
Arthan saat ini tengah berada di ruangan kerja Ghibran. Dia tengah telfonan dengan anak buahnya.
'Gimana?' tanya Arthan pada anak buahnya yang ada di sebrang sana.
'Kita sudah menemukan tempatnya tuan.' Kita sudah menemukan tempatnya tuan.'balas anak buah Arthan.
'Kalian pergi ke sana dan selamanya dia, biar di sini saya yang urus mumpung orangnya ada di sini.' suruh Arthan.
'Baik tuan.'
Panggilan pun berakhir, Arthan langsung keluar kamar dan mencari keberadaan seseorang yang sudah mengganggu kehidupan keluarganya dari dulu.
"Kamu mau kemana bang?" tanya Ghibran saat menemui Arthan seperti tengah tergesah gesah.
"Ikut gw." balas Arthan dan berlalu dari sana.
Ghibran pun mengikuti Arthan turun ke lantai bawah.
"Yang lain pada kemana?" tanya Arthan pada pembantu yang berpapasan dengannya.
"Ada di taman belakang tuan." jawab pembantu itu.
Arthan pun berlalu pergi dan Ghibran yang berada di belakangnya pun semakin mempercepat langkahnya agar bisa menyamai langkah kaki Arthan.
"Arthan kamu mau kemana nak?" tanya Umi Fatimah yang tengah duduk di kursi taman.
"Ada yang mau Arthan bicarakan, bisa kita semua ke atas?" ucap Arthan pada mereka semua yang ada di sana.
Ada Abi Umar, Umi Fatimah, Kiyai Mahfudz, ibu nyai Halimah dan juga Aretha.
"Kamu mau ngomong apa nak, kan di sini sama aja." balas ibu Nyai Halimah.
"Tidak nek Arthan malu, ini soal rumah tangga Arthan." jawab Arthan.
"Ya sudah ayo kita semua ke atas." Setuju Abi Umar saat melihat ada keseriusan di wajah anaknya.
"Abang mau ngapain sih?" tanya Aretha pada Ghibran.
"Gak tahu, tadi aku di suruh ngikutin dia." jawab Ghibran.
"Ya udah yuk kita susul mereka." ajak Ghibran karena yang lain sudah pada pergi dari sana.
"Kamu duluan aja, aku mau minta minum sama bibi." ucap Aretha sebelum naik ke lantai atas.
"Aku tungguin kamu aja ya."
"Gak perlu, aku bisa kok nanti naik sendiri. Bang Arthan keknya mau ngomong hal yang penting takut nanti kita malah tidak tahu apa apa kalau telat semua."
"Ya udah aku ke atas dulu ya." pamit Ghibran dan di angguki Aretha.
Ghibran pun naik menuju lantai dua, sedangkan Aretha memilih pergi ke dapur untuk mengambil minum.
Sedangkan di lantai dua semua orang sudah duduk di sofa, dan Ghibran yang baru saja datang pun langsung mengambil tempat duduk di samping Abi Umar.
"Kamu mau ngomong apa nak?" tanya Abi Umar.
"Iya nak, sepertinya kamu mau ngomongin hal yang serius?" timpal ibu nyai Halimah.
"Halah anda gak perlu sok baik di sini." balas Arthan menatap ibu nyai Halimah dengan tatapan tajam.
"Arthan, kamu tidak sopan bicara seperti itu pada nenek kamu." tegur Umi Fatimah pada anaknya.
"Nenek, hahahaha... nenek mana yang tega membuat hidup cucunya menderita, nenek mana Hah?" balas Arthan masih dengan pandangan menatap ibu nyai Halimah tajam.
"Maksud kamu apa nak, nenek salah apa sama kamu?" mendramatisir ibu nyai Halimah.
"Arthan, tolong kamu jelasin masalahnya ini seperti apa agar kita semua di sini tidak ada yang bingung." ucap Kiyai Mahfudz.
"Kek, apa kakek ingat siapa kembaran nenek?" tanya Arthan pada Kiyai Mahfudz.
"Iya ingat, dulu dia di penjara karena ketahuan maling kotak amal di masjid." jawab Kiyai Mahfudz.
"Namanya siapa kek?" tanya Arthan lagi.
"Namanya Hanifah. Emang ada apa nak?"
"Sekarang kakek tahu gak keberadaan dia di mana?" tanya Arthan lagi dan di balas gelengan kepala oleh Kiyai Mahfudz.
Mereka semua yang ada di sana pun diam menyimak semuanya yang ada di sana.
"Tuh orangnya ada di samping kakek." jelas Arthan menunjuk ke arah ibu nyai Halimah.
"Maksud kamu apa Arthan, ini nenek kamu." bentak Umi Fatimah.
"Kenapa anda diam saja, apakah anda sudah takut sekarang?" tanya Arthan pada ibu nyai Halimah yang hanya diam di sana.
Ibu Nyai Halimah diam sambil menunduk. Tapi tidak dengan matanya yang terus melihat ke segala arah.
"Hahahaha ternyata kamu sudah tahu. Ya aku adalah Hanifah kembaran Halimah istri Mahfudz." tawa menggelegar Hanifah ibu Nyai Halimah KW.
"Tuh kalian semua dengerkan dia ngomong apa." ucap Arthan dan berdiri untuk mendekati ibu Hanifah.
"Kamu mau tangkap saya, hahahaha silahkan." setelah mengucapkan itu ibu Hanifah langsung berlari meninggalkan tempat itu.
Semua orang yang melihat ibu Hanifah kabur pun langsung berdiri dan berusaha mengejarnya, terutama Arthan yang sangat dendam dengan ibu Hanifah.
"Kalian semua yang ada di bawah tangkap dia." ucap Arthan melalui HT yang dia bawa pada anak buahnya yang ada di bawah.
"Nenek mau kemana?" tanya Aretha saat di pertengahan tangga melihat ibu Hanifah berlari turun.
Bukannya menjawab ibu Hanifah malah mendorong Aretha sehingga membuat Aretha terjatuh dari tangga.
"Aaaa...." teriak Aretha.
"ARETHA...." Teriak semua orang yang melihat tubuh Aretha mengelindiing di tangga.
"Hahaha satu persatu di antara kalian akan saya buat mati." ucap ibu Hanifah dan segera pergi dari sana.
Mereka semua pun langsung menghampiri Aretha yang tubuhnya sudah penuh dengan darah.
"Sayang, kamu harus kuat ya kita ke rumah sakit sekarang." ucap Ghibran sambil memangku kepala Aretha yang berdarah.
"Ayo cepat kita bawa ke rumah sakit, biar Abi Yapto bawa mobil." suruh Umi Fatimah.
Ghibran pun langsung membopong tubuh Aretha keluar dari rumah. Sedangkan Arthan, dia memilih pergi mengejar ibu Hanifah yang sekarang tengah di hadang oleh anak buahnya.
Jika kalian bertanya di mana Ruby, dia sudah di tugaskan oleh Arthan untuk pergi lebih dulu bersama Haikal menuju tempat keberadaan ibu Halimah yang asli untuk merawatnya.
Anak buah Arthan sudah berhasil membawa ibu Halimah asli pergi dari tempat penyiksaan yang di lakukan oleh ibu Hanifah.
Meskipun tadi mereka agak kesulitan karena di sana tempatnya sangat di jaga ketat oleh anak buah ibu Hanifah, tapi karena anak buah Arthan datang dalam jumlah banyak maka mereka bisa melumpuhkan para anak buah ibu Hanifah dan membawa pergi ibu Halimah asli yang sekarang keadaannya sudah sangat mengenaskan.
Kiyai Mahfudz yang baru mengetahui itu semua pun sangat syok, dia langsung bersholawat taubat karena selama ini berarti dirinya sudah melakukan zina dengan ibu Hanifah karena mereka bukanlah mahram.
Mungkin nanti Kiyai Mahfudz akan meminta hukuman untuk dirinya karena sudah melakukan dosa yang sangat besar. Tapi untuk sekarang ini dia akan mencari keberadaan istri sahnya terlebih dahulu.
...***...