
Melihat semua orang sibuk memperhatikan Nafisah tak terkecuali ibu nyai Halimah nenek Aretha sendiri. Membuat Aretha kesal.
"Lebay banget sih, orang cuma gitu doang." gumam Aretha mencincang cincang daun bawang yang dia potong saking kesalnya.
"Hus gak boleh gitu, kalau ada orang yang sedang kesusahan lebih baik kita menolongnya jangan menggunjingnya." ucap ibu Nyai Halimah pada Aretha.
"Kesusahan apanya sih nek, orang cuma gitu doang." balas Aretha sambil bibirnya monyong.
"Bibir kamu itu loh gak usah gitu, kayak bebek di kandang aja."
"Apaan sih nenek bikin tambah kesel aja, tau ahh Retha mau ke kamar." Aretha menyelonong begitu saja pergi dari sana tanpa berpamitan pada yang lain. Biarlah nanti orang berkata apa, asal hatinya tenang saja. Dari pada di situ perasaan Aretha ingin sekali mencincang cincang tubuh Nafisah.
"Dasar anak itu, sifatnya sama saja dengan Uminya waktu muda." gumam ibu nyai Halimah sambil menggelengkan kepalanya menatap kepergian Aretha.
-
Saat Ghibran akan keluar kamar, bertepatan dengan Aretha yang tengah memasuki kamar dengan wajah yang cemberut dan terus ngedumel tidak karuan. Hal itu membuat Ghibran bertanya tanya, kenapa kan istri cantiknya ini kok sampai seperti itu wajahnya.
"Sayang kamu kenapa hmm?" tanya Ghibran lembut menghampiri Aretha yang sudah duduk di atas ranjang.
"Tauk, aku tuh sebel sama semua orang." jawab Aretha dengan kesal.
"Kok bisa sebel, emang kamu di apakan sama mereka hmm?"
"Aku tuh sebel karena semua orang pada sibuk memperhatikan si Nafisah Nafisah itu. Padahal kan kita juga sama dari jauh datangnya. Tau gitu aku gak bakal mau kamu ajak ke Malang." jelas Aretha membuat Ghibran terdiam.
"Apa tadi dia bilang, Nafisah? Jangan sampai Aretha sudah tahu kalau ternyata Nafisah itu adalah mantanku, kalau sampai Aretha tahu bisa berabe nanti urusannya." batin Ghibran.
"Sini peyuk." suruh Ghibran merentangkan kedua tangannya agar Aretha masuk ke dalam pelukannya.
Tak ambil pusing Aretha pun menerima pelukan Ghibran. Rasanya sangat nyaman bagi Aretha, apalagi di saat dirinya sedang kesal seperti ini. Ingin rasanya Aretha berlama lama dalam pelukan Ghibran.
Yth v caUdah ya jangan kesel lagi, nanti dedek yabayinya jadi ikutan sedih." ucap Ghibran sambil mengelus perut Aretha.
Plak.
"Auw, sakit yang." ringis Ghibran karena tangannya mendapatkan geplakan dari Aretha.
"Makanya kalau ngomong jangan sembarang." garang Aretha.
"Buat aja belum, masak udah ada dedek bayinya." lanjut Aretha.
"Ooh gitu, ya udah yuk kita buat." balas Ghibran berdiri dan akan membuka bajunya.
"Ehhh, mau ngapain?" panik Aretha menahan tangan Ghibran.
"Buat dedek bayi lah. Biar ada isinya di perut kamu." jawab Ghibran santai.
"Jangan dong, ini kan masih di rumah nenek."
"Ooh jadi kalau di rumah kita boleh?" sambil menaik turunkan alisnya.
"Ya-ya gak gitu." lirih Aretha menggerutuki kebodohannya sendiri.
"Oke fix besok kita pulang buat dedek bayi." final Ghibran.
"Lah kok gitu, gak bisa dong." bantah Aretha.
"Kenapa gak bisa, orang tinggal masukin punya ku ke punya kamu kok." balas Ghibran santai.
"Ghibran...." teriak Aretha dan langsung dibekap oleh tangan Ghibran.
"Ssttt... jangan berisik, nanti orang ngira aku apa apain kamu." bisik Ghibran.
"Emmtt... emmtt...." Aretha memberontak meminta untuk di lepaskan.
Ghibran pun melepaskan tangannya dari mulut Aretha.
Cup.
"Satu hukuman buat kamu sayang." ucap Ghibran sambil tersenyum smirk.
"Iiih kamu kok makin hari makin mesum sih."
"Ya gapapa dong, orang mesum sama istri sendiri." balas Ghibran santai.
"Sering sering aja kamu manggil aku kayak gitu, biar aku dapat ciuman terus." lanjut Ghibran.
"Ya, maap. Habisnya kamu ngeselin banget." ucap Aretha merasa bersalah setelah mengingat tadi bagaimana dia memangil nama Ghibran.
"Iya kamu tenang saja udah aku maafin kok, kan udah dapat ciuman." balas Ghibran sambil menaik turunkan alisnya.
"Mulai apa sih sayang, mulai bikin dedek bayi? Aku mah ayo ayo aja kalau kamu mau."
"Jangan mulai deh."
"Mulai apa lagi sih, bilang aja kalau mau bikin dedek bayi biar aku sewa hotel dekat sini." goda Ghibran.
"Tauk ahh aku marah." melingkarkan tangannya di dada.
"Dih, mana ada orang marah bilang bilang."
"Itu kata kata ku ya ngapain kamu pakai."
"Dih, emang situ yang buat?"
" Taukah ahh." kesal Aretha karena Ghibran terus terusan menggodanya.
"Kayaknya kalau di foto bagus tuh bibirnya kayak bebek. Buat wallpaper pasti bagus." ucap Ghibran agak menyindir Aretha.
"Aku dengarkan ya." sahut Aretha.
"Ooh dengar, aku kira enggak." balas Ghibran.
"Nyeyeye...." menye menye Aretha pada Ghibran dan berlalu masuk ke dalam kamar mandi.
"Hahahaha... mukanya lucu banget, jadi pengen makan deh." tawa Ghibran setelah kepergian Aretha.
Menggoda Aretha adalah salah satu rutinitas yang sangat di gemari oleh Ghibran. Mungkin saja itu akan menjadi kebiasaannya jika bersama Aretha.
"Sepertinya dia mulai bikin istri cantik ku kesal, kita lihat saja nanti kalau dia sampai tahu Aretha adalah istri ku apa yang akan dia lakukan." gumam Ghibran sambil tersenyum licik.
Ghibran segera mengetikkan pesan pada anak buahnya untuk menyelidiki bagaimana kehidupan Nafisah mantannya selama ini. Dia gak mau kecolongan dan sampai membahayakan Aretha nantinya.
Setelah beberapa saat di dalam kamar mandi, Aretha sudah keluar dari kamar mandi dengan keadaan wajah yang lebih seger, seperti habis berwudhu.
"Kamu habis wudhu?" tanya Ghibran.
"Iya biar merasa tenang." jawab Aretha.
"Ooh. Aku mau ngomong sesuatu sama kamu." serius Ghibran.
"Mau ngomong apa?" tanya Aretha.
"Tapi kamu janji dulu sama aku, kamu jangan marah ataupun benci sama aku."
"Ngapain juga aku marah, orang aku belum tahu apa yang akan kamu bicarakan."
"Ya makanya itu aku minta sama kamu, kamu jangan marah nanti. Dan jangan potong ucapan aku sebelum aku selesai berbicara."
"Iyah, udah cepat mau ngomong apa?" kepo Aretha.
"Jadi...." Ghibran menggantung ucapannya sambil memandang wajah Aretha yang sepertinya tengah menunggu kelanjutan ucapannya.
"Jadi apa, cepat deh kalau mau ngomong jangan bikin aku kesal lagi." ucap Aretha mulai kesal.
"Kamu tahu kan kalau aku punya mantan yang dulu gagal aku nikahin?"
"Kenapa? Jangan bilang kalau kamu mau balikan lagi sama dia?" garang Aretha.
"Iisss bentar dulu, dengerin kelanjutannya."
"Ya udah apaan?"
"Jadi tadi aku ketemu sama dia." berhenti, Ghibran tak melanjutkan ucapannya takut pada Aretha.
"Tuh kan, kamu emang suka banget bikin aku kesal. Udah deh kalau gak niat mau ngomong jangan ngomong, malah bikin orang tambah penasaran aja." kesal Aretha.
Sepertinya Aretha nanti akan mengambil wudhu dan sholat untuk menenangkan dirinya yang selalu di buat kesal oleh orang orang di sekitarnya.
"Sabar dong, ngegas banget mbak. Jadi mantan aku itu adalah...."
"Nafisah."
Krik krik krik
Hening, diam. Tak ada suara selain suara orang orang di luar sana.
...***...