
Ruby memutuskan untuk pulang ke rumahnya kembali, tidak jadi ke rumah Aretha. Sampai di rumah kontrakannya Ruby langsung menangis karena merasakan sakit di hatinya.
Di saat dia ingin menerima orang yang sudah beberapa bulan terakhir ini menyatakan cintanya kepada dirinya. Dia malah di sadarkan oleh sesuatu yang membuat dia bingung harus bagaimana.
"Kenapa hiks, kenapa kamu buat aku jatuh cinta kalau akhirnya aku harus melihat semua ini hiks hiks." Tangis pilu Ruby.
Ruby tidak menyangka kalau ternyata seperti itulah sifat asli Arthan. Ruby masih ingat betul bagaimana tadi dengan teganya Arthan mengiris pipi kanan dan kiri seseorang yang tidak Ruby kenal. Bahkan teriakkan orang itu saja masih terus terngiang di telinganya.
"Apakah aku harus menerima semua tentang kamu, bagiamana nanti kalau saat kita bersama dan tanpa sengaja aku berbuat kesalahan. Apakah kamu akan membunuhku."
"Hiks hiks hiks...."
"Kamu jahat Arthan kamu jahat, hiks hiks...."
"Kenapa aku harus suka sama kamu, KENAPA...." teriak Ruby di tengah tangisnya yang pilu.
Mungkin kalau di sana ada Arthan dia dengan rasa sayangnya akan memeluk Ruby dan menenangkannya dengan kata kata yang menenangkan. Tapi ini beda, Arthan lah sumber tangisan Ruby.
Ruby terus menangis sampai dia tertidur di atas ranjang dengan masih memakai gamis yang tadi hendak dia pakai ke rumah Aretha. Bahkan Ruby juga lupa untuk menghubungi sahabatnya kalau dia tidak jadi ke sana.
-
Sementara itu, Arthan yang sudah menyelesaikan semua urusannya pun melajukan mobilnya dengan kencang menuju rumah Aretha dan Ghibran. Arthan mengira kalau Ruby ada di sana, sehingga dia buru buru ke rumah Ghibran untuk menjelaskan semuanya pada Ruby.
Sampai di rumah Ghibran, Arthan langsung masuk, dan terlihat orang orang yang baru saja menyelesaikan pengajian.
"Bang Arthan." pangil Aretha yang melihat Arthan baru saja memasuki rumahnya.
"Maaf ya Abang telat." ucap Arthan menghampiri Aretha dan yang lainnya.
"Iya gak papa kok, acara tujuh bulanan juga masih mau di mulai." Balas Aretha.
"Loh Ruby mana bang?" tanya Aretha penasaran karena dia tidak melihat keberadaan sahabatnya.
"Lah, bukannya dia sudah datang ke sini duluan?" heran Arthan.
"Enggak dia belum ke sini, Retha kira dia berangkat bersama bang Arthan."
Arthan diam, dia memikirkan di mana keberadaan Ruby saat ini. Apakah Ruby kembali pulang ke rumahnya, ataukah dia kemana?
"Mungkin dia ada di rumahnya, mungkin di berhalangan hadir." sela Ghibran.
"Mungkin juga sih, bentar deh aku coba telfon dia dulu." Aretha segera mencari nama kontak Ruby di ponselnya dan segera menghubunginya.
"Gimana?" penasaran Arthan dan di balas gelengan kepala oleh Aretha.
"Nih anak kemana sih, kok gak di angkat angkat." gumam Aretha yang Panggilan telefonnya tak kunjung di angkat oleh Ruby.
"Udah nanti aja di telfon lagi, acaranya mau di mulai lagi." ucap Ghibran agar Aretha kembali fokus pada acara.
"Udah Ret lo fokus sama acaranya saja, biar gw yang cari Ruby. Gw pamit pergi dulu, maaf gak bisa ikut acara ini." ucap Arthan dan pamit pergi dari sana.
Arthan pun pergi dari sana setelah pamit ke semua orang.
"Acara selanjutnya yaitu sungkeman, di mana calon ibu sungkem kepada orang tua." Ucap MC yang memandu jalannya acara.
"Ya udah yuk." ajak Ghibran menggandeng Aretha untuk menuju tempat yang akan di buat sungkeman.
Aretha pun mengikuti ajakan Ghibran dan segera sungkem kepada Umi dan Abinya, dia meminta doa kepada mereka supaya di doakan agar nanti ketika dia lahiran berjalan dengan lancar.
Setelah itu di lanjutkan siraman atau mandi Suci. Ritual mandi suci ini dilakukan untuk menyucikan ibu hamil serta bayi di dalam kandungan.
Gerabah diisi dengan air dan bunga siraman seperti mawar, melati, magnolia serta kenanga. Air yang digunakan, yakni air suci dari tujuh mata air.
Calon Mama tidak diperkenankan menggunakan perhiasan dan hanya mengenakan kain longgar saja. Dirinya diantar oleh beberapa perempuan ke tempat pemandian.
Setelah itu, duduk di kursi beralaskan tikar yang bertabur beragam jenis daun seperti opok-opok, alang-alang, oro-oro, dadap srep, dan awar-awar yang menggambarkan keselamatan, serta daun kluwih yang melambangkan kehidupan yang lebih sejahtera.
Biasanya terdapat tujuh orang yang memandikan, tujuh orang dalam bahasa Jawa artinya pitu. Dengan begitu, mereka bisa memberikan pitulungan yang artinya pertolongan.
Setelah selesai dengan ritual siraman, di lanjutkan dengan ritual brojolan. Dalam proses ini, dua buah kelapa muda yang dipahat dengan ukiran gambar Dewa Kamajaya dan Dewi Ratih telah disiapkan. Tanpa melihat kelapa, sang calon Papa akan memilih kelapa dan memotongnya dengan pisau.
Jika kelapa terbelah menjadi dua, para tamu akan mengatakan ini anak perempuan, namun bila dari kelapa muncul pancuran seperti santan, maka para tamu akan berkomentar ini anak laki-laki.
Selanjutnya ritual angreman. Dalam bahasa Jawa, angrem berarti penetasan telur. Calon orangtua duduk di atas tumpukan kain batik seolah-olah duduk di atas telur, ini melambangkan kelahiran bayi yang selamat pada waktu yang tepat.
Sembari duduk, mereka bersama-sama memakan hidangan yang telah dihidangkan di atas piring batu besar atau yang biasa kita sebut sebagai cobek.
Dan ritual terakhir adalah dodolan rujak lan dawet, atau dalam bahasa Indonesianya adalah jualan rujak dan dawet.
Di mana kedua orangtua calon bayi menjual rujak dan dawet yang akan dibeli oleh para tamu. Rujak melambangkan semangat hidup dan dawet menggambarkan kelahiran bayi yang lancar dan aman.
Begitulah rangkaian acara yang Aretha dan Ghibran lakukan di acara tujuh bulanan kandungan Aretha ini. Setelah selesai dan di tutup oleh doa, tamu undangan di persilahkan untuk makan makanan yang sudah di siapkan di sana. Baru setelah itu mereka semua pamit pulang.
Tak lupa mereka juga di berikan bingkisan yang entah apa saja isinya, author juga tidak tahu. Mungkin saja isinya emas lima kilo wkwkwk.
"Hufft... capeknya." keluh Ghibran mendudukkan dirinya di sofa kamar mereka.
Ya, mereka semua sudah kembali ke kamar mereka masing-masing. Sekarang di bawah hanya tinggal orang orang yang membereskan bekas acara tujuh bulanan tadi.
"Makanya kan aku sudah bilang, acaranya pengajian saja ehh kamunya malah gak mau." sahut Aretha yang baru keluar dari kamar mandi.
"Ehh sayangku sudah selesai mandinya, sini aku keringin rambutnya." balas Ghibran mengalihkan pembicaraan.
"Halah gak usah ngalihin pembicaraan deh, heran." cerocos Aretha di balas cengiran oleh Ghibran.
Aretha duduk di kursi meja riasnya dan Ghibran segera menghampirinya dan mengeringkan rambut Aretha dengan lembut dan hati hati, takut kalau nanti menjambak Aretha.
...*** ...