
Ghibran berjalan semakin mendekat pada tubuh Aretha, dan Aretha pun tak mau kalah. Dia mundur selangkah demi selangkah untuk menjauh dari Ghibran, apalagi setelah dia berbuat kesalahan lagi. Jadi makin ngeri dia pada Ghibran.
Duk.
Kaki Aretha terbentur ranjang hingga membuat dia terduduk di atas ranjang. Dan Ghibran sudah berada di hadapannya. Aretha pun semakin menutup mata serta wajahnya mengunakan tangannya.
Cup.
"Maaf aku belum bisa jadi suami yang baik buat kamu." deep voice Ghibran setelah mencium kening Aretha yang tidak tertutup oleh tangan.
Deg.
Jantung Aretha rasanya ingin melompat keluar dan bergoyang akibat perbuatan dan ucapan Ghibran.
Perlahan Aretha menurunkan tangannya dan membuka kelopak matanya dengan perlahan hingga pandangannya bertemu dengan mata Ghibran yang sedari tadi menatapnya.
"Aku gak bakal hukum kamu sekarang karena aku mau ngajak kamu keluar, tapi bukan berarti aku melupakan hukuman buat kamu. Nanti malam kamu harus siap siap. Ingat hukuman untuk kamu naik berkali-kali lipat karena perbuatan kamu sendiri, terlebih lagi aku belum menagih janji yang sudah kamu buat." ucap Ghibran di depan wajah Aretha.
Cup.
"Sana kamu siap siap, aku mau ngajak kamu keluar." perintah Ghibran setelah mencuri ciuman Aretha.
Setelah mengucapkan itu Ghibran mengambil pakaiannya yang sudah di siapkan Aretha dan memakainya di ruang ganti karena kalau makai di depan Aretha takutnya Aretha akan heboh seperti tadi.
Sementara itu Aretha tengah setengah sadar menerima semua perlakuan Ghibran. Terlebih lagi tadi saat Ghibran mencuri ciumannya, dia tidak sadar akan hal itu. Baru setelah Ghibran masuk ke ruang ganti barulah dia sadar.
"Bibir gw."heboh Aretha memegang bibirnya.
"Kenapa gw bisa kecolongan sih, ehh tapikan emang Ghibran berhak mencium gw." gumam Aretha.
"Aretha sayang cepat mandi, kita akan keluar." teriak Ghibran dari dalam ruang ganti yang menyadari belum ada pergerakan dari Aretha.
"Iya." jawab Aretha dan beranjak pergi menuju kamar mandi dengan membawa pakaian ganti yang sudah dia siapkan.
-
Sekarang Ghibran dan Aretha sudah berada dalam mobil Ghibran dengan Ghibran yang memegang kemudi dan Aretha yang duduk di jok sampingnya.
"Kita mau ke mana?" tanya Aretha penasaran.
"Ada deh nanti kamu juga bakalan tahu." balas Ghibran menoleh pada Aretha sebentar.
Aretha mendengus sebal mendengar jawaban dari Ghibran, tak mau ambil pusing Aretha pun menyibukkan dirinya dengan bermain ponsel dan berbalas chat dengan sahabatnya. Dan Ghibran pun fokus dengan kemudi.
"Kenapa kamu senyum senyum kayak gitu?" tanya Ghibran kepo plus cemburu.
"Oh ini lucu." jawab Aretha sambil memperlihatkan room chat dia dengan seseorang.
"Chat siapa itu?"
"Ada deh, kepo kamu." balas Aretha tak mau memberitahu dengan siapa dia berbalas chat.
"Siapa orang yang sudah buat istri gw tersenyum kayak gitu, mana senyumnya manis banget lagi. Awas aja nanti kalau dia cowok, gw abisin kalau ketemu." batin Ghibran yang tengah cembekur alias cemburu.
Aretha kembali tersenyum bahkan kadang dia juga tertawa hingga membuat hati Ghibran panas'dingin. Ingin rasanya Ghibran mengambil ponsel Aretha dengan paksa, tapi Ghibran segera menahan keinginannya itu, bisa bisa nanti Aretha makin tidak suka kepadanya. Gak ada pilihan lain selain memendam rasa cemburunya sendiri.
...Room chat...
Ruby anak Rubah.
Lo tahu gak Ret, tadi gw di suruh nenenin cowok waktu di toko.
*Nemenin,
Astaghfirullah maaf ya Allah Ruby typo.
^^^Aretha anak Sholehah.^^^
^^^gitu aja sampai typo.^^^
^^^Ehh astaghfirullah,^^^
^^^maaf udah bicara kasar.^^^
^^^/Dalam hati bilang tapi boong.^^^
Si anjir Lo,
Trus lo tahu gak tadi dia ngomong apa?
^^^Enggak^^^
Gw belum selesai ngetik anjir.
Lo kok setelah nikah makin ngeselin sih.
^^^Masak sih, perasaan gw makin cantik deh.^^^
Tauk dah serah lo.
Intinya tadi bilang kalau gw tuh cantik.
^^^Seriusan dia bilang gitu, ^^^
^^^pasti mata dia lagi katarak deh makanya bilang gitu.^^^
Lo mah gitu, gak bisa liat temennya seneng dikit. Tapi habis itu dia bilang kalau gw cantik kalau di lihat dari lubang semut. Kan tai tuh orang. Mana habis itu dia izin ke kamar mandi terus kan gw tungguin ehh sampai hampir setengah jam dia gak balik. Ya udah gw cek dong ke kamar mandi, ehh ternyata dia gak ada di sana. Dan waktu gw lihat cctv ternyata dia udah pulang dari tadi. Dan lo tahu apa yang bikin gw kesel?
^^^Enggak lah, orang lo belum bilang.^^^
Ternyata dia belum bayar, dia bilang kepada kasir kalau aku yang bakal bayarin katanya temenku gitu. Lo tahu gak, kue yang dia pesan tuh yang harganya paling tinggi dan dia pesan tiga kue sekaligus. Lo tahu kan harga kuenya berapa apalagi kalau di kali tiga. Tekor gw Aretha....πππ
Mana bulan ini pengeluaran lagi banyak banyak nya lagiππ
^^^Hahaha maaf gw ketawa, lucu banget soalnya.^^^
^^^Gw gak bisa bayangin gimana muka lo saat ini. Kalau karena gak ada urusan, pasti gw dah ke toko cuma buat liat muka lo πππ^^^
Kampret Lo, dah lah gw mau lanjut buat adonan kue. Cepetan masuk ke toko, kita semua keteteran kalau lo gak ada.
Begitulah isi percakapan Aretha dan Ruby yang membuat Aretha tersenyum hingga tertawa sendiri. Aretha tidak bisa membayangkan kondisi muka sahabatnya yang habis di tipu oleh cowok. Mana Aretha tahu kalau gimana kondisi keuangan sahabatnya itu. Aretha berencana nanti akan mengganti uang Ruby, tapi tidak sekarang nanti saja biar sekarang Ruby bersedih sedih dulu.
Aretha sahabat yang baik bukan?
Aretha tak melihat ke arah Ghibran sama sekali, jadi dia tidak tahu kondisi wajah Ghibran yang tengah menahan rasa cemburu kepadanya.
Tiba tiba mobil Ghibran berhenti di suatu tempat dan Aretha yang sedari tadi fokus menatap ponsel pun bertanya pada Ghibran.
"Kok berhenti?"
"Tuh lihat depan." suruh Ghibran.
Aretha pun menoleh ke depan dan ternyata mereka sudah sampai. Ghibran membawa Aretha ke sebuah restoran bintang lima dan di samping restoran dengan jarak yang hanya beberapa meter ada sebuah taman yang di lengkapi mainan anak anak serta banyak penjual manisan di sana.
Ghibran turun duluan dari mobil dan setelah itu dia memutar dan membukakan pintu mobil untuk Aretha.
"Kita main ke taman dulu ya!" ajak Ghibran dan di angguki Aretha.
Mereka berjalan berdampingan dengan tangan Aretha yang berada dalam genggaman tangan Ghibran. Sebenarnya Aretha risih dan merasa aneh, tapi mau bagaimana lagi menolak pun dia sungkan.
"Yuk duduk di sana." tunjuk Aretha yang melihat ada bangku taman yang kebetulan baru di tinggalkan oleh orang yang menempatinya.
...***...