
"Sore babe...." ucap seseorang dari belakang Ruby, yang membuat Ruby yang tadi sedang merenung membalikkan badannya untuk melihat siapakah yang menyapanya.
"Hai babe, ayang kangen nih." ucap orang itu lagi dan langsung mengambil tempat duduk di samping Ruby.
"Lo ngapain di sini?" sinis Ruby menatap tajam orang itu.
"Ya jemput kamulah be, kan tadi aku udah chat kamu." jawab orang itu yang tak lain adalah Arthan.
"Dih, siapa juga yang mau di jemput sama kamu. Ogah kali." balas Ruby dan akan beranjak pergi meninggalkan Arthan, tapi tangannya langsung di tahan oleh Arthan.
"Eeittts... tunggu dulu dong, emang kamu gak kangen sama aku hmm?"
"Najis." judes Ruby dan berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Arthan, tapi itu sangatlah susah.
"Oohhh... kamu mau main main hmm?" dingin Arthan menatap Ruby tajam.
"APA?" sentak Ruby menatap Arthan tak kalah tajam.
"Jangan marah marah dong be, aku kangen tahu." Arthan mengubah ekspresinya dari yang datar menjadi baby face dan hal itu membuat Ruby melongo.
"Emang kamu gak kangen sama aku hmm?" Arthan mengedip edipkan matanya.
"Lo sakit?" Ruby menempelkan tangannya di dahi Arthan.
"Iya ini yang sakit." Arthan mengarahkan tangan Ruby ke dada sebelah kirinya.
"Sakit, kamu gak kangen sama aku." mengerucutkan bibirnya.
"Lo kenapa sih, sakit? Atau lo udah gak waras?" tanya Ruby heran.
"Iya aku udah gak waras, dan itu semua karena kamu." balas Arthan.
"Sinting Lo." Ruby berusaha melepaskan tangannya tapi tidak bisa, yang ada malah Arthan semakin mengeratkan genggamannya tangannya.
"Lepasin." pinta Ruby.
"Gak mau." tolak Arthan.
"Lepasin Arthan." paksa Ruby.
"Kok maksa."
"Biarin, pokoknya aku mau kamu ikut pulang sama aku." paksa Arthan.
"Aku gak mau."
"Harus mau, aku gak terima penolakan." tegas Arthan dan segera menggendong tubuh Ruby seperti karung beras.
"Aaa... lepasin gw b*go." Teriak Ruby sambil kakinya menendang nendang di udara.
"Diam, atau kamu aku lempar ke bawah." ancam Arthan saat dirinya sekarang sedang berada di tangga.
Dan seketika Ruby diam dan tak mengerakkan tubuhnya sama sekali. Sampai di lantai bawah, banyak orang yang memperhatikan mereka berdua. Terutama para pengunjung toko, mereka semua fokus menatap wajah Arthan yang ganteng dan tubuh yang tinggi seperti model.
Ruby sangat malu karena menjadi pusat perhatian semua orang, ingin sekali diam tengelam di palung marina atau di segitiga Bermuda. Ruby menutup wajahnya dengan rambut yang sedari tadi dia gerai agar wajahnya tidak dapat di kenali oleh orang lain.
Sedangkan Arthan, dia mah bodo amat dengan semua tatapan itu. Bagi dia, selama dia tidak meminta makan pada orang orang itu, maka itu tak akan menjadi masalah.
"Duduk yang manis, jangan ngebantah." tegas Arthan setelah mendudukkan Ruby di dalam mobil.
Tak lupa Arthan juga memasangkan safety belt untuk Ruby, dan setelah itu giliran dia yang masuk ke dalam mobil. Arthan melajukan mobilnya menuju suatu tempat, dengan Ruby yang duduk di sebelahnya yang hanya terdiam saja tak mau menatap Arthan.
"Kenapa diam hmm?" tanya Arthan menoleh sebentar pada Ruby dan kembali menatap ke jalanan yang mereka lewati.
"Bukan urusan Lo." balas Ruby.
"Kenapa sih marah marah mulu, PMS ya?"
"B*c*t."
"Lah, di tanya baik baik juga malah jawab gitu."
"Bodo amat." Ruby memalingkan mukanya menatap ke jalanan samping yang dia lewati.
"Hufft...." hela nafas Arthan, dan setelah itu dia pun ikut terdiam, tak lagi bertanya pada Ruby.
...***...