AG: Aretha Ghibran

AG: Aretha Ghibran
part 149 (Tamat)



"Assalamualaikum sayang," ucap Arthan yang baru saja memasuki ruangan Ruby.


"Waalaikum salam mas, kamu habis dari mana?" balas Ruby menyambut kedatangan suaminya.


Cup.


"Aku habis ada kerjaan di luar," jawab Arthan setelah memberikan kecupan di kening Ruby.


"Kamu sudah makan belum?" tanya Ruby perhatian.


"Belum kan aku ke sini mau ngajak kamu makan siang bersama di luar," jawab Arthan.


"Yah... kamu kok gak bilang dari tadi, aku baru saja makan di bawah tadi," balas Ruby.


"Iih kamu mah gak seru," ngambek Arthan.


"Ya sudah bagiamana kalau aku temani kamu makan saja di luar,"


"Emmm... boleh, tapi ada syaratnya,"


"Apa syaratnya?" tanya Ruby.


"Kamu harus siapin aku makan,"


"Huh dasar suami manja, ya sudah ayo cepat nanti keburu kamu kelaparan," balas Ruby mengiyakan permintaan Arthan.


"Mau aku gendong gak?" tawar Arthan.


"Apaan sih, aku masih bisa jalan ya,"


"Ya siapa tahu kan gak bisa jalan, semalam kan aku habisin kamu," goda Arthan.


"Iih apaan sih, udah ayo cepat jadi makan gak." Ruby yang malu pun pergi duluan meninggalkan Arthan.


"Istriku manis banget sih, mana bikin gemes mulu lagi," gumam Arthan dan mengejar Ruby yang sudah keluar dari ruangannya.


-


Sementara itu, di tempat Gibran dia saat ingin rasanya tengah berada di kamarnya sambil memangku baby Githa.


"Anak papa haus banget ya, sampai sampai kuat gitu mimiknya," ucap Gibran mengajak anaknya berbicara.


Seolah mengerti dengan apa yang papanya katakan, baby Githa tersenyum kepada papanya.


"Iih kamu manis banget sih kalau senyum kayak gitu, sama seperti mama kamu , papa jadi gemes deh," ucap Gibran menatap anaknya yang tengah tersenyum.


"Nanti kalau kamu sudah besar, papa akan ajak kamu pergi ke rumah baru mama, pasti nanti mama akan senang kalau kamu datang ke sana," lanjutnya lagi.


Tanpa Gibran sadari, ada umi Fatimah dan juga Abi Umar di balik pintu kamarnya yang tengah mendengarkan Gibran berbicara kepada anaknya.


"Umi merasa kasian kepada Gibran dan baby Githa bi," ucap umi Fatimah sedih.


"Iya mi, Abi juga sama," balas Abi Umar.


"Semoga nanti mereka berdua bisa bahagia ya bi,"


"Iya mi, aamiin semoga mereka bahagia," balas Abi Umar.


"Ya sudah bi ayo kita ke ke bawah," ajak umi Fatimah yang tidak ingin menganggu menantunya yang tengah bermain bersama anaknya.


Di saat Gibran baru saja meletakkan baby Githa di atas ranjang karena dia sudah tertidur pulas, tiba tiba ponsel Gibran berdering.


Gibran pun segera mengangkat panggilan itu agar nanti dering suara handphone nya tidak menganggu tidur anaknya.


"Halo bang kenapa?" tanya Gibran setelah menerima panggilan yang ternyata berasal dari Arthan.


"Halo bran, lu ada di rumah kan, gue dari tadi telfon umi sama Abi gak di angkat angkat, nenek meninggal bran," balas Arthan memberitahukan kalau ibu nyai Halimah telah tiada.


"Innalilahi, iya bang aku ada di rumah, ya udah aku kasih tahu umi sama abi dulu," balas Gibran.


Gibran pun segera keluar dari kamarnya dan mencari keberadaan kedua mertuanya untuk mengatakan berita duka.


Umi Fatimah yang mendengar kalau ibunya telah tiada pun syok dan langsung pingsan, umi Fatimah merasa menyesal karena hanya mengunjungi ibunya beberapa kali saja di rumah sakit karena dia harus merawat baby Githa di rumah.


"Abi bawa umi ke pesantren dulu, kamu di rumah saja jaga baby Githa," ucap Abi Umar pamit pergi ke pesantren.


"Iya bi, hati hati di jalan," balas Gibran.


"Iya nak," balas Abi Umar.


Abi umar membawa ibu Fatimah pergi ke pesantren dalam keadaan pingsan, biarlah nanti dia kasih obat waktu di pesantren saja.


"Ya Allah, belum cukupkah cobaan yang engkau berikan ini," gumam Gibran berjalan menuju kamarnya.


Gibran memutuskan untuk mengambil air wudhu dan dia memutuskan untuk menggaji di kamar sambil menjaga baby Githa.


-


6 tahun berlalu, baby Githa sekarang sudah tumbuh menjadi anak kecil yang sangat cantik sama seperti mamanya dulu.


"Papa nanti kita akan jalan jalan di sana kan?" tanya Githa kepada Gibran yang berada di sampingnya.


"Iya sayang, nanti kita jalan jalan di sana, Githa suka kan?" balas Gibran.


"Iya pa, Githa suka," balasan Githa yang sudah tidak sabar ingin sampai di tempat tujuannya.


Gibran mengajak anaknya untuk pergi jalan-jalan ke Korea karena dia ada kunjungan ke salah satu cabang cafe yang dia dirikan di Korea beberapa tahun lalu.


"Mungkin kalau kamu masih ada kamu pasti akan senang banget kalau aku ajak kamu pergi ke Korea sayang," batin Gibran sambil mengelus rambut anaknya.


Selama ini Gibran sudah berhasil menjadi papa yang baik untuk Githa, dia menjalankan perannya sebagai papa sekaligus mama untuk Githa sesuai dengan permintaan Aretha dulu untuk menjaga anaknya.


Pengganti Aretha?


Tidak, Gibran tidak kepikiran ke sana, dia akan setia kepada istrinya sampai nanti dia meninggal. Biarlah seperti ini lebih baik, dia akan fokus untuk merawat anaknya sampai nanti dia akan mengantarkan anaknya bertemu dengan pasangan hidupnya.


"Papa, papa," pangil Githa membuat Gibran tersadar dari lamunannya.


"Iya sayang, kenapa hmm?" balas Gibran.


"Mama dulu suka gak jalan jalan seperti ini?" tanya Githa.


Githa sangat sering menanyakan tentang mamanya, dan Gibran dengan senang hati akan menceritakan kehebatan Aretha kepada sang anak.


"Iya dong, mama sangat suka jalan jalan, bahkan tempat yang akan kita datangi ini adalah tempat yang di inginkan mama, tapi sayangnya mama sebelum ke sini dia sudah pergi duluan ke surga," balas Gibran.


"Wah kalau gitu nanti Githa mau jalan jalan sepuasnya di sini, terus nanti kalau sudah pulang ke Indonesia Githa akan pergi ke makam mama dan cerita di sana, pasti mama akan senang," antusias Githa.


"Iya sayang, sini duduk di pangkuan papa," suruh Gibran agar Githa duduk di pangkuannya.


Sekarang mereka sudah berada di mobil untuk menuju hotel tempat mereka tinggal selama berada di negri itu.


Githa pun menurut, dia duduk di pangkuan Gibran dan Gibran segera memeluknya dari belakang untuk menyembunyikan air mata yang akan menetes sebentar lagi.


"Anak kita sudah besar sayang, lihatlah dia sangat sama persis seperti kamu," batin Arthan menangis.


Mereka berdua jalan jalan di negri Korea mendatangi tempat tempat unik dan bersejarah di negara itu.


Gibran akan sebisa mungkin untuk membahagiakan anaknya, dia akan berusaha menjadi orang tua ganda untuk anaknya agar dia tidak kekurangan kasih sayang kedua orang tuanya.


...TAMAT....


Yeeyyy, terimakasih untuk kalian semua yang sudah baca cerita ini sampai akhir, dan maaf kalau ada salah kata atau apapun yang membuat kalian sakit hati πŸ™πŸ™πŸ™πŸ₯°


Sampai juga di cerita aku yang lainπŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°