AG: Aretha Ghibran

AG: Aretha Ghibran
part 84



"Assalamualaikum." salam Ghibran saat memasuki rumah setelah memarkirkan mobilnya di dalam garasi.


"Waalaikum salam." balas mereka yang ada di dalam.


"Ini kenapa jadi ribut ribut, suaranya terdengar sampai luar loh." tanya Ghibran menghampiri mereka.


"Abang kamu tuh, gara gara dia sahabat aku jadi jatuh. Pasti sakit banget kan?" tanya Aretha dengan wajah yang kasian.


"Iya ini sakit banget Ret, kayaknya tulang belakang aku patah deh." jawab Ruby dengan wajah wajah kesakitan.


"Lebay, orang cuma gitu doang. Gw sumpahin tuh tulang beneran patah." sahut Arthan.


"Tuh kan mas, Abang kamu itu jahat banget. Masak dia nyumpahin sahabat aku sih." adu Aretha pada Ghibran.


"Ghib bini lo sehat kan?" tanya Arthan dan di balas gelengan kepala oleh Ghibran.


Jangankan Ghibran dan Arthan, Ruby yang selalu hidup bareng Aretha aja heran lihat sikap Aretha yang seperti ini.


"Kamu sehat kan yang?" tanya Ghibran menyentuh dahi Aretha.


"Sehat kok, emang aku kenapa?" balik tanya Aretha.


"Ooh enggak kok, gak papa cuma tanya aja." balas Ghibran dan hanya di balas Oh saja oleh Aretha.


"Ruby punggung kamu gak papa kan?" tanya Ghibran memastikan yang sebenarnya.


"Gak papa kok, untung aja sih ada karpetnya, mungkin kalau tidak udah temukan nih tulang." Jawab Ruby.


"Syukurlah kalau begitu."


"Oh iya tadi kalian ngapain, kok Ruby bisa duduk di pangkuan bang Arthan?" tanya Aretha yang baru ingat apa yang di lihat tadi waktu masuk rumah.


"Oh itu, anu...." Ruby bingung harus menjawab apa.


"Tadi dia ngambilin kutu yang ada di rambut aku." jawab Arthan ngasal.


"Kutu? Emang bang Arthan punya kutu?" tanya Aretha.


Dengan ragu Arthan pun menggangukkan kepalanya.


"Seriusan?" tanya Aretha memastikan.


"I-iya." perasaan Arthan sudah mulai tidak enak.


"Mas tolong dong kamu cariin, aku mau lihat kutu secara langsung." permintaan aneh Aretha.


"Hah!!" kaget mereka bertiga.


"Kenapa, gak boleh ya?" mata Aretha sudah mendung dan akan segera turun hujan.


"Bo-boleh kok sayang, iya kan bang." Ghibran mengnyikut lengan Arthan.


"Hahaha iya boleh." tawa sumbang Arthan.


"Makasih, ya udah ayo mas cepat cariin." pinta Aretha.


Dengan berat hati Ghibran pun mendekati Arthan dan menyuruhnya untuk duduk agar memudahkan Ghibran untuk mencari kutu di rambut Arthan.


"Gimana udah ketemu belum?" tanya Aretha tidak sabaran setelah lima menit menunggu.


"Belum yang, mungkin kutunya udah habis di ambil sama Ruby." jawab Ghibran.


"Masak sih, pasti kan ada anaknya, atau bapaknya gitu?"


"Bener yang gak ada loh." balas Ghibran meyakinkan Aretha.


"Aku gak mau tahu pokoknya kamu harus bisa dapetin kutu dari rambut bang Arthan, kalau kamu gak dapet aku suruh kamu tidur di luar. Dan untuk bang Arthan akan aku kasih hukuman." ancam Aretha.


"Loh kok gitu, ini kan cuma masalah kutu." tak terima Arthan.


"Ya terserah aku dong, pokoknya aku mau kamu dapetin kutu hidup hidup dan bawa ke aku biar aku bisa lihat secara langsung." keras kepala Aretha.


"Yang gimana kalau kita beli gula kapas lagi?" tawar Ghibran.


"Gak mau." jawab Aretha.


"Gak mau." jawab Aretha.


"Kalau ke taman?" tawar Ghibran lagi.


"Aku bilang gak mau ya gak mau, kenapa kalian maksa sih. Aku tunggu sampai nanti malam, kalau sampai belum juga kamu mendapatkan kutu. Kalian tunggu saja hukuman buat kalian." ucap Aretha tegas.


"Yuk by kita main di kamar." ajak Aretha menyeret tangan Ruby naik menuju kamarnya.


"Sayang terus kita gimana?" teriak Ghibran.


"Ya cari kutunya sampai dapat." balas teriakkan Aretha.


"Ini semua gara gara kamu " ucap Ghibran menyalakan Arthan.


"Lah kok aku, salahin bini lo tuh." tak terima Arthan.


"Tapi kan tadi kamu yang bilang kalau kamu punya kutu."


"Ya tapikan salah bini lo juga kenapa percaya."


"Ya terus kalau bini aku gak percaya kamu mau di nikahkan sekarang juga di KUA sama Ruby."


"Ya gak mau lah."


"DIAM JANGAN BERISIK. GANGGU ORANG AJA." teriak Aretha dari lantai dua.


"Astaghfirullah hallazim, itu mulut apa toa masjid." kaget Arthan.


"Hus, sembarang kamu kalau ngomong."


"Terus ini gimana?" kesal Arthan.


"Ya kita cari lah di kepala kamu." jawab Ghibran santai.


"Sembarang lo kalau ngomong, emang lo pikir gw kutuan apa."


"Ya trus?"


Mereka berdua diam memikirkan cara apa yang akan menyelamatkan mereka dari jebakan Aretha sampai sampai Ghibran sekarang sudah berguling guling di lantai akibat pusing memikirkan mencari kutu di kepala Arthan.


-


Sementara di tempat lain, seorang wanita tengah menyiksa seseorang yang keadaannya sudah sangat lemah.


"Hahahaha... rasakan ini." dia membuat garis garis di lengan orang yang dia siksa menggunakan serpihan kaca yang tadi dia dapat dari memecahkan gelas kaca.


"Tolong lepaskan aku, aku mohon." mohon orang yang di siksa itu karena sudah merasakan sakit di sekitar bagian tubuhnya.


"Jangan pernah bermimpi untuk bisa keluar dari sini dengan keadaan hidup, karena aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Lihatlah betapa indahnya ukiran yang aku buat di lenganmu." ucap psikopat itu sambil terus menyayat kulit bagian lengan orang itu.


Karena saking seringnya di siksa membuat orang itu tak lagi merasakan sakit. Karena baginya hatinya lah yang lebih sakit dari pada fisiknya. Tapi ketika dalam keadaan sadar seperti ini, dia akan tetap merasakan sakit yang amat sangat luar biasa dari tubuhnya.


Mulai dari bagian punggung yang sudah penuh dengan bekas pecutan. Dan wajah yang juga penuh dengan sayatan.


Apalagi yang paling mengerikan adalah pada kaki orang itu. Di mana sebagian kulitnya sudah mengelupas dan jari tengah kakinya yang sudah tidak ada akibat di potong oleh psikopat itu.


"Aku mohon lepaskan aku." mohon orang itu.


"Itu tidak akan pernah terjadi, sampai aku bisa menemukan anak laki laki Umar. Karena hanya dia yang bisa meneruskan semua bisnis gelap saya." balas psikopat itu.


"Dah segitu saja, nanti kapan kapan kita tambah lagi ukirannya." ucap psikopat itu menyudahi aksi menyiksa orang itu.


"Apakah kamu mau menitip pesan buat orang yang kamu sayang?" tawar psikopat itu sebelum pergi meninggalkan tempat yang sangat minim akan cahaya.


"Aku mohon tolong lepaskan aku." mohon orang itu.


"Ya sudah kalau tidak mau nitip apa apa aku pergi dulu. Babay selama menikmati kenikmatan dunia yang sangat menyenangkan ini." ucap psikopat itu sebelum pergi meninggalkan orang itu sendiri lagi di sana.


"Ya Allah berikanlah hamba kekuatan untuk menerima semua ujian ini." doa orang itu.


Setelah itu bagai ada yang merasuki dirinya sampai orang itu tak merasakan sakit lagi hingga tiba tiba dia menangis tersedu sedu merasakan sakit hati yang amat dalam.


...***...