AG: Aretha Ghibran

AG: Aretha Ghibran
part 76



Malam hari jam sepuluh malam, Nafisah dan Wahyu beserta beberapa orang orang Arthan sudah sampai di toko roti milik Aretha.


Mereka di bawa masuk ke dalam ruangan kerja Aretha yang di sana sudah ada Arthan dan Ruby yang tadi tetep kekeuh ingin berada di sana. Padahal tadi Arthan sudah menyuruh Ruby pulang.


"Selamat datang tuan Wahyu dan nyonya Nafisah. Kita bertemu lagi." sapa Arthan menyambut kedatangan mereka berdua.


"Buka penutup mulutnya." perintah Arthan pada anak buahnya agar membuka lakban yang ada di mulut Nafisah.


Krak.


Tanpa rasa kasian, mereka melepaskan lakban itu dengan kasar hingga membuat Nafisah kesakitan.


"Auw...." ringis Nafisah merasa kumis tipis di atas mulutnya ikutan tertarik.


"Ada apa sampai kamu jauh jauh membawa saya dan istri saya ke sini?" tanya Wahyu pada Arthan.


"Kamu mau tahu, tanyakan saja pada istrimu yang cantik itu." balas Arthan.


"Sayang apa maksud dia?" tanya Wahyu pada Nafisah.


"Aku juga tidak tahu sayang, mungkin dia emang gila." jawab Nafisah.


"Oouhh ada yang ngatain aku gila nih, Ruby tolong kasih tahu ke dia siapa yang gila di sini." ucap Arthan pada Ruby.


"Yang gitu tuh anda, nona cantik." balas Ruby menunjuk wajah Nafisah.


"Apa maksud kamu, saya gak ada masalah ya sama kamu." drama Nafisah lagi.


"Iya kamu memang gak ada masalah sama saya, tapi kamu ada masalah sama sahabat saya Aretha. Jadi sebagai temannya yang baik, saya akan membantu dia dalam membasmi hama yang akan menggangu rumah tangga mereka." balas Ruby.


Wahyu hanya diam saja, dia menyimak semua pembicaraan mereka agar nanti dia bisa menyimpulkan apa yang terjadi.


"Udah Ruby lo kasih tahu aja langsung apa kesalahannya, sepertinya dia amnesia. Kita gak usah buang waktu banyak banyak di sini." suruh Arthan pada Ruby.


Ternyata ada gunanya juga Ruby tatap tinggal di sana, Arthan jadi tidak perlu repot-repot ngomong banyak.


"Nona Nafisah yang cantik tapi masih cantik saya. Apakah anda lupa tadi pagi anda ngapain di toko ini?" tanya Ruby menghampiri Nafisah.


"Maksud kamu apa, orang aku dari kemaren ada di Jember." sangkal Nafisah tak mau mengakui.


"Oooh gitu, ya udah. Oh iya aku bisa minta tolong gak sama kamu, tolong dong kamu cicipin kue yang baru kita launching hari ini. Soalnya aku ragu dengan rasanya." pinta Ruby mengambil kue yang tadi pagi adonannya Nafisah beri obat pencahar.


"Enggak, aku gak mau. Pasti kue itu sudah kamu berikan sesuatu." tolak Nafisah yang tau kalau di dalam kue itu ada kandungan obat pencahar nya.


"Loh dari mana kamu tahu?" tanya Ruby pura pura terkejut.


"A-aku, ya aku menembak saja." balas Nafisah gugup.


"Ooh gitu. Enggak kok kue ini tidak kita kasih apapun, palingan juga cuma obat pencahar." ucap Ruby membuat Nafisah berkeringat dingin.


"Tuan Wahyu yang terhormat, apakah anda tahu semalam istri anda tidur di mana?" tanya Ruby pada Wahyu yang sedari tadi hanya diam.


"Iya aku tahu, dia menginap di rumah sahabatnya yang baru saja pulang dari luar negeri." jawab Wahyu membuat Arthan dan Ruby tertawa.


Hahahaha.


Tawa mereka berdua.


"Apakah dengan mudahnya anda percaya tuan, tidakkah anda menyelidikinya terlebih dahulu?" tanya Ruby.


"Asal anda tahu, semalam istri anda menginap di hotel XX yang ada di Jakarta pusat." lanjut Ruby.


"Enggak mas, dia itu bohong." sangkal Nafisah.


" Ouhh nona cantik, aku tidak sedang berbohong loh. Malahan anda sendiri yang bohong." balas Ruby duduk di samping Nafisah.


"Stop kamu diam. Dan kamu tolong jelaskan semuanya pada saya." sentak Wahyu membuat Nafisah terdiam.


"Selain menginap di hotel, nona cantik ini juga bikin kehebohan di toko ini. Dia mencampurkan obat pencahar, kecoa dan anak tikus ke dalam kue buatan kami." jelas Ruby membuat Wahyu kaget.


"Enggak mas, mereka itu mengada-ngada. Kamu jangan percaya sama mereka berdua." sangkal Nafisah lagi tak putus asa.


"Sudahlah tuan percuma nanti kalau saya ngomong panjang lebar pasti tuan tidak akan percaya. Lebih baik tuan langsung lihat rekaman cctvnya saja." suruh Aretha mengambilkan laptop yang ada di hadapan Arthan.


Wahyu pun melihat semua bukti bukti yang ada di dalam laptop itu mulai awal sampai akhir. Dia tidak menyangka kalau istrinya akan melakukan hal sebejat itu.


Plak.


Satu tamparan Wahyu layangkan di pipi Nafisah hingga membuat Nafisah.


"Mas kamu harus percaya sama aku, mereka itu bohong. Itu semua hanya editan." ucap Nafisah masih berusaha mencari pembelaan.


"Cih, silahkan anda bercermin terlebih dahulu nona. Di sini yang bohong itu anda bukan kita." ucap Arthan yang sedari tadi diam.


"Aku gak nyangka kamu bakal melakukan hal sejahat ini. Bagaimana nanti kalau obat yang kamu masukkan itu bisa bikin orang meninggal Hah, apakah kamu tidak semakin berdosa." marah Wahyu pada Nafisah.


"Dengerin aku dulu mas."


"Udah stop, aku gak mau lagi mendengarkan penjelasan kamu lagi. Kamu sudah kebanyakan bohong sama kamu. Bahkan tadi saat kamu pulang dan sudah ketangkap basah pun kamu masih saja berbohong. Dan dengan bodohnya aku selama ini yang selalu percaya dengan semua omongan kamu."


"Bukan itu saja yang harus kamu tahu." ucap Arthan membuat Wahyu berbalik menatap Arthan.


"Kamu tahu kenapa istri kamu itu belum juga hamil?" tanya Arthan.


"Mungkin belum di kasih keturunan sama Allah." jawab Wahyu. Ya walaupun memang benar sih jawabannya tapi tetap saja itu tidak tepat.


"Itu karena selama ini istri kamu selalu rutin minum pil KB." lanjut Arthan membuat Wahyu berbalik menatap Nafisah.


"Benarkah yang dia bilang itu?" tanya Wahyu dengan pandangan yang sudah sangat sangat kecewa.


"Enggak mas, mereka itu bohong. Kamu harus percaya sama kau." sangkal Nafisah lagi.


"Saya ada buktinya kok. Ruby berikan amplop ini pada dia." perintah Arthan dan langsung di laksanakan oleh Ruby.


Wahyu menerima amplop itu dan dengan tangan gemetar dia mencoba membukanya.


Terlihat di dalam sana banyak foto Nafisah yang selalu pergi ke dokter kandungan dan apotek untuk membeli pil KB, dan baru baru ini Nafisah pindah ke metode suntik.


Wahyu meremas amplop itu dan melemparnya ke wajah Nafisah.


"Kenapa kamu melakukan semua ini Hah, segitu tidak ingin kah kamu miliki anak dari ku. Kenapa Hah?" marah Wahyu di depan wajah Nafisah.


"Hiks hiks aku hiks hiks aku...."


"Biar saya bantu jelaskan tuan, dia tidak mau mempunyai anak dari tuan karena dia masih mencintai mantannya dulu. Dia selama ini hanya bohong mengenai perasaannya pada tuan." Sela Ruby menjelaskan.


"Siapa mantan kamu itu?" tanya Wahyu.


"Siapa Hah?" bentak Wahyu karena Nafisah takut kunjung menjawabnya.


"Ghi-ghibran."


...***...


Kurang greget gak sih 😂


Udah ya besok lagi, tadi aku udah update 13 part 13ribu kata lebih untuk hari ini.


Makasih buat yang masih setia baca cerita aku sampai sini dan jangan lupa dukungannya ya😁😂😂😂