
Deg.
Pandangan Ghibran bertemu dengan seseorang yang dulu sempat mengisi hatinya. Ghibran pun segera mengalihkan pandangannya dari wanita itu yang tak lain adalah Nafisah mantan Ghibran yang dulu gagal nikah dengannya.
"Ehh ada nak Wahyu sama istrinya, mari silahkan masuk." ucap ustadz Karim ramah pada mereka berdua mempersilahkan tamunya masuk.
Wahyu, dialah suami dari Nafisah mantan Ghibran. Mereka dulu menikah karena di jodohkan. Tapi sepertinya sekarang mereka sudah saling menerima, terlihat dari tangan mereka berdua yang saling bertaut satu sama lain.
Wahyu dulu adalah alumni dari pesantren milik Kiyai Mahfudz. Dia dulu adalah santri yang paling berbakti di pesantren, sampai sampai waktu acara nikah pun di laksanakan di pesantren ini.
"Kalian tadi dari Jember langsung ke sini atau mampir dulu ke rumah orang tua kamu Wahyu?" tanya ustadz Suaib pada mereka berdua.
"Kita berangkat dari rumah ibu ustadz, kebetulan kami berdua sudah sampai tadi malam." jawab Wahyu ramah.
Sementara itu Nafisah dan Ghibran, mereka berdua hanya diam saja dengan keringat dingin di tangan mereka berdua.
Kalau Ghibran tangannya berkeringat bukan karena masih ada rasa, tapi karena dia takut kalau sampai yang lain tahu kalau Nafisah adalah mantannya. Terlebih lagi di sini ada Aretha, dia takut Aretha akan tahu dan membenci dirinya nanti. Bukan maksud untuk merahasiakannya, tapi dia takut Aretha akan pergi meninggalkan dirinya.
"Gimana nak Nafisah, apakah sudah isi?" tanya ustadz Karim.
"Belum ustadz, mungkin masih belum di percaya sama Allah." jawab Nafisah seramah mungkin.
"Lama juga ya, anak saya aja baru beberapa bulan menikah sudah isi." julid ustadz Karim.
"Bukannya Kamila hamil di luar nikah ya ustadz?" balasan Wahyu yang merasa geram dengan ucapan ustadz Karim.
"Kamu...." emosi ustadz Karim.
"Sudah sudah, ustadz sebaiknya kita menyambut tamu dengan baik. Dan untuk nak Wahyu, tidak sebaiknya kita mengumbar aib orang lain." ucap Kiyai Mahfudz melerai perdebatan di antara mereka.
"Maaf Yai." maaf Wahyu.
"Nak Nafisah kalau merasa canggung di sini sebaiknya ke dalam aja, di sana ada ibu yai sama yang lainnya." ucap ustadz Suaib yang melihat kegelisahan di wajah Nafisah.
"Iya ustadz, kalau bergitu saya permisi dulu ustadz, Yai. Assalamualaikum." pamit Nafisah.
"Waalaikum salam." balas mereka semua tak terkecuali Ghibran.
"Mas, aku ke dalam dulu ya." ijin Nafisah pada suaminya dan di balas anggukan oleh Wahyu.
Nafisah pun pergi menuju ke arah dapur untuk bergabung dengan para wanita di sana.
"Hufft...." hela nafas Ghibran.
"Kamu kenapa?" tanya ustadz Suaib yang mendengar helaan nafas Ghibran.
"Oh, tidak apa apa kok ustadz, hanya sedikit lelah saja." jawab Ghibran.
"Kamu bisa istirahat aja di kamar Aretha, biar ustadz Karim yang antar." suruh Kiyai Mahfudz.
"Apakah tidak apa apa kek, kan di sini masih rame, Ghibran tidak enak."
"Gak papa kok, kan kamu sudah kenalan sama yang lain. Nanti dhuhur kita kumpul lagi buat sholat."
"Ya udah kalau gitu Ghibran pamit ke kamar dulu kek, ustadz." pamit Ghibran.
"Ustadz Karim, bisa minta tolong antarkan nak Ghibran ke kamar Aretha?" pinta Kiyai Mahfudz pada ustadz Karim.
"Inggih Romo yai." jawab ustadz Karim patuh, meskipun ada rasa malas dalam dirinya.
"Ayo cepat saya antar, saya masih ada urusan yang lain." judes ustadz Karim pada Ghibran.
"Iya ustadz, Ghibran pamit dulu assalamualaikum." pamit Ghibran mengikuti langkah ustadz Karim.
"Waalaikum salam." balas mereka semua.
"Ooh itu namanya nak Ghibran, dia berasal dari Jakarta. Dia itu suami dari neng Aretha." jawab ustadz Suaib menjelaskan.
"Oooh, pantesan Wahyu kok baru lihat."
Mereka pun terus ngobrol banyak hal, salah satunya bagaimana keadaan pesantren dan lain sebagainya.
-
Sementara itu Ghibran yang di antar oleh ustadz Karim ke kamar Aretha pun sudah sampai di depan pintu kamar Aretha, tapi saat dia akan masuk ke dalam tangan Ghibran di tahan oleh ustadz Karim.
"Kamu jangan merasa berkuasa ya di sini. Kamu itu hanya cucu menantu." peringatan ustadz Karim berikan pada Ghibran.
Alis Ghibran mengeryit bingung, perasaan tadi dia biasa aja deh. Ini ustadz satu kenapa ngomong gitu. Lagian juga Ghibran di sini gak akan lama, palingan besok juga udah pulang. pikir Ghibran heran.
"Udah sana masuk, katanya mau tidur. Perjalanan gitu aja capek, dasar kampungan. Pasti gak pernah naik pesawat." sinis ustadz Karim dan berlalu pergi meninggalkan Ghibran.
"Tuh orang kenapa sih, aneh banget." Tak mau ambil pusing, Ghibran pun segera masuk ke dalam kamar untuk menjernihkan pikirannya.
-
"Loh ada nak Nafisah ternyata, kamu baru datang ya. Mana suami kamu?" sambut ibu Nyai Halimah.
"Hehehe iya Ibu Nyai, Nafisah baru saja sampai. Mas Wahyu ada di depan sama Romo yai." balas Nafisah sambil nyengir.
"Ini mau di kupas semua bumbunya Bu Nyai?" tanya Nafisah.
"Iya, bawang putih sama bawang merahnya di kupas semua. Biar nanti kalau mau masak enak tinggal ambil aja tidak perlu mengupasnya lagi." jawab Ibu Nyai Halimah.
"Boleh Nafisah bantu Bu Nyai?"
"Boleh dong, sini kamu bantuin. Retha sayang kamu pindah gih duduknya di sana." balas ibu Nyai Halimah menyuruh Aretha pindah duduknya agar di pakai Nafisah.
"Kenapa harus Retha yang pindah nek, kan bisa dia yang duduk di sana."sungut Aretha kesal, kan dia yang duduk di situ duluan, kenapa juga harus dia yang pindah. Bikin kesal aja.
"Hus, Nafisah ini tamu jadi harus di hormati."
"Tapi Retha udah pewe di sini nek."
"Udah Bu Nyai, gapapa kok Nafisah saja yang duduk di sana. Mbaknya kan sudah duduk di situ dari tadi." ujar Nafisah menengahi pembicaraan ibu Nyai Halimah dan Aretha.
"Tuh, dia aja sadar diri."
"Retha sayang, harus sopan kalau bicara sama orang." tegur Ibu Nyai Halimah.
"Iya nek maaf." balas Aretha malas.
"Maaf ya nak Nafisah, Aretha emang gitu orangnya." ucap ibu Nyai Halimah.
"Iya ibu Nyai, tidak apa apa kok." balas Nafisah dan pergi mengambil tempat duduk paling pojok sendiri samping ustazah Hani.
"Nyeyeye...." menye menye Aretha dengan mulut yang komat kamit seperti mbah dukun.
"Nenek gak suka kalau sikap kamu seperti itu, nenek bilangin Umi kamu nanti." tegur Ibu Nyai Halimah pada Aretha.
"Bilangin aja sih nek, toh Umi juga gak bakalan kaget." tantang Aretha.
Sebenarnya Aretha tuh punya sopan santun kalau kepada yang lebih tua, tapi kalau ada yang cari gara gara seperti tadi, hilang sudah sopan santun Aretha.
"Kamu tuh ya, kalau aja gak ada orang di sini udah nenek bejek bejek kamu." gemas ibu Nyai Halimah.
Sebenarnya ibu Nyai Halimah tahu bagaimana sikap Aretha kesehariannya. Dan dia pun gemas kalau denger cerita dari anaknya bagaimana keseharian Aretha. Tapi karena di sini banyak orang jadi ibu Nyai Halimah harus memberikan wejangan buat Aretha, agar tidak melampaui batas.
...***...