AG: Aretha Ghibran

AG: Aretha Ghibran
part 71



Setelah mengkhodo' sholat subuh dan sekalian sholat sunah Dhuha mereka berdua keluar dari kamar dan menuju meja makan untuk mengisi perut mereka yang sudah keroncongan.


"Pagi banget ya kalau bangun." Ucap seseorang menghentikan langkah Aretha dan Ghibran.


Aretha dan Ghibran pun berbalik dan menatap ke arah asal suara tersebut.


"Loh bang Arthan kok sudah ada di sini?" tanya Ghibran kaget dan berjalan menghampiri Arthan yang berada du ruang tamu sambil menuntun istrinya yang kesusahan dalam berjalan.


"Udah dari tadi gw di sini, mungkin kalian tadi belum bangun." balas Arthan.


Aretha malu karena dia ketahuan bangun kesiangan oleh orang lain. Sedangkan Ghibran dia hanya biasa saja. Masa bodo dengan apa kata orang, yang penting dia enak enak tadi malam.


"Terus Abang tahu dari mana alamat rumah aku." tanya Ghibran duduk di depan Arthan dan Aretha duduk di sampingnya.


"Itu mah soal gampang, apa sih yang gw gak tahu." sombong Arthan.


"Cih, bilang saja dapat dari Abi." decih Ghibran dan di balas cengiran oleh Arthan.


"Tunggu deh, kalian kok kayak dekat banget gitu? Terus kamu juga kenapa manggil dia Abang?" tanya Aretha penasaran.


"Ya kan kita emang deket yang mulai dari Malang kemaren. Kalau soal panggilan itu karena aku pingin punya Abang." jawab Ghibran, meskipun tak masuk akal tapi Aretha tetap saja percaya.


"Abang udah makan belum, kalau belum ayo kita sarapan bareng." ajak Ghibran.


"Ya udah ayo." setuju Arthan dan menyelonong begitu saja menuju meja makan.


"Lah, ini sebenarnya rumah siapa sih mas?" heran Aretha dan di balas gelengan oleh Ghibran.


Ghibran pun membantu Aretha berjalan menuju meja makan dan mempersilahkan Aretha untuk duduk di kursi makan.


Mereka bertiga makan dengan tenang, dan setelah itu Ghibran mengajak Arthan menuju ruang kerjanya setelah menghantarkan Aretha kembali ke dalam kamar.


-


Ruby sudah sampai di toko roti Aretha. Dia segera menyimpan barang bawaannya ke dalam loker sebelum mulai untuk bekerja. Sebelum memasukkan ponselnya ke dalam tas Ruby menyempatkan dirinya untuk membuka m-banking miliknya untuk mengecek berapa jumlah uang yang Arthan transfer kepadanya.


"Astaghfirullah hallazim." keget Ruby setelah melihat berapa nominal yang tertera di m-banking miliknya.


Delapan angka di belakang angka satu, dan itu menurut Ruby jumlahnya sangatlah banyak.


Bahkan jika gajinya di gabungkan mungkin akan sampai beberapa tahun Ruby mengumpulkannya.


"Gila sih ini, dasar orang gila awas aja nanti." Ruby pun memasukkan ponselnya ke dalam tas dan memasukkan tasnya ke dalam loker dan mengguncinya kembali.


Setelah itu Ruby pergi menuju dapur untuk mulai membuat kue kue pesanan pelanggan yang sudah di tunggu.


-


Nafisah sudah bersiap dengan segala perlengkapan yang dia gunakan untuk membuat kekacauan di toko roti Aretha.


Ada kecoa, anak tikus dan ada juga obat pencahar yang nantinya akan dia campurkan ke dalam kue di toko roti Aretha nanti.


Sampai di toko roti Aretha, Nafisah pura pura menjadi pembeli. Nafisah bersikap layaknya pembeli pada biasanya. Dia membeli kue untuk dia makan di sana.


"Mbak toilet nya di mana ya?" tanya Nafisah pada pelayan di toko Aretha.


"Toilet nya di sebelah sana mbak, sebelah arah menuju dapur." jawab pelayan toko Aretha mengarahkan letak kamar mandi pada Nafisah.


Nafisah pun segera pergi menuju kamar mandi. Di dalam kamar mandi dia menyiapkan segala keperluan untuk melancarkan aksinya.


Nafisah membuka pintu toilet pelan pelan dan melihat keadaan sekitar. Setelah di rasa aman, Nafisah pun mulai keluar dan berjalan dengan mengendap-endap menuju dapur toko yang dilarang orang lain masuk selain koki toko.


Sampai di depan pintu, Nafisah menetralkan nafasnya yang mulai gugup. Setelah itu dia bersembunyi di balik tembok untuk menunggu kesempatan dia masuk.


Mungkin memang sudah di takdirkan Nafisah untuk masuk ke sana, karena setelah dia bersembunyi bertepatan ada seorang karyawan yang baru saja keluar dari dapur dan lupa menutup pintu dapur.


Dengan gerakan cepat Nafisah masuk ke dalam dapur dan kembali bersembunyi setelah dia ada di dalam dapur.


"Mbak Ruby, mbak di pangil kasir katanya mereka ada kesulitan dalam menjumlahkan pemasukan dan pengeluaran." pangil pelayan yang baru saja masuk ke dalam dapur pada Ruby yang tengah fokus membuat adonan kue.


"Iya bentar lagi aku ke sana." balas Ruby.


Ruby pun melepaskan celemek yang dia pakai dan mencuci tangannya sebelum keluar dari dapur.


"Aku titip dapur sebentar ya, aku mau ke kasir dulu." ucap Ruby pada temannya yang bertugas membuat adonan kue juga.


"Oke." balas temannya sambil mengacungkan jari jempol kanannya.


Ruby pun keluar dari sana tanpa merasa curiga dengan keadaan dapur.


"Aduh kok aku kebelet kencing ya." monolog koki yang tadi Ruby tugaskan untuk menjaga dapur.


Orang itu pun segera berlari ke arah kamar mandi yang ada di luar untuk menuju kamar mandi.


"Ternyata gak sulit juga masuk ke sini." gumam Nafisah senang.


Nafisah pun keluar dari tempat persembunyiannya dan menuju adonan kue. Dia memasukkan obat pencahar ke dalam adonan kue yang ada di sana.


Dan dia juga meletakkan ke tengah tengah kue yang sudah jadi dan menutupinya dengan krim kue yang sama agar tidak terlihat.


Tak lupa dia juga meletakkan anak tikus yang masih hidup ke salah satu kue ulang tahun yang tinggal di hiasi oleh krim kue. Nafisah meletakkan anak tikus itu ke tengah tengah potongan kue dan merapikannya seperti sedia kala.


Setelah di rasa beres Nafisah pun segera pergi dari sana sebelum ada yang mengetahuinya nanti.


Sekarang Nafisah sudah duduk tenang sambil menunggu pesanannya datang. Dia bersikap biasa saja jadi tidak ada orang yang curiga terhadap dirinya.


"Permisi mbak ini pesanannya." ucap pelayan mengantarkan pesanan Nafisah.


"Makasih ya mbak." ujar Nafisah sambil tersenyum manis.


"Sama sama mbak, semoga menjadi langganan." balas pelayan itu dan pergi meninggalkan Nafisah.


Nafisah pun memakan kue miliknya dengan cepat agar dia bisa segera pergi dari sana.


Setelah selesai dia pergi ke kasir dan membayar makanannya baru setelah itu dia pergi meninggalkan toko roti Aretha sambil tersenyum licik dan memakai kacanya kembali.


"Kita lihat saja, sebentar lagi kehancuranmu akan segera datang Aretha." gumam Nafisah sambil menyeringai.


-


"Aaaa... kecoak." teriak pelanggan toko Aretha yang tengah memakan kue di toko Aretha.


"Aduh perut aku mules." seseorang dan segera berlari menuju kamar mandi.


Dan di susul yang lainnya juga yang tiba tiba merasa ingin buang air besar. Tak hanya satu dua orang, melainkan sepuluh lebih orang sekaligus ingin membuang air besar.


Bahkan orang yang sudah selesai membuang air besar pun kebelet kembali. Sehingga terjadi kericuhan di toko roti Aretha.


...***...