AG: Aretha Ghibran

AG: Aretha Ghibran
part 83



Huek huek huek.


Lagi dan lagi Aretha memuntahkan semua isi dalam perutnya. Ghibran pun dengan telaten memijat tengkuk Aretha agar mengurangi rasa mualnya.


"Udah?" tanya Ghibran di balas anggukan lemah oleh Aretha.


Ghibran pun membasuh mulut Aretha dengan telaten, baru setelah itu dia mengendong Aretha menuju tempat tidur lagi.


"Kamu tunggu di sini sebentar ya biar aku buatkan teh hangat dulu." Aretha hanya menganggukkan kepalanya saja.


Ghibran pun segera keluar menuju dapur dan langsung membuatkan teh hangat untuk Aretha. Dan setelah selesai dia kembali ke kamar.


"Ini kamu minum dulu."


Aretha meminum teh hangat buatan Ghibran dengan di bantu oleh Ghibran.


"Udah." ucap Aretha setelah di rasa cukup.


Ghibran mengambil minyak kayu putih di laci dan mengoleskannya di perut rata Aretha.


"Kamu habis makan apa hmm, kok sampai kamu muntah muntah kayak gini?" tanya Ghibran setelah mengolesi perut Aretha dengan minyak kayu putih.


"Mungkin aku masuk angin, terus juga pusing akibat naik bianglala kemaren malam." jawab Aretha lemah.


"Ya sudah sekarang kamu tidur lagi ya, ini udah malam." suruh Ghibran membenarkan tempat tidur Aretha agar dia merasa nyaman.


"Peluk." pinta Aretha manja.


"Ya udah sini aku peluk." Ghibran ikutan berbaring di samping Aretha dan memeluk pinggang Aretha. Tak lupa juga Ghibran menciumi pucuk kepala Aretha dengan kasih sayang.


"Maafin mas ya sayang, karena mas belum bisa menjaga kamu dengan baik." ucap Ghibran setelah memastikan Aretha tertidur.


Cup.


Ghibran mengecup kening Aretha dan setelah itu dia menyusul Aretha ke alam mimpinya.


-


Pagi harinya Ghibran sudah bangun dan bersiap dengan pakaian santainya. Dia melihat Aretha yang masih tertidur sambil tersenyum manis.


"Sayang bangun yuk, udah siang." ucap Ghibran membangun Aretha dengan cara menoel noel pipi Aretha.


"Eemmhh." bukannya bangun, Aretha malah membenarkan selimutnya hingga sampai di lehernya.


Cup cup.


"Sayang ku yang cantik, bangun yuk, udah siang nih." ucap Ghibran lagi setelah memberikan kecupan di pipi kanan dan kiri Aretha.


"Apaan sih mas aku masih ngantuk." balas Aretha masih dengan mata yang terpejam.


"Hei ayo bangun, ini udah siang loh nanti kamu di cariin Umi sama Abi."


Mendengar nama Umi dan Abi, sekitar mata Aretha terbuka dan mengamati keadaan sekitar.


"Kita ada di rumah Abi ya mas?" tanya Aretha menatap Ghibran.


"Loh masak kamu lupa sih, kan semalam kita tidur di sini." jawab Ghibran.


Aretha diam, diam mencoba mengingat kejadian semalam, dan memang benar kalau dirinya semalam sehabis dari pasar malam pulang ke rumah orang tuanya karena Ghibran masih ada urusan.


Aretha beranjak untuk duduk. Dengan cekatan Ghibran pun membantu Aretha dengan menata bantal sebagai tempat sandaran untuk Aretha.


"Yuk mandi, habis itu kita pulang. Bang Arthan sudah menunggu kita di rumah." ucap Ghibran.


"Mandiin." manja Aretha yang tak seperti biasanya.


"Beneran kamu mau aku mandiin, emang kamu gak takut kalau aku apa apain kamu?" tak yakin Ghibran.


"Emang kamu tega makan aku du saat keadaan ku lagi seperti sekarang?" balas Aretha.


"Ya udah ayo cepat gendong aku ke kamar mandi, katanya tadi mau cepat cepat pulang." suruh Aretha.


Ghibran pun menggangkat tubuh Aretha dan membawanya ke kamar mandi. Aretha mandi dengan bantuan Ghibran, dan jangan lupa Ghibran yang harus kuat kuat menahan imannya agar tidak goyah keinginannya untuk menggarap Aretha.


-


"Nih anak kemana sih, katanya mau pulang pagi pagi." gerutu Arthan dalam rumah Ghibran yang menunggu kedatangan Ghibran dan Aretha.


"Kalau tahu gini mending gw samperin aja tadi ke rumah Abi." lanjut Arthan.


Ting tong.


"Assalamualaikum Aretha Ruby cantik datang nih." ucap salam Ruby sambil berteriak.


"Haduh siapa lagi itu." gerutu Arthan kesal.


Dengan malas Arthan beranjak untuk membukakan pintu rumah untuk orang yang pagi pagi seperti ini sudah bertamu.


Kemana bi Wati kok malah Arthan yang harus membukakan pintu buat tamu? Ya bi Wati lagi sibuk lah di belakang. Kan yang pelayan di rumah Aretha cuma ada bi Wati jadi ya mau tak mau Arthan lah yang harus membukakan pintu.


"Assalamualaikum... Aretha... woy Aretha gw di luar nih." teriak Ruby sambil menatap ke atas ke arah kamar Aretha.


"Waalaikum salam. Berisik tau gak Lo." balas Arthan membukakan pintu sambil berteriak juga.


"Wih ada tuan muda Arthan nih, minta uangnya dong om." ucap Ruby berjalan menghampiri Arthan.


"Apaan sih lo gak jelas banget." sinis Arthan dan masuk mengabaikan Ruby begitu saja.


"Sok jual mahal banget, awas aja nanti kalau aku keluarin jurus semar mesem ajian semar mendem milikku. Klepek-klepek baru tahu rasa." gumam Ruby.


"Gak usah ngomongin gw di belakang, kalau mau masuk cepat." ucap Arthan yang tahu Ruby tengah menyumpah serapahinya.


"Hah dia denger." cengoh Ruby dan segera masuk tak lupa dia menutup pintu rumah Aretha kembali.


"Lah kok sepi, Aretha kemana?" tanya Ruby yang tidak melihat ada kehidupan di dalam rumah ini selain Arthan.


Arthan diam saja tak mengindahkan Ruby yang terus berceloteh.


"Arthan gw tanya Lo, Aretha kemana?" tanya Ruby dan tetap tak di idahkan oleh Arthan.


"Woy Arthan lo budek ya." teriak Ruby di samping Arthan tapi tetap saja tak ada jawaban dari Arthan.


"Woy Arthan lo bu...."


Bruk.


Ruby terjatuh dalam pangkuan Arthan. Tadi Ruby berniat ingin menampar pundak Arthan tapi dengan gerakan cepat Arthan langsung menarik tangan Ruby. Ruby yang belum terlalu siap pun oleng dan jatuh dalam pangkuan Arthan.


Pandangan mereka berdua terkunci satu sama lain. Mereka sama sama mengamati wajah lawan dengan seksama. Bahkan Ruby pun tak menyadari kalau tangannya yang nakal ini sudah memeluk leher Arthan. Dan begitu juga Arthan, dia tak menyadari kalau tangannya tengah menahan tubuh Ruby agar tidak terjatuh ke lantai.


Satu menit dua menit bahkan sampai lima menit mereka belum juga tersadar. Hingga dengan perlahan Arthan mendekatkan wajahnya ke wajah Ruby.


"Assalamualaikum. Astaghfirullah hallazim kalian sedang apa?" teriak Aretha yang baru saja memasuki rumah dan di suguhkan pemandangan yang sangat menjijikkan.


Bruk.


"Auww...." ringis Ruby karena Arthan dengan teganya menjatuhkan dirinya di lantai.


Untung saja ada karpet bulu yang melapisinya, coba kalau tidak mungkin saja punggung Ruby udah encok.


"Astaghfirullah Ruby." panik Aretha dan membantu Ruby untuk bangun.


"Abang apa apaan sih, kan kasian Ruby nya." marah Aretha pada Arthan.


"Arthan tak membalas dan tak memperdulikannya, dia malah mengalihkan pandangannya ke arah lain tak mau menatap kedua wanita itu.


...*** ...