
Hari berganti dengan cepet, sudah satu Minggu ini Arthan dan juga Ruby menghilang dan tak kunjung ketemu juga. Para tim sar sudah mengakhiri pencarian tadi siang. Mereka menyimpulkan kalau Arthan dan juga Ruby sudah di makan buaya.
Semua anggota keluarga pun sudah pasrah, mereka sudah ikhlas jika harus kehilangan Ruby dan Arthan. Haikal bahkan sudah tidak lagi menangis, dia malah sering mendoakan kakaknya agar tetap aman meskipun entah berada di mana kakaknya.
"Berarti nanti malam kita mengadakan pengajian bi?" tanya Ghibran pada Abi Umar.
"Sepertinya begitu, kalau seandainya mereka masih hidup di sana biar mereka tetap di berikan perlindungan sama Allah. Dan kalaupun mereka memang beneran sudah tidak ada biar arwah mereka tenang di sisinya." ucap Abi Umar.
"Abi yang sabar ya, kita harus bisa mengikhlaskan kepergian mereka." Ghibran menenangkan Abi Umar.
"Iya nak."
"Kak, besok Haikal pamit pulang ya." ucap Haikal membuat mereka semua menatap Haikal.
"Kenapa pulang Kal, di sini aja ya. Kan kamu sendirian di sana." balas Aretha merangkul Haikal yang duduk di sebelahnya.
Ghibran yang melihat itu pun matanya melotot, tapi Aretha tak memperdulikan itu. Dasar emang suami posesif.
"Haikal gak enak kak, Haikal sudah banyak merepotkan kakak sama keluarga kakak." balas Haikal sedu.
"Hei sini dong duduk sama Om." pangil Abi Umar.
"Sana gih." suruh Aretha agar Haikal mau mendekati Abi Umar.
Haikal pun berdiri dan pindah duduk di samping Abi Umar di tengah tengah antara Abi Umar dan juga Umi Fatimah.
"Kenapa Haikal mau pulang hmm, apakah di sini ada yang jahat sama Haikal?" tanya Abi Umar.
"Tidak Om, semua orang di sini baik sama Haikal. Mereka gak pernah marahin Haikal." jawab Haikal.
"Terus kalau seperti itu kenapa kamu mau pulang?"
"Haikal tidak enak sama kalian, Haikal sudah banyak merepotkan kalian. Haikal berani kok kalau tinggal sendiri di kontrakan." jawab Haikal yang sekarang sudah keluar air matanya.
"Hei dengerin Om. Kamu jangan pernah berfikir seperti itu, kita semua di sini senang kok kalau ada kamu. Kami semua tidak merasa di repotkan. Jadi kamu tetap di sini ya, gak usah pulang." Abi Umar memeluk Haikal.
"Dengerin Om ya, mulai sekarang kamu kalau pangil Om sama Tante Abi sama Umi juga ya, biar sama seperti kak Aretha dan kak Ghibran."
"Bener kan Umi?" tanya Abi Umar meminta persetujuan Umi Fatimah.
"Iya nak, pangil Umi ya. Dan Haikal jangan pulang, tetap di sini sama kita ya." timpal Umi Fatimah yang sekarang malah ikutan menangis haru.
"Tapi...."
"Ssttt... ini semua demi kebaikan kamu, emang kamu mau tinggal sendirian. Terus nanti juga siapa yang bakalan kasih biaya buat kamu hidup di sana." Abi Umar menyela ucapan Haikal.
"Haikal masih punya uang banyak kok, dulu sebelum kak Arthan hilang dia sempat kasih uang sama Haikal." jawab Haikal.
"Terus sekarang uangnya mana?" Tanya Abi Umar.
"Ada di kamar, biar Haikal ambil." Haikal mengelap air matanya dan berlari menuju kamar dia.
"Abi sama Umi serius mau angkat Haikal jadi anak kalian?" tanya Aretha.
"Abi sama Umi sudah membicarakan ini semalam. Dan kita tidak menggangkat Haikal sebagai anak yang sah, dia tetap jadi adik Ruby. Tapi dia juga sekarang tanggung jawab Abi sama Umi." jelas Abi Umar.
"Apakah kamu keberatan?" lanjut Abi Umar.
"Ini uangnya." ucap Haikal yang baru datang sambil membawa tas ransel.
"Seriusan sebanyak ini?" tanya Ghibran tak percaya.
Pasalnya di dalam tas ransel berukuran sedang itu isinya uang seratus ribuan semua. Ada banyak gepok di sana, Ghibran tak menyangka jika anak sekecil Haikal bisa memegang uang sebanyak itu.
"Iya kak, kata kak Ruby dulu aku suruh balikin ke kak Arthan. Tapi waktu mau aku balikin ternyata kak Arthannya sudah gak ada." jawab Haikal.
"Ya sudah, supaya aman nanti Abi buatin Haikal rekening ATM ya. Biar uang Haikal tetap aman." ucap Abi Umar.
"Iya Bi." balas Haikal setuju.
"Ini bi uangnya, kan sekarang Abi orang tuanya Haikal, jadi Abi aja yang bawa." ucap Haikal polos.
Meskipun Haikal harus bersikap dewasa, tapi Haikal tetaplah anak kecil yang masih membutuhkan kasih sayang orang tua. Jadi tadi saat Abi Umar bilang kalau Haikal di suruh manggil mereka dengan sebutan Abi dan Umi hati Haikal rasanya sangat bahagia.
"Iya nak, terimakasih sudah mau menerima Abi sama Umi."
"Tidak Abi, seharusnya Haikal yang bilang terimakasih karena kalian sudah mau merawat Haikal." balas Haikal.
"Iya nak."
Abi Umar pun memeluk Haikal lagi. Suasana pun berubah menjadi sedu, mereka semua ikut sedih melihat apa yang ada di hadapannya. Sejenak mereka melupakan Arthan dan Ruby, hingga Haikal melepaskan pelukannya.
"Bi, bolehkah besok kita tabur bunga di sungai itu." ucap Haikal.
"Oh iya Abi lupa, iya besok kita akan ke sana. Dan nanti malam kita akan mengadakan pengajian di sini. Haikal kamu nanti sama kak Adam pergi ke kontrakan kamu ya, undang semua tetangga kamu agar datang di acara pengajian nanti malam." ucap Abi Umar panjang lebar.
"Siap bi." balas Haikal membuat semua orang tersenyum.
"Ya udah yuk, kita siapkan semuanya. Biar nanti tidak terlalu mendesak." ajak Umi Fatimah.
Mereka semua pun mulai menyiapkan semuanya, mulai dari tempat dan makanan untuk nanti malam. Dan Haikal pun pergi bersama Adam yang baru saja sampai di sana.
-
Sementara itu, di tempat Arthan dan juga Ruby, mereka tengah menatap layar laptop yang ada di meja ruang tamu.
"Masak mereka kira kita udah meninggal sih yang." tak habis pikir Arthan melihat keluarganya yang akan mengadakan pengajian sekaligus tabur bunga besok.
"Ya kan kita gak bilang sama mereka kalau kita masih hidup. Gimana sih kamu itu." balas Ruby.
"Ya kan ini demi kebaikan kita bersama, agar dalang dalam masalah ini keluar." balas Arthan tak mau kalah.
"Ya udah jadi kamu harus terima nasib." balas Ruby.
Jika kalian bertanya dari mana Arthan mendapatkan laptop dan tahu apa yang keluarganya lakukan, jawabnya adalah, laptopnya menyewa milik orang. Sedangkan Arthan langsung merentas cctv yang ada di rumah Ghibran untuk mengetahui gimana keadaan keluarganya, jadi dari situlah Arthan dan Ruby tahu kalau keluarga mereka akan mengadakan pengajian.
"Ehh tapi kok kamu bisa kasih uang yang banyak sih buat Haikal?" tanya Ruby penasaran.
"Kenapa kamu mau juga?"
...***...