AG: Aretha Ghibran

AG: Aretha Ghibran
part 88



Ghibran sampai di rumah dengan dia dan pak satpam memapah tubuh pak Tomo yang sudah tidak sadarkan diri sehabis jatuh dari pohon mangga.


Tadi setelah Ghibran berlari menjauh dan menunggu pak Tomo di dekat rumahnya dan tak kunjung kelihatan juga pak Tomonya membuat Ghibran memaksa pak satpam untuk mengecek keadaan pak Tomo di sana.


Sebenarnya pak satpam itu juga menolak ajakan Ghibran, tapi dengan iming-iming uang akhirnya pak satpam itu pun mau.


Mereka sampai di sana dengan keadaan pak Tomo yang sudah tidak sadarkan diri di bawah pohon mangga. Dan mbak Kunti yang menakuti mereka berdua itu juga sudah tidak ada entah kemana perginya.


"Assalamualaikum." salam Ghibran saat memasuki rumahnya.


"Waalaikum salam." balas bi Wati yang sedari tadi menunggu kedatangan mereka.


"Astaghfirullah hallazim, suami saya kenapa tuan?" tanya bi Wati panik saat melihat keadaan suaminya yang di papah oleh Ghibran dan pak satpam.


"Pingsan bi gara gara mbak Kunti." jawab Ghibran dan menurunkan pak Tomo di sofa panjang.


"Ya Allah mas, kenapa kamu sampai pingsan kayak gini sih." ucap bi Wati mengolesi bawah hidung pak Tomo agar cepat sadar.


"Tuan saya permisi pergi dulu, karena di pos gak ada yang jaga." pamit pak satpam dan di angguki oleh Ghibran.


"Maaf bi, ini semua gara gara Ghibran mang Tomo jadi pingsan seperti ini." ucap Ghibran merasa bersalah.


"Tidak kok tuan, nanti suami sayang juga bakalan sadar." balas bi Wati tidak menyalahkan Ghibran.


Ghibran akan beranjak menuju dapur untuk mengupas kulit mangga muda, rapi tertahan dengan panggilan bi Wati.


"Tuan mau ngapain?" tanya bi Wati penasaran dan melihat ada buah mangga muda di tangan Ghibran.


"Ini bi mau ngupas mangga buat istri saya." jawab Ghibran menunjukkan buah mangga yang ada di tangannya.


"Itu dapat dari mana tuan?" tanya bi Wati lagi penasaran.


"Oh ini, tadi mang Tomo yang ngambil di ujung komplek yang sampai buat mang Tomo pingsan karena di ganggu sana mbak Kunti." jelas Ghibran.


"Astaghfirullah tuan, kenapa kalian mencarinya sih. Kan di kulkas ada." jawab bi Wati membuat mata Ghibran melotot.


"Hah, apa Bi? di kulkas ada?" tanya Ghibran memastikan dan di angguki oleh bi Wati.


"Kenapa bibi gak bilang, tahu gitu kan tadi Ghibran sama mang Tomo gak perlu capek-capek cari mangga muda." lanjut Ghibran.


"Ya kan tuan tidak tanya sama bibi, itu bibi dapat dari tetangga sebelah yang baru pulang dari kampung." jawab bi Wati santai.


"Hufft...." hela nafas Ghibran dan pergi dari sana menuju dapur untuk membuatkan permintaan Aretha. Yaitu mangga muda di kasih bon cabe.


Setelah menyelamatkan semuanya, Ghibran pergi menuju kamarnya untuk memberikan permintaan Aretha.


Ghibran masuk ke dalam kamar dan betapa kesalnya dia saat melihat Aretha yang malah tertidur dengan nyenyaknya.


Ghibran pun meletakkan mangga muda bon cabe itu di atas meja. Setelah itu dia memutuskan untuk mengambil air wudhu dan sholat tahajud mumpung dia lagi bangun.


Setelah sholat tahajud Ghibran membaringkan tubuhnya di samping Aretha. Ghibran membawa Aretha ke dalam pelukannya dan mencium kening Aretha sebelum dia ikutan tertidur juga.


-


Pagi hari Aretha terbangun dan segera lari ke dalam kamar mandi untuk memuntahkan semua isi perutnya.


Huek huek huek.


Ghibran yang mendengar itu pun sudah menebak kalau itu suara Aretha, karena sudah menjadi kebiasaan Aretha akhir akhir ini setiap pagi.


Ghibran sudah mengajak Aretha ke rumah sakit, tapi Aretha selalu menolaknya dan bilang katanya nanti juga sembuh. Tapi apa nyatanya sampai sekarang Aretha masih saja mual muak setiap paginya.


"Sayang...." pangil Ghibran dan memijat tengkuk Aretha.


Huek huek huek.


"Aku sudah tidak tahan melihat kamu setiap pagi seperti ini. Mau gak mau kita akan tetap pergi ke rumah sakit." final Ghibran tak ingin di bantah.


"Sudah." ucap Aretha setelah merasa sudah tidak ingin muntah lagi.


Setelah membasuh wajah Aretha, Ghibran segera membantu Aretha menuju ranjang dan di lanjut dengan Ghibran membuatkan teh hangat untuk Aretha.


"Gimana sudah enakan?" tanya Ghibran setelah Aretha minum teh hangat buatannya.


"Sudah mas." balas Aretha.


"Ya udah sekarang kamu ambil wudhu ya kita sholat subuh." ajak Ghibran.


Aretha pun beranjak dan di bantu Ghibran berjalan menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Setelah itu gantian Ghibran.


Selesai sholat Ghibran menyuruh Aretha untuk bersiap pergi ke rumah sakit untuk melakukan cek up.


Ingin menolak pun sekarang Aretha sudah tidak bisa, karena Ghibran sudah kekeuh dan tak bisa di bantah.


"Kamu sarapan dulu ya, biar nanti du sana bisa langsung minum obat." ujar Ghibran.


"Aku mau sarapan bubur di pinggir taman aja mas." balas Aretha.


"Ya udah ayo kita berangkat ke sana." ajak Ghibran.


Bi kita pergi kw rumah sakit dulu ya, nanti kalau ada bang Arthan atau siapa bilang aja kita cuma sebentar." pamit Ghibran pada bi Wati yang tengah bersih bersih.


"Iya tuan." balas bi Wati.


"Assalamualaikum." salam Ghibran dan Aretha.


"Waalaikum salam." balas bi Wati.


Ghibran dan Aretha pun pergi meninggalkan rumahnya menuju taman depan komplek untuk sarapan bubur terlebih dahulu sebelum pergi ke rumah sakit.


"Mas suapin ya." pinta Aretha setelah pesanan bubur mereka datang.


"Sini dekatan duduknya biar mas mudah suapin kamunya." suruh Ghibran.


Aretha pun mendekatkan dirinya pada Ghibran dan Ghibran dengan telaten menyuapi Aretha dan dirinya sendiri secara bergantian.


Selesai sarapan Ghibran langsung melajukan mobilnya menuju rumah sakit. Ghibran sudah membuat janji dengan dokter yang praktek hari ini, jadi dia dan Aretha tak perlu repot-repot mengantri di sana.


Sampai rumah sakit mereka langsung masuk ke ruangan dokter yang sudah buat janji dengan Ghibran.


"Dengan tuan Ghibran?" tanya dokter perempuan yang bername tag suci.


"Saya dok, dan ini istri saya Aretha yang akan dokter periksa." jawab Ghibran memperkenalkan Aretha.


"Baiklah ibu kalau boleh saya tahu, ada keluhan apa yang ibu rasakan?" tanya dokter suci pada Aretha.


"Saya sering muntah muntah ketika pagi hari dok. Terus saya juga merasa emosi saya sangat naik turun sehingga membuat saya mudah nangis dan marah." jelas Aretha.


"Ada lagi dok." tambah Ghibran.


"Istri saya ini suka'minta yang tidak tidak, masak iya tengah malam saya di suruh cari mangga." lanjut Ghibran.


"Kamu kok gitu sih, kamu gak suka aku suruh suruh kayak gitu." marah Aretha.


"Tuh kan dok, belum apa-apa aja dia udah marah marah." ucap Ghibran.


Dokter Suci pun tersenyum melihat perdebatan sepasang suami istri di depannya ini yang menurutnya sangat lucu.


...***...