AG: Aretha Ghibran

AG: Aretha Ghibran
part 137



Arthan dan Ruby sudah bersiap dengan pakaian santai milik mereka berdua. Malam ini mereka berdua berniat ingin menunjukkan diri mereka kalau mereka masih hidup.


"Sudah siap sayang?" tanya Arthan menghampiri Ruby yang baru saja keluar dari kamar.


"Sudah dong." balas Ruby sambil tersenyum.


"Nanti palingan kita sama Abi langsung di nikahin." ucap Arthan santai sambil membawa tangan Ruby menuju teras rumah.


"Hah, kok bisa?"


"Ya jelas lah, lihat aja kita belum nikah aja sudah satu rumah. Pasti juga Abi gak bakal marah, apalagi Umi sama kakek."


"Tapi aku...."


"Udah pokoknya siap gak siap kamu harus mau, aku gak mau banyak dosa terus." potong Arthan.


"Banyak dosa maksudnya?" tak mengerti Ruby.


"Iya banyak dosa, asal kamu tahu aku setiap mau tidur selalu terbayang bayang wajah kamu." jelas Arthan.


"Udah kamu jangan khawatir, nanti kita palingan nikah dulu trus baru resepsinya nanti." lanjut Arthan.


"Ya udah lah terserah kamu aja." pasrah Ruby.


"Nah gitu dong."


Lagian aku juga sudah janji kalau kita udah pulang bakal langsung nikahin kamu." lanjut Arthan.


"Hah, kapan?"


Seingat Ruby Arthan tidak pernah berkata seperti itu saat mereka berada di kampung nenek Rahma dan kakek Rahman. Tapi kenapa Arthan bicara seperti itu, apakah Ruby tidak mengetahui sesuatu? pikir Ruby.


"Ada deh, nanti aja kalau udah nikah aku ceritain." balas Arthan.


Arthan membukakan pintu mobil untuk Ruby setelah sampai di depan rumah Arthan.


Kali ini Arthan mengendarai mobilnya sendiri tanpa mengunakan jasa sopir. Mereka berdua pun segera pergi menuju kediaman Ghibran.


-


Di rumah Ghibran pengajian baru saja selesai, orang orang sudah pada bubar. Dan saat ini seperti biasa mereka semua berkumpul di ruang keluarga untuk berbincang-bincang.


Kiyai Mahfudz dan ibu nyai Halimah juga belum kembali ke kediaman Abi Umar. Mereka berniat ikut berbincang-bincang sebentar.


"Arthan/Ruby." Kaget mereka semua kecuali Ghibran dan juga Abi Umar.


"Waalaikum salam." balas Ghibran dan Abi Umar yang sadar tidak seperti yang lain yang tengah syok.


"Haloo... Arthan ganteng pulang nih." ucap Arthan menyapa keluarganya setelah sampai di ruang tengah.


"Ka-kalian...." gagap Aretha.


"Halo adik ku sayang, kamu gak kangen apa sama Abang kamu yang paling ganteng ini." balas Arthan merentangkan tangannya meminta agar Aretha memeluknya.


"Ini beneran?" tak percaya Umi Fatimah.


"Iya Umi ku sayang, ini Arthan anak Umi yang paling ganteng." balas Arthan.


"Ka-kalian masihkah hidup?" gagap ibu nyai Halimah tak percaya.


"Iya nenek kita masih hidup." balas Arthan.


Arthan mendekat pada keluarganya dan langsung memeluk Umi Fatimah dan juga Aretha yang kebetulan mereka tengah duduk berdampingan.


"Maafin Arthan Umi." tangis Arthan ternyata bisa pecah juga.


"KAKAK." teriakkan bocah dari arah belakang.


Ya, itu adalah Haikal. Dia langsung berlari dan menubruk tubuh Ruby dan memeluknya dengan erat.


Tadi Haikal sudah pamit ke kamar untuk belajar, tapi samar samar Haikal mendengar suara kakaknya dan juga Arthan. Jadi untuk memastikannya Haikal keluar dari kamar. Dan benar saja ternyata kakaknya beneran pulang.


"Kakak kemana saja Haikal khawatir sama kakak hiks hiks." tangis Haikal sambil memeluk tubuh Ruby dengan erat.


"Cup cup cup, kakak gak kemana mana kok. Sudah ya jangan nangis, masak jagoan nangis sih." Ruby membalas pelukan Haikal.


Ruby menundukkan tubuhnya agar setara dengan tinggi Haikal.


"Tapi kak Arthan hiks jagoan juga nangis tuh hiks hiks." balas Haikal sambil melihat Arthan yang tengah memeluk adik dan Uminya sambil menangis.


Mendengar itu seketika mereka tertawa dan Arthan langsung melepaskan pelukannya.


"Hahahaha... Arthan di ejek sama Haikal."tawa mereka semua.


...***...