanan ini yang masak nak Ghibran."


"Uhhukk uhhukk." Aretha tersedak setelah mendengar apa yang Umi Fatimah katakan.


"Makanya kalau makan itu pelan pelan, gak bakal ada yang minta kok. Lagian di belakang masih banyak, tadi nak Ghibran buat banyak karena Umi bilang kalau itu makanan kesukaan kamu." ucap Umi Fatimah sambil memberikan air putih pada Aretha.


Ghibran berusaha menahan senyumnya agar tidak terlihat oleh siapapun. Dia harus tetap cool di hadapan calon mertua serta istrinya. Bagaimana pun hati Ghibran berbunga bunga akibat dari pujian Aretha yang menyukai masakannya. Ingin rasanya Ghibran terbang melambung ke atas awan sebagai bentuk dari rasa senangnya.


"Aduh malu banget gw, tapi makanannya beneran enak sih." batin Aretha.


"Ayo di lanjut lagi makannya." ajak Umi Fatimah.


Mereka pun melanjutkan acara sarapan, nafsu makan Aretha sudah hilang. Dia berusaha menghabiskan makanannya, mana tadi dia ngambil banyak banget lagi. Mau di buang itu mubadhir, akhirnya Aretha memilih untuk menghabiskan makanannya.


"Ayo nak Ghibran silahkan nambah lagi, ini masih banyak loh." ucap Umi Fatimah pada Ghibran.


"Iya Mi, ini sudah banyak kok." tolak Ghibran secara halus.


"Jangan sungkan sungkan, anggap aja ini rumah sendiri." balas Umi Fatimah di balas senyuman manis oleh Ghibran.


"Idih pakek senyum senyum segala lagi. Ehh tapi senyumnya manis juga. Astaghfirullah hallazim sadar Retha sadar, lo gak boleh menatap lawan jenis yang bukan mahram begitu." Batin Aretha.


Selesai makan Abi Umar pergi ke kamar di ikuti Umi Fatimah untuk bersiap ke kantor, sedangkan Aretha pergi ke dapur untuk mencuci piring yang kotor bekas sarapan tadi.


"Sini biar aku aja yang cuci piring, kamu bisa duduk di sana." ucap Ghibran menghampiri Aretha yang bersiap untuk mencuci piring.


"Gak usah biar gw aja. Udah sana kamu pergi, kita gak boleh berduaan di sini." sinis Aretha mengusir Ghibran.


"Kamu saja yang pergi biar aku yang cuci piring." kekeuh Ghibran.


"Kamu ngerti bahasa manusia gak sih, aku bilang pergi ya pergi. Ini rumah aku kalau kamu lupa." bentak Aretha yang sudah kesal menghadapi Ghibran.


"Ya udah aku ke ruang tamu dulu, nanti kalau perlu bantuan bisa pangil aku." ngalah Ghibran.


"Gak akan." balas Aretha sinis.


"Hufft... nyusahin aja." ngedumel Aretha setelah kepergian Ghibran.


Aretha pun mencuci semua piring serta peralatan masak yang kotor dengan sabun. Saat akan membilasnya tiba tiba kran air di tempat mencuci piring copot, Aretha berusaha memasangnya tapi tetap tidak bisa. Malah airnya muncrat ke mana mana, sehingga membasahi tubuh Aretha.


"Abi tolong kran airnya lepas." teriak Aretha memangil Abi Umar.


"Aduh Abi kemana sih, ini kalau di lepas airnya makin banyak." Gerutu Aretha karena Abi Umar tak kunjung datang sambil tangannya menahan air yang keluar terus terusan dari dalam kran.


"Abi, Umi tolongin Aretha, airnya gak mau berhenti." teriak Aretha lagi tapi tak ada jawaban juga.


"Bibi." teriak Aretha lagi.


"Bibi cepat ke sini." teriak Aretha memangil pembantunya.


"Iya non ada ap... Astaghfirullah ini kenapa bisa banjir seperti ini." heboh Bibi setelah melihat keadaan dapur yang sudah basah semua.


"Bibi kagetnya nanti aja, sekarang cepat bantuin Aretha pangil Abi. Ini airnya gak bisa berhenti." suruh Aretha.


"Bentar nona saya pangil tuan dulu." Bibi pun segera berlari untuk memanggil Abi Umar, tapi saat akan menaiki anak tangga dia berpapasan dengan Ghibran.


"Ada apa Bi, kok Aretha teriak teriak?" tanya Ghibran yang tadi akan melihat keadaan di dapur.


"Itu Den, kran airnya copot terus non Aretha gak bisa benerin jadi airnya keluar terus." jelas bibi.


Mendengar itu Ghibran pun segera berlari untuk membantu Aretha di dapur.


"Kamu minggir dulu, biar aku coba benerin." ucap Ghibran setelah sampai di dapur.


"Loh kok malah kamu yang datang bukannya Abi, mana Abi?" tanya Aretha yang melihat Ghibran di belakangnya.


"Udah kamu minggir dulu, gak suka sama akunya nanti aja ini di benerin dulu." tegas Ghibran.


Aretha yang mendengar itupun dengan sendirinya minggir. Mungkin karena dia tidak pernah mendengar Ghibran berbicara setegas itu sampai sampai di buat melongo kayak gitu.


Ghibran berusaha memasang kran itu kembali tapi agak susah karena ada yang pecah di bagian selang penghubungnya.


"Tolong kamu ambilin Tang." pinta Ghibran pada Aretha.


Mendengar perintah Ghibran, Aretha dan bibi segera mencari Tang di gudang deket dapur, setelah mendapatkannya Aretha segera memberikannya pada Ghibran.


"Ini." memberikan tang pada Ghibran.


"Terimakasih." balas Ghibran tak lupa dengan senyuman yang menghiasi wajahnya.


Ghibran pun kembali berusaha membenarkan kran air itu, dengan agak kesusahan akhirnya kran itu kembali terpasang dengan sempurna.


"Alhamdulillah." syukur Ghibran setelah berhasil memasang kran dengan benar.


"Alhamdulillah." balas bibi, sedangkan Aretha hanya diam saja.


Jangan di tanya bagaimana keadaan pakaian Ghibran sekarang, yang jelas sudah basah kuyup semua sama seperti Aretha.


"Astaghfirullah kalian habis ngapain?"


...***...