
Ghibran sudah enam kali bolak balik dari kamar mandi karena perutnya sangat mules akibat makan nasi goreng buatan dia sendiri tadi. Sekarang dia tengah duduk bersandar di kepala ranjang dengan Aretha yang memijat kakinya dan mengolesi perut Ghibran dengan minyak kayu putih karena merasa bersalah.
Sekarang jam sudah menunjukkan pukul enam pagi, seharusnya Ghibran sudah bersiap pergi ke cafe. Tapi melihat keadaannya yang seperti ini membuatnya menunda keberangkatannya ke cafe.
"Mas...." pangil Aretha lirih tidak berani menatap Ghibran sambil terus memijat kaki Ghibran.
Ghibran hanya diam saja tak membalas Panggilan Aretha. Ghibran sudah terlalu kesal dengan istrinya ini. Ingin rasanya Ghibran tukar tambah di shop*e tapi itu tidak mungkin karena dia sangat mencintainya.
"Maaass...." pangil Aretha lagi, kali ini dia sambil menggoyangkan kaki Ghibran.
"Hmm." balas Ghibran dingin.
"Maaf...."
Ghibran diam saja tak membalas permintaan maaf Aretha.
"Mas, aku minta maaf...."
"Maaf sudah buat mas Ghibran sakit perut. Maaf hiks hiks hiks...." lanjut Aretha mulai menangis.
Kalau sudah begini, Ghibran juga yang repot nenangin.
"Ssttt... udah ya jangan nangis, udah mas maafin kok. Lain kali jangan gitu lagi ya, kan kamu tahu mas gak terlalu suka pedas." Ghibran membawa Aretha ke dalam pelukannya sambil menenangkan Aretha.
"Aretha minta maaf hiks hiks hiks...."
"Iya mas maafin, udah ya jangan nangis. Nanti dedek bayinya jadi ikutan sedih loh." rayu Ghibran dengan iming-iming dedek bayi, karena biasanya itu akan sangat manjur.
"Ya udah hiks, aku gak mau nangis lagi. Nanti dedek bayinya sedih hiks." mengusap air matanya kasar.
"Nah gitu dong, itu baru istri mas." Ghibran membantu menghapus air mata Aretha yang masih tertinggal di pipi Aretha.
Mereka berdua saling berpelukan hingga hampir siang barulah mereka menyudahinya.
Ghibran yang merasa perutnya sudah membaik pun memutuskan untuk bersiap pergi ke cafe. Dia juga melarang Aretha untuk pergi ke toko rotinya. Ghibran menyuruh Aretha tetap di rumah saja dan memantau perkembangan toko di rumah tidak usah ke toko untuk hari ini. Dan sebagai istri yang baik, Aretha pun menuruti semua perintah suaminya itu. Ini semua juga demi kebaikan dirinya dan calon anak mereka.
"Aku berangkat dulu ya sayang, kamu di rumah hati hati. Kalau perlu apa apa minta sama bi Wati." Ucap Ghibran berpamitan pada Aretha.
"Iya mas, kamu juga hati hati ya." balas Aretha.
"Iya ayah, dedek gak akan nakal kok. Kan sedekah anak baik." balas Aretha menirukan suara anak kecil.
"Ya udah mas pergi dulu, Assalamualaikum."
"Waalaikum salam."
Sebelum pergi Ghibran menyempatkan diri untuk mencium puncak kepala Aretha dan mencium perut Aretha yang mulai membuncit.
Setelah kepergian Ghibran, Aretha memutuskan untuk tetap di kamar dan segera menghubungi Ruby untuk menanyakan keadaan toko.
-
"Si*l*n berani beraninya dia buat masalah di perusahaan ku." marah Abi Umar melihat ada orang yang menghack keamanan perusahaan miliknya.
"Kamu urus semuanya, saya mau pergi dulu." ucap Abi Umar pada sekertarisnya dan segera pergi meninggalkan perusahaannya menuju ke sebuah tempat.
'Assalamualaikum Bi.' sapa Ghibran dari sebrang sana.
'Waalaikum salam nak.' balas Abi Umar.
Ya dalam perjalanan sambil mengendarai mobil, Abi Umar menelfon Ghibran untuk mengajaknya ketemu. Sekarang jam sudah menunjukkan hampir waktunya makan siang. Maka Abi Umar akan pergi ke cafe Ghibran sekalian untuk makan siang dan membicarakan sesuatu terkait dengan apa yang menimpa perusahaannya.
'Kamu ada di cafe kan nak?' tanya Abi Umar.
'Iya bi, ini baru saja Ghibran menyelesaikan pekerjaan Ghibran. Emang kenapa bi?' balas tanya Ghibran.
'Abi mau membicarakan sesuatu sama kamu, nanti saja Abi ceritakan di sana. Kalau gitu Abi tutup dulu karena Abi lagi ada di jalan.'
'Iya Bi, Ghibran tunggu di sini. Biar Ghibran juga sekalian ajak bang Arthan.'
'Iya nak, Abi tutup dulu Assalamualaikum.'
'Waalaikum salam.' balas Ghibran dan panggilan pun berakhir.
Abi Umar segera menambah kecepatan laju mobilnya agar segera sampai di tempat Ghibran.
...***...