AG: Aretha Ghibran

AG: Aretha Ghibran
part 52



"Ya udah yuk tidur udah malam." ajak Ghibran dan di setujui Aretha.


Mereka berdua pun pergi menuju alam mimpi dengan Ghibran yang memeluk Aretha dan meletakkan kepala Aretha di dadanya.


-


Pagi hari Aretha dan Ghibran sudah bersiap untuk pergi ke Malang, tapi sebelum itu Ghibran akan mengajak Aretha ke suatu tempat dulu.


"Udah semuanya?" tanya Ghibran yang melihat Aretha keluar dari kamar.


"Udah, yuk kita sarapan dulu." balas Aretha.


Mereka berdua pun makan sarapan yang sudah Ghibran buat tadi. Setelah selesai mereka segera pergi ke luar rumah memasuki mobil.


Kali ini Ghibran dan Aretha akan mengunakan pesawat agar tidak terlalu memakan waktu yang lama.


"Kita mau kemana dulu tuan?" tanya sopir yang akan mengantar kepergian keduanya.


"Mampir di cafe dulu." jawab Ghibran dingin.


"Baik tuan."


Mobil pun melaju menuju cafe GA milik Ghibran karena Ghibran ada urusan sebentar di sana. Sekalian nanti Ghibran mau menjelaskan semuanya pada Aretha.


Drrtt drrtt drrtt.


Ponsel milik Aretha yang berada dalam genggamannya bergetar, dia segera menggeser tombol warna hijau untuk mengangkat panggilan telepon yang ternyata dari ibu Nyai Halimah.


'Assalamualaikum nek.' sapa Aretha.


'Waalaikum salam sayang, kalian berdua sudah berangkat kan?' tanya ibu nyai Halimah.


'Iya nek kita udah berangkat, tapi kita mau mampir ke cafe tempat kerja Ghibran dulu. Soalnya Ghibran ada keperluan di sana sebentar.' jawab Aretha.


'Boleh gak kalau urusannya di pending dulu, soalnya di sini lagi rame orang orang. Nenek mau ngenalin kamu sama suami kamu ke yang lain, jadi nenek minta bisa gak kalian cepat cepat datang ke sini. Soalnya nanti sore yang lain udah pada pulang.' pinta ibu nyai Halimah.


'Bentar nek Aretha tanya suami Aretha dulu.'


"Nenek minta kita cepat cepat datang ke sana, soalnya mumpung di sana ada saudara yang lain. Apa tidak apa apa urusan kamu di cafe di tunda dulu?" tanya Aretha berbisik pada Ghibran sambil tangannya menjauhkan ponselnya.


"Ya udah kalau gitu kita langsung ke bandara aja, soal urusan ku di cafe nanti bisa aku minta tolong ke yang lain." setuju Ghibran.


'Ya udah kalian hati hati ya di jalan, jangan lupa berdoa. Nenek tutup dulu telfonnya, Assalamualaikum.' pamit ibu nyai Halimah.


'Iya nek, waalaikum salam.' balas Aretha.


Tut.


"Pak kita putar balik menuju bandara." perintah Ghibran pada sopir yang mengemudikan mobilnya.


"Baik tuan."


"Beneran pekerjaan kamu tidak apa apa di tinggal?" tanya Aretha.


"Beneran sayang gak papa, lagian juga gak terlalu penting."


"Maaf ya, gara gara keluarga aku kamu sampai meninggalkan pekerjaan kamu."


"Iisss ini bukan salah kamu, lagian juga masalahnya tidak terlalu penting."


"Bener ya?"


"Iya sayang, iih kenapa cerewet banget sih." mencubit pipi Aretha yang agak cuby.


"Iih sakit tauk." cemberut Aretha.


"Ouhh sakit ya, maaf ya aku sengaja."


Cup.


"Ghib...."


"Hayo mau ngomong apa, mau aku cium lagi." ancam Ghibran memotong ucapan Aretha yang belum terselesaikan dan di balas gelengan kepala oleh Aretha.


"Pintar." menarik kepala Aretha ke dadanya dan mengelus kepalanya yang tertutup hijab dengan lembut.


"Padahal niatnya aku ngajak kamu ke cafe cuma mau jelasin pekerjaan aku semuanya sama kamu. Tapi gak apa-apa lah bisa di pending juga." Batin Ghibran sambil mengelus kepala Aretha dan sesekali juga menciuminya.


...***...