
"Bagaimana keadaan istri dan calon anak saya dok?" tanya Gibran pada dokter yang baru saja keluar dari ruangan Aretha.
Mereka sudah sampai di rumah sakit dan Aretha segera di tangani oleh dokter, Gibran dan yang lainnya menunggu Aretha di depan ruangan Aretha sampai dokter yang menangani Aretha keluar dari sana.
"Keadaan istri anda kritis tuan, kami harus segera melakukan tindakan operasi karena pendarahan yang sangat hebat membuat calon anak anda harus segera lahir prematur sebelum waktunya." jelas dokter itu.
Deg.
Nafas Gibran seakan tercekat mendengar penjelasan dokter itu, dia tidak menyangka kalau hal ini akan terjadi kepada istri dan calon anaknya.
"Lakukan yang terbaik untuk istri dan calon anak saya dok, tolong selamatkan mereka." mohon Gibran.
"Pasti tuan, kalau begitu anda silahkan mengurus administrasi dan data data pasien terlebih dahulu sebelum kami akan melakukan tindakan operasi."
"Baik dok," balas Gibran.
"Kamu yang tenang ya, percayakan semuanya kepada Allah, kita bantu doa untuk Aretha dan calon anak kamu supaya mereka berdua selamat dan bisa hidup bersama kita," ucap umi Fatimah, mertua Gibran.
"Iya mi, kalau gitu Gibran pamit dulu ya bi, mi, Gibran titip Aretha." Gibran pamit hendak mengurus biaya administrasi rumah sakit.
"Iya nak," balas umi Fatimah dan juga Abi Umar.
"Mi Abi ke mushola dulu ya, umi jaga Aretha di sini," ucap Abi Umar setelah Gibran pergi.
"Iya bi," balas umi Fatimah dan Abi Umar pun pergi ke mushola yang ada di rumah sakit itu.
"Retha sayang, kamu harus kuat ya, umi percaya kalau kamu pasti bisa melewati semuanya, kamu harus kuat sayang demi calon anak kamu." Umi Fatimah memandang Aretha yang berada di dalam ruangan melalui kaca jendela.
Tanpa terasa air mata umi Fatimah menetes, dia tidak tega melihat anak yang dia lahirkan harus ada di posisi seperti sekarang ini.
Umi Fatimah pun segera menghapus air matanya sebelum nanti ada yang melihat dirinya tengah menangis.
-
Sementara itu, di tempat lain, Arthan beserta beberapa anak buahnya sudah berhasil menangkap ibu Hanifah kembarannya ibu nyai Halimah, orang yang selama ini menyekap Arthan.
Arthan mengurung ibu Hanifah di tempat yang aman, dia menyuruh anak buahnya agar menjaga ibu Hanifah dan jangan sampai membiarkan dia kabur.
"Kalian jaga wanita itu dan jangan biarkan dia kabur, kalau sampai dia buat masalah siksa saja dia tapi jangan biarkan dia mati," ucap Arthan kepada anak buahnya.
"Baik tuan," balas anak buah Arthan.
"Saya pergi dulu, nanti saya akan kembali lagi ke sini setelah melihat keadaan adik saya dan nenek saya," lanjut Arthan.
"Baik tuan, kami akan menjaga tempat ini dengan aman," balas salah satu anak buah Arthan.
Arthan mengangguk, dan setelah itu dia pergi meninggalkan tempat itu menuju rumah sakit. Pertama Arthan akan menemui istrinya yang sekarang tengah menjaga neneknya, dan setelah itu nanti dia akan pergi untuk melihat keadaan adiknya.
Setelah menempuh perjalanan yang lumayan panjang, akhirnya Arthan sampai di rumah sakit tempat dimana ibu nyai Halimah asli di rawat dan Aretha juga, kebetulan mereka berdua berada di rumah sakit yang sama.
"Sayang," pangil Arthan menghampiri istrinya yang saat ini tengah duduk bersama Haikal adiknya.
"Mas," balas Ruby dan berdiri langsung memeluk Arthan.
"Gimana keadaan nenek hmm?" tanya Arthan setelah memberikan kecupan di kening Ruby.
"Kata dokter keadaan nenek sangat kritis, tubuh nenek kekurangan banyak air dan makanan, mungkin selama di sekap nenek jarang di kasih makan. Terus luka luka yang ada di tubuhnya juga sangatlah parah," jelas Ruby menatap suaminya.
"Kenapa?" tanya Arthan kepada Ruby sambil menetap Haikal.
"Dia syok melihat apa yang terjadi kepada nenek, karena tadi waktu di pindahkan dari UGD Haikal melihat keadaan nenek," jelas Ruby dan di balas anggukan oleh Arthan.
Arthan menarik tangan Ruby dan mengajaknya mendekati Haikal.
"Hei adik kakak, udah makan belum?" tanya Arthan menghampiri Haikal.
"Dia gak mau aku ajak makan dari tadi," balas Ruby karena Haikal hanya diam saja.
"Kenapa gak mau makan hmm, kalau kamu gak makan pasti tadi kak Ruby juga gak mau makan, emang kamu mau kalau kak Ruby sakit terus nanti calon keponakan Haikal kelaparan juga dong kalau kak Ruby gak makan." Arthan mencoba untuk merayu Haikal dengan ancaman Ruby, karena Arthan tahu kalau Haikal itu tidak akan tega melihat kakaknya sakit.
"Mas kamu ngomong apaan sih." Ruby mencubit pinggang Arthan yang duduk di samping Haikal.
"Kak Ruby hamil?" tanya Haikal polos.
"Enggak kamu jangan percaya sama kak Arthan, kak Arthan cuma omong doang," balas Ruby.
"Kakak gak bohong kok, kakak sama kak Ruby kan emang lagi proses buat keponakan buat Haikal, jadi kak Ruby selama dalam masa proses ini gak boleh kelelahan dan juga tidak boleh kekurangan makanan, jadi Haikal harus makan ya kalau Haikal pengen punya keponakan, Haikal mau kan punya keponakan?" tanya Arthan dengan lembut.
"Iya Haikal mau," jawab Haikal.
"Kalau mau berarti Haikal harus makan biar kak Ruby mau makan juga," balas Arthan dan langsung di angguki Haikal.
"Iya Haikal mau makan, ayo kak kita makan Haikal udah lapar," ajak Haikal berdiri dari duduknya.
"Nah gitu dong, itu baru adik kakak yang ganteng." Arthan mengacak-acak rambut Haikal gemas.
"Yuk yang cari makan, kamu pasti belum makan kan, aku gak mau sampai kamu sakit," ajak Arthan mengulurkan tangannya dan langsung di sambut dengan senang hati oleh Ruby.
Ruby merasa sangat bersyukur karena mempunyai suami seperti Arthan yang sangat penyayang, bukan hanya sayang kepada dirinya tapi juga kepada adiknya.
"Kamu harus makan yang banyak, biar nanti malam kalau aku ajak main kamu kuat," bisik Arthan di telinga Ruby saat mereka tengah berjalan untuk mencari makan.
Pipi Ruby bersemu mereka mendengar bisikan Arthan, meskipun sekarang Arthan sudah menjadi suaminya, tapi tetap saja dia masih malu malu.
"Cieee pipinya merah," goda Arthan dan langsung mendapatkan cubitan di pinggangnya dari Ruby.
"Auw sakit yang," ringis Arthan.
"Biarin,"
"Kak Arthan kenapa?" tanya Haikal menoleh pada Arthan dan Ruby yang berjalan di belakangnya.
"Oh enggak, ini tadi kaki kakak gak sengaja terinjak kaki kak Ruby," balas Arthan bohong.
"Ayo kita cari tempat duduk," ucap Ruby mengalihkan perhatian Haikal agar tidak banyak bertanya lagi, karena kebetulan mereka sudah sampai di kantin rumah sakit.
"Awas ya kamu nanti malam akan habis sama aku," bisik Arthan lagi, dan lagi lagi itu membuat pipi Ruby memerah.
...***...
...Hai author kembali nih, maaf yang author sudah terlalu lama Hiatus di novel ini. Dan untuk giveaway nya di next chapter ya🥰🥰🥰🙏🙏🙏...
Sekali lagi maaf maaf maaf ya....🙏🙏🙏