
"Astaghfirullah kalian habis ngapain?"kaget Umi Fatimah yang melihat Ghibran dan Aretha basah kuyup.
"Ini nyonya, tadi kran airnya copot, jadi den Ghibran bantuin non Aretha pasangin jadi basah semua deh." jelas Bibi.
"Aduh nak Ghibran maaf ya, kamu jadi basah semua kayak gini. Retha kenapa tadi kamu gak pangil Abi aja sih, kan kasian nak Ghibran nya." cerocos Abi Umar yang baru saja datang.
"Abi aja yang gak denger, orang tadi Aretha udah pangil Abi kok." bela Aretha pada dirinya sendiri.
"Udah udah, nak Ghibran ayo Umi ambilkan pakaian Abi dulu, nanti kamu bisa masuk angin kalau pakaian kamu basah gitu." ajak Umi Fatimah.
"Iya Umi." balas Ghibran.
"Anak orang aja terus yang di perhatiin, anak sendiri gak di anggap." cemburu Aretha dan berlalu pergi menuju kamarnya.
"Tuh Mi anak kamu ngambek." ucap Abi Umar.
"Anak Abi juga itu." balas Umi Fatimah.
"Maaf Umi, Abi, gara gara Ghibran Aretha jadi marah seperti ini." ujar Ghibran merasa tidak enak.
"Ehh enggak kok, ini bukan salah kamu memang Arethanya aja yang begitu, nanti juga udahan marahnya." balas Umi Fatimah.
"Udah yuk biar Umi ambilkan pakaian Abi dulu."
Umi Fatimah pun segera menuju kamarnya untuk mengambilkan Ghibran pakaian Abi Umar, di ikuti Abi Umar serta Ghibran yang sudah basah kuyup di belakangnya.
-
"Apa apa Ghibran, apa apa Ghibran. Sekalian aja nanti namaku di KK di hapus ganti Ghibran." gerutu Aretha dalam kamarnya.
Aretha sudah selesai dengan kegiatan mandi serta ganti bajunya. Sekarang dia tengah memakai kerudung pashmina yang dia lilitkan di lehernya.
"Sebenarnya yang anaknya itu siapa sih, gw atau Ghibran." lanjut Aretha.
"Untung aja gw gak punya saudara laki-laki, coba kalau ada pasti Umi sama Abi akan lebih sayang sama dia. Secara kan Abi sama Umi sangat ingin banget punya anak laki-laki."
"Dah beres, sekarang tinggal berangkat deh ke toko." ucap Aretha setelah memastikan penampilannya sudah oke.
Aretha keluar dari kamar dan melihat pemandangan yang hangat di ruang tamu. Di mana kedua orang tuanya tengah becanda dan tertawa sama Ghibran. Dan dia juga melihat pakaian yang Ghibran pakai itu adalah milik Abinya, untung aja pas di tubuh Ghibran, coba kalau tidak mungkin akan terlihat lucu.
"Umi, Abi Aretha pergi dulu mau ke toko." pamit Aretha setelah menghampiri ketiganya.
"Loh kamu kok udah mau pergi, kamu gak mau ngobrol sama nak Ghibran dulu?" tanya Abi Umar.
"Ya, ya kan kamu bisa bawa teman, Ruby gitu misalnya."
"Gak ada Ruby sibuk di toko, udah ahh Retha mau pergi dulu."
"Tunggu Ret." cegah Ghibran sebelum Aretha mengucapkan salam.
"Kita bisanya ngobrol sebentar gak?" lanjut Ghibran.
"Gak bisa gw sibuk, lagian kan tadi udah gw bilang kalau gak boleh ngobrol berduaan sama yang bukan mahram. Kamu gak budek kan, pasti kamu dengar." tolak Aretha.
"Retha." tekan Umi Fatimah agar Aretha lebih sopan.
"Apa sih Umi, benar kan yang Aretha bilang. Bukannya Umi sendiri yang bilang begitu pada Aretha." skak mat Aretha pada Umi Fatimah.
"Kamu bisa bawa temen kamu yang kemarin kok, nanti biar dia yang awasin kita dari jauh." ujar Ghibran memohon.
"Tuh dengerin apa yang nak Ghibran bilang, kamu kasih dong kesempatan nak Ghibran buat ngobrol sama kamu." sambung Abi Umar.
"Hufft... Ya udah ayo, kita ngobrol di taman dekat toko aja." putus Aretha di balas senyuman oleh Ghibran.
"Retha pamit dulu Mi, Bi. Assalamualaikum." pamit Aretha mencium punggung tangan kedua orang tuanya dan kedua pipi mereka.
"Ghibran juga pamit pergi dulu Bi, Mi. Assalamualaikum." pamit Ghibran juga tak lupa mencium punggung tangan Abi Umar, sedangkan untuk Umi Fatimah dia hanya mengatupkan kedua tangannya di depan dada.
"Kalian jangan menggunakan satu mobil, Aretha kamu bawa mobil sendiri." pesan Abi Umar.
"Iya Abi, Aretha tahu." balas Aretha agak berteriak karena dia sudah jauh posisinya dari Abi Umar.
"Gak nyangka ya Bi, anak kita ternyata sudah besar." sedu Umi Fatimah memandang kepergian mobil Aretha.
"Iya Mi, Abi juga gak nyangka." balas Abi Umar menarik Umi Fatimah agar masuk ke dalam pelukannya.
"Pasti kalau dulu dia masih ada mungkin sudah seperti nak Ghibran."
"Umi tenang ya, kita berdoa saja semoga dia tenang di sana." balas Abi Umar mengelus punggung Umi Fatimah agar perasaannya tenang.
Mereka berdua pun memutuskan untuk kembali ke dalam kamar agar tidak ada yang melihat keadaan mereka yang tengah menggenang masa lalu.
...***...