
"Ternyata mereka hebat juga." puji seseorang yang tadi hendak menolong Aretha dan Ghibran.
"Aku jadi semakin percaya kalau laki laki itu bisa menjaga Aretha." lanjutnya.
Orang itu pun memutar mobilnya dan pergi meninggalkan tempat kejadian.
-
Mobil Ghibran memasuki halaman luas sebuah rumah mewah yang terletak di kompleks perumahan elit. Aretha melongo melihat bangunan rumah di hadapannya. Meskipun rumah Abi Umar besar dan mewah, tapi rumah yang ada di hadapannya ini lebih mewah dan besar lagi.
"Ini rumah siapa?" tanya Aretha pada Ghibran sebelum turun dari mobil.
"Rumah kitalah, yuk turun." ajak Ghibran.
Ghibran turun dari mobil, sedangkan Aretha masih tetap berada di dalam mobil. Dia masih belum percaya kalau rumah di depannya ini yang akan mereka berdua tinggali.
"Hei kenapa, ayo kita masuk." ajak Ghibran membukakan pintu mobil untuk Aretha.
Ghibran juga mengulurkan tangannya untuk membantu Aretha keluar dari mobil, dengan agak canggung Aretha menerima uluran tangan Ghibran.
"Kamu seriusan ini rumah yang akan kita tempati?" tanya Aretha belum percaya.
"Serius, dua rius malah. Udah ahh ayo kita lihat ke dalam." menarik tangan Aretha memasuki rumah.
Ghibran membawa Aretha masuk ke dalam rumah, saat pertama kali masuk Aretha di buat kagum dengan dekorasi yang ada di dalam rumah.
Nuansa modern serta perpaduan warna abu abu dan putih membuat rumah ini menjadi semakin mewah. Apalagi pajangan pajangan yang ada di sana, Aretha yakin itu harganya tidak lah murah.
"Gimana kamu suka gak?" tanya Ghibran menghentikan langkahnya di ruang tamu dan di balas anggukan kepala oleh Aretha.
"Alhamdulillah kalau kamu suka, kita lihat kamar kita yuk." ajak Ghibran lagi dan menarik tangan Aretha menuju lantai dua.
Di lantai dua terdapat empat pintu kamar dan Ghibran membawa Aretha ke pintu yang jaraknya dekat dengan tangga dan membukanya.
Ceklek.
Aretha semakin terkagum melihat kamar itu, seperti ini adalah kamar utama yang nantinya akan mereka berdua tempati.
"Ini kamar kita?" tanya Aretha sambil melihat sekeliling.
" Iya ini kamar kita, dan untuk yang ada di samping kamar ini masih kosong kalau yang nomor tiga dari sini aku pakai buat ruang kerja dan untuk yang paling ujung sendiri aku buat ruang olahraga." jelas Ghibran menjelaskan satu persatu ruangan yang ada di lantai dua.
"Kamu suka kan? Kalau kamu gak suka dengan desainnya kamu bisa merubahnya." Tanya Ghibran.
"Aku suka kok, suka banget malahan." jawab Aretha.
"Oh iya, sedari kita masuk tadi kok aku belum ketemu orang sama sekali kecuali pak satpam tadi, rumah ini masih baru ya?" tanya Aretha.
"Bukan baru sih, kalau bangunannya sepertinya udah ada beberapa bulan lalu tapi aku baru membelinya beberapa hari yang lalu saat lamaran aku kamu terima." jawab Ghibran membuat Aretha yang sedari tadi fokus menatap lukisan yang ada di kamar mengalihkan pandangannya pada Ghibran.
"Seriusan kamu baru beli rumah ini, emang selama ini kamu tinggal di mana?"
"Tinggal di apartemen, gak mungkin aku ajak kamu tinggal di sana yang tempatnya jauh dari toko kamu. Jadi ya aku memutuskan untuk membeli rumah baru deh."
"Tunggu deh, kamu gak ngepet kan? Dari mana kamu dapat uang sebanyak itu buat beli rumah ini sedangkan pekerjaan kamu aja hanya pelayan cafe. Maaf bukan maksud aku merendahkan pekerjaan kamu." Huh, sepertinya Aretha salah ngomong, jadi merasa gak enak kan karena sudah merendahkan pekerjaan Ghibran.
"Enggak papa kok, aku beli rumah ini tuh...."
"Oh aku tahu, pasti Abi kan yang beliin rumah ini buat kita." potong Aretha.
"Hahaha iya, Abi yang beliin." balas Ghibran sambil tertawa sumbang.
"Sabar Ghibran sabar, istrimu ini tahunya kamu hanya pelayan cafe." batin Ghibran.
"Abi baik banget sih, seharusnya kan gak usah mending kita tinggal di apartemen kamu aja. Meskipun jauh aku gak papa kok daripada harus membeli rumah ini yang aku yakin harganya pasti mahal. Kan mending uangnya di tabung buat kebutuhan yang lainnya." ucap Aretha dengan polosnya.
"Pantesan aja tadi Abi ngusir ngusir aku, ternyata mau ngasih kejutan ini toh."
Ghibran hanya tersenyum saja mendengar apa yang Aretha ucapkan, Ghibran jadi gak sabar membayangkan wajah Aretha nanti ketika tahu kalau dirinya tidak semiskin yang dia kira.
"Kita lihat ruangan yang lainnya yuk." ajak Ghibran dan di angguki Aretha.
Mereka berdua mengelilingi rumah mewah yang Aretha kira pemberian Abinya, padahal mah ini Ghibran sendiri yang beli. Setelah selesai Aretha merapikan pakaiannya ke dalam lemari, dan benar saja di sana sudah terdapat banyak pakaian dan ada juga banyak gamis untuk dirinya. Ghibran memang suami yang sangat sangat baik pakai banget, tapi sayang Aretha selalu berfikir kalau itu semua yang membelikan adalah Abinya.
-
Aretha bingung saat berada di dapur. Dia tadi berniat untuk membuat makanan untuk makan siang, tapi saat melihat bahan yang ada di sana dia bingung harus melakukan apa. Kan Aretha gak bisa masak.
"Aduh gimana nih, masak iya gw kue buat makan siang sih." gumam Aretha bingung menatap bahan masakan yang ada di depannya.
"Kalau pun mau buat kue bahan bahannya juga gak ada di sini, masak iya gw harus beli dulu."
Saat asik bergumam, Aretha di kagetkan dengan suara yang datang dari belakangnya.
"Kenapa?" tanya Ghibran yang datang menghampiri Aretha.
"Hah!!" kaget Aretha dan berbalik menghadap Ghibran sambil mengelus dadanya.
"Maaf aku udah bikin kamu kaget." ucap Ghibran merasa bersalah.
"Enggak kok, aku aja gak gak sadar kedatangan kamu." balas Aretha agar Ghibran tidak merasa bersalah.
"Kamu mau masak apa?" tanya Ghibran melihat ke belakang tubuh Aretha ada banyak bahan masakan.
"Itu, anu emmm...." Aretha bingung harus menjawab apa.
Ghibran tersenyum, dia tahu kalau istrinya ini tengah bingung karena tidak bisa memasak.
"Kamu duduk aja di sana biar aku yang masak." ucap Ghibran melangkah ke samping Aretha.
"Ehh gak usah biar aku saja."
"Yakin hmm?"
"Ehh, emm...." Aretha menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Mau belajar masak?" tawar Ghibran.
Mata Aretha melotot mendengar ucapan Ghibran, berarti Ghibran tahu dong kalau dia gak bisa memasak. Aduh malunya dia.
"Udah gak usah malu gitu, sini aku ajarin kamu masak." ujar Ghibran membuat Aretha semakin malu.
Aretha tersenyum dan mengangguk dan di balas senyuman manis oleh Ghibran.
"Mau makan siang sama apa hmm?" tanya Ghibran.
"Terserah kamu aja asal yang cepat matang, soalnya perut aku udah lapar." jawab Aretha sambil nyengir.
Ya, memang sedari tadi perut Aretha sudah keroncongan minta di isi, oleh karena itu Aretha tadi ingin memasak.
"Gemes banget sih." ucap Ghibran sambil mengacak acak jilbab Aretha.
"Ghibran...."
Aduh sepertinya Aretha salah, hukuman di depan mata nih.
...***...