AG: Aretha Ghibran

AG: Aretha Ghibran
part 79



Ghibran dan yang lainnya pun hanya tersenyum licik saja melihat mereka semua mencaci maki Nafisah.


"Udah udah stop." ucap Ghibran membuat mereka semua diam.


"Karena di sini sudah jelas pelakunya siapa jadi saya minta kalian semua membersihkan namanya baik toko ini dari media sosial kalian. Jika kalian masih menyebar berita yang tidak tidak tentang toko ini, maka kalian tanggung sendiri akibatnya." lanjut Ghibran membuat mereka semua berbondong bondong menghapus postingan mereka yang sebelumnya mengenai toko roti Aretha yang menjual makanan beracun.


"Ada yang perlu di tanya kan lagi?" tanya Ghibran.


Dengan serempak orang orang yang ikut demo menggelengkan kepalanya.


"Baguslah kalau begitu. Sayang apa kamu ingin bicara pada mereka?" tanya Ghibran pada Aretha di balas anggukan oleh Aretha.


Ghibran pun memberikan mic yang tadi dia pegang pada Aretha.


"Assalamualaikum wr wb." salam Aretha.


"Waalaikum salam wr wb." balas mereka semua.


"Karena masalahnya sudah jelas jadi saya tidak akan banyak bicara. Saya hanya akan mengucapkan beribu ribu kata maaf buat kalian semua atas ketidak nyamanan kalian di toko ini. Semoga saja kalian tetap menjadikan toko ini sebagai toko langganan kalian." pidato Aretha dan di dengarkan oleh para pedemo.


"Itu saja yang mau saya sampaikan, selebihnya kami mohon maaf yang sebesar besarnya. Kami tutup acara ini, Wassalamualaikum wr wb." Aretha menutup acara itu dan segera pergi meninggalkan tempat itu di susul yang lainnya.


(Udah kayak acara resmi aja wkwkwk 😂)


Nafisah segera di bawa oleh polisi yang sudah di siapkan oleh Arthan untuk di bawa ke rumah sakit terlebih dahulu untuk mengobati perutnya. Baru setelah itu nanti proses akan berlanjut. Tapi sebelum itu tak lupa para polisi menyuruh Nafisah untuk membersihkan tubuhnya dan berganti baju dengan pakaian yang lebih layak. Dan juga mereka memberikan pempers untuk Nafisah agar tidak bab secara sembarangan.


-


"Hufft... akhirnya selesai juga." lega Aretha mendudukkan dirinya di sofa ruang kerjanya di ikuti yang lain.


"Sumpah ya gw masih gak nyangka, kok ada gitu orang kayak si Nafisah itu, bikin orang susah aja." gruntu Ruby.


"Tau tuh, bikin omset kita merosot aja." timpal Aretha.


"Udah nanti aku ganti kerugiannya." sahut Ghibran.


"Gak bisa gitu lah. Ehh tapi ngapain kamu yang mau gantiin semua kerugiannya, jangan jangan kamu masih ada rasa ya sama dia?" tuduh Aretha.


"Astaghfirullah hallazim sayang, kamu kok ngomongnya gitu sih. Aku udah gak ada rasa sama dia, aku cuma cintanya sama kamu. Aku mau gantiin kerugiannya biar kamu gak pusing mikirin omset toko kamu yang berkurang." Balas Ghibran.


"Ya siapa tahu kan, kan orang bilang itu kalau cinta pertama akan selalu membekas meskipun udah ada orang baru."


"Ya tapi cinta pertama aku bukan dia, kenal dia aja beberapa tahun ini waktu aku baru main Faceb**k." sangkal Ghibran.


"Ya mungkin aja kan, trus kalau bukan dia siapa cinta pertama kamu?" kepo Aretha.


"Entahlah aku juga tidak tahu di mana dia sekarang, dulu aku ketemu dia waktu masih kecil." jawab Ghibran.


"Masih kecil, yakin itu cinta?" sahut Ruby.


"Maybe." balas Ghibran.


"Udah deh ini kenapa jadi ngomongin cinta cintaan sih, pusing gw dengernya." kesal Arthan.


"Makanya nikah biar tahu rasanya makan ada yang ngambilin, tidur ada yang nemenin." balas Ghibran mengejek Arthan.


"Si*l*n Lo."


"Terus sekarang kita mau ngapain di sini, gak mungkin kan kita buka toko?" tanya Aretha.


"Ya pulang lah, emang mau ngapain lagi." balas Ghibran yang di otaknya hanya ada berduaan bersama Aretha.


"Gw mah meskipun gak kerja uang tetep mengalir, gak kayak lo yang selalu sibuk kerja sampai sampai gak ada waktu buat cari cewek." balas Ghibran.


"Iya dah iya tuan Ghibran yang paling kaya."


"Udah udah napa jadi ribut sih. Kamu kalau mau pulang, pulang aja duluan. Nanti biar aku pulang sama Ruby, soalnya aku masih ada urusan di toko." ucap Aretha.


"Lah kok gitu, katanya tadi gak akan buka toko terus ngapain masih di sini. Mendingan kita pulang aja." balas Ghibran.


"Aku masih mau membicarakan sesuatu sama Ruby masalah bagian toko ini selanjutnya."


"Ya udah aku tungguin kamu di sini." final Ghibran tak menerima bantahan.


"Ya udah terserah kamu, asal kamu tidak bosan aja nungguin aku lama."


"Dasar bucin." ucap Arthan dan pergi dari sana.


"Woy apa lo bilang, gw sumpahin ya nanti lo lebih bucin dari gw." teriak Ghibran menyumpahi Arthan.


"Bodo." balas Arthan.


"Ya udah yang aku mau ke depan dulu nyusulin dia. Kamu jangan lama lama ya kalau ngobrol biar nanti kita cepat pulang." ucap Ghibran sebelum pergi dari sana menyusul Arthan.


"Iya mas." balas Aretha.


"Emang lo mau ngomongin apa sih, kok sampai ngajak gw gini?" tanya Ruby setelah hanya tinggal mereka berdua di sana.


"Jadi gini, kemaren mas Ghibran ngasih saran ke aku kalau aku harus memberikan nama buat toko ini agar mudah di kenali orang. Nah gw ngajak lo ngobrol karena gw mau tanya pendapat lo. Bagaimana menurut lo soal itu?" jelas Aretha.


"Ya kalau gw sih terserah lo aja, kan lo yang punya toko." jawab Ruby.


"Aku tidak bisa mengambil kesimpulan begitu saja, karena kita merintis toko ini tuh sama sama. Jadi aku mau memberikan nama toko ini juga atas persetujuan kamu."


"Emang lo udah ada saran nama tokonya?"


"Ada sih tapi itu mas Ghibran yang nyaranin. Kata dia di samain aja kayak nama cafenya agar sama gitu." jelas Aretha.


"GA?" tanya Ruby.


"Iya GA Ghibran Aretha."


Ruby terdiam memikirkan memikirkan saran nama yang Aretha ucapkan.


"Kenapa kamu gak suka ya, kalau kamu gak suka mungkin kamu ada saran nama yang lain?" tanya Aretha.


"Eemmm bagiamana kalau AG Aretha Ghibran. Kan kalau cafe itu punya Ghibran jadi GA, nah sedangkan ini toko kan punya kamu jadi AG." usul Ruby.


"Bagus juga ide kamu, ya udah nanti kita buat tulisan AG bakery dan kita pasang secepatnya. Terus nanti kita juga ubah penampilan toko ini agar lebih menarik minat pembeli." setuju Aretha.


"Kenapa lo gak minta tolong Ghibran aja, kan lo dulu pernah muji muji cafe dia." saran Ruby mengingat Aretha pernah memuji konsep cafe Ghibran.


Mengingat itu Aretha malu sendiri. Bagaimana mungkin dulu dia memuji konsep cafe Ghibran di saat dia lagi benci bencinya sama Ghibran.


Emang sih kata pepatah itu emang ada benarnya. Jangan terlalu benci dengan seseorang, karena benci itu adalah kepanjangan dari BENANG BENANG CINTA.


"Ya udah nanti aku coba minta bantuan mas Ghibran." balas Aretha.


Mereka berdua pun terus mengobrol membicarakan banyak hal, terutama tentang masalah wanita.


...***...