AG: Aretha Ghibran

AG: Aretha Ghibran
part 29



"Eemmm...." Aretha menatap Abi Umar dan beralih menatap Umi Fatimah.


"Gimana nak Retha, kamu mau kan?" tanya ibu Yuni penuh harap.


Jangan di tanya gimana keadaan Ghibran saat ini. Keringat dingin sudah membasahi pelipisnya dan jari tangan yang tak lepas dari pautan jari tangan yang satunya. Ghibran merasa sangat deg deg degan dan takut kalau Aretha menolak dirinya. Tak lupa dalam hati dia selalu berdoa kepada Allah agar Aretha mau menerima dirinya.


"Retha...." ucap Abi Umar agar Aretha menjawab pernyataan Ghibran.


Melihat Abi dan Uminya yang sangat berharap agar dirinya menerima Ghibran, Aretha pun akhirnya mengambil keputusan.


"Bismillahirrahmanirrahim, iya Aretha mau." jawab Aretha mantap.


"Alhamdulillah...." ucap syukur mereka semua tak terkecuali Ghibran, dia lah yang paling semangat di antara yang lainnya.


"Beneran kamu mau?" tanya Ghibran lagi untuk memastikan, karena dia tidak begitu percaya, bisa saja kan kalau Aretha membohonginya.


"Iya aku mau." balas Aretha dengan senyuman terpaksa yang menghiasi bibirnya.


"Terimakasih kamu sudah mau menerima aku sebagai calon suami kamu."


"Nah sekarang sudah jelaskan kalau Aretha mau menerima lamaran nak Ghibran, sekarang kita tinggal tentukan tanggal pernikahan saja." ucap Abi Umar membuat semuanya menatap Abi Umar.


"Kalau saya sih terserah dari keluarga mempelai wanitanya saja tuan." balas ibu Yuni mewakili Ghibran, karena Ghibran tadi sudah berbicara kepadanya.


"Kalau kemauan saya sebagai wali dari Aretha sih secepatnya untuk acara akad nya. Tapi untuk resepsi bisa satu bulanan lagi, kan kita juga harus menyiapkan semuanya dulu. Menurut kalian berdua bagaimana?" tanya Abi Umar pada Aretha dan Ghibran.


"Kalau Ghibran sih terserah pada Abi, gimana baiknya saja." jawab Ghibran.


"Kalau kamu gimana sayang?" tanya Abi pada Aretha karena Aretha belum menjawab ucapannya.


"Apa itu enggak terlalu cepat Bi, menurut Aretha lebih baik di barengin saja acara akad sama resepsinya. Pagi akad malamnya resepsi." usul Aretha.


"Ya sudah terserah Abi saja kalau itu yang terbaik menurut Abi." balas Aretha dengan hati grundel.


"Oke kalau gitu tiga hari lagi kalian akan menikah."


"APA!!!" kaget Aretha dengan keras.


"Kenapa sayang?" tanya Umi Fatimah pada anaknya.


"Tiga hari itu bukan waktu yang lama loh Bi, Abi gak salah kan?" tak percaya Aretha.


"Enggak Abi gak salah ngomong kok, emang kalian akan menikah tiga hari lagi. Toh Abi sudah menyiapkan semuanya." balas Abi Umar membuat Aretha memicingkan matanya menatap Abi Umar.


Aretha jadi curiga kalau ini semua sudah di rencanakan jauh jauh hari oleh Abinya, dan jangan bilang kalau si Ghibran ini juga ikut dalam rencana Abi Umar. Hmm... sepertinya mereka patut di curigai. pikir Aretha.


"Mau gak mau kamu akan tetap menikah dengan nak Ghibran tiga hari lagi, udah yuk kita makan dulu perut Abi sudah lapar." ucap Abi Umar tak mau di bantah dan segera berlalu pergi dari sana menuju meja makan.


"Mari Bu, nak Ghibran kita ke meja makan dulu." ajak Umi Fatimah kepada tamunya.


"Iya nyonya." balas ibu Yuni dan mengikuti langkah kaki Umi Fatimah ke arah ruang makan.


"Apa lo, dah puas." garang Aretha menatap Ghibran tajam dan setelah itu pergi menyusul yang lain meninggalkan Ghibran.


"Makin cantik aja nih calon bini." gumam Ghibran dengan hati yang berbunga-bunga. Bagaimana tidak berbunga bunga, orang lamarannya di terima kok ya pasti senang lah.


Ghibran pun ikutan menyusul semua orang ke ruang makan. Mereka di sana makan dengan tenang tanpa ada yang berbicara satu pun karena tidak baik makan sambil berbicara, dan selesai mereka ngobrol ngobrol lagi sebentar sebelum Ghibran dan ibu Yuni memutuskan untuk pulang.


Setelah kepulangan Ghibran, Aretha memutuskan untuk pergi ke dalam kamarnya, dia ingin mengabari sahabatnya dan curhat banyak banyak kepada sahabatnya itu yang tak lain adalah Ruby.


...***...