AG: Aretha Ghibran

AG: Aretha Ghibran
part 80



Hari sudah malam, Aretha dan Ghibran bersiap untuk pergi menjelajahi alam mimpi mereka. Sekarang mereka tengah bersandar di kepala ranjang bersiap untuk tidur.


"Mas." pangil Aretha pada Ghibran yang tengah mengecek ponselnya.


"Kenapa hmm?" tanya Ghibran meletakan ponselnya di meja samping tempat tidur.


"Aku sama Ruby sudah menemukan namanya yang cocok buat toko kita." jawab Aretha.


"Apa hmm?" tanya Ghibran penasaran.


Ghibran menghapus jarak di antara mereka. Dia meringsut mendekati Aretha dan memeluk tubuh Aretha sambil menghirup aroma wangi dari rambut Aretha.


"AG." jawab Aretha.


"AG?" alis Ghibran berkerut.


"Iya AG Aretha Ghibran, kan kalo cafe punya kamu GA Ghibran Aretha jadi ya toko roti aku AG." jelas Aretha.


"Gimana menurut kamu, bagus gak?" tanya Aretha.


"Bagus."


"Nanti aku minta bantuan kamu ya, tolong desain in toko roti aku biar kayak cafe kamu yang bikin nyaman pembeli." pinta Aretha.


"Eemmm gimana ya, mau gak ya...." Ghibran menimang pikirannya.


"Iiisss ayo lah, aku janji deh nanti bakal kasih kamu komisi." mohon Aretha.


"Beneran?"


"Iya mas Ghibran...."


"Oke aku bakal bantu kamu, tapi dengan syarat sekarang kita sholat dua rakaat dulu." syarat Ghibran membuat Aretha ketar ketir.


Bagaimana tidak, rasa sakit di **** ************* aja baru sembuh dan ini mau di gempur lagi. Sedangkan Aretha tahu kalau Ghibran itu tak akan ada puasnya kalau sudah berada di atasnya.


"Gimana mau gak?" tanya Ghibran.


"Tapi nanti sakit." takut Aretha.


"Gak akan sayang, kan kemaren itu karena pertama kalinya jadi ya sakit. Kita harus sering sering melakukan itu biar itu kamu gak sakit. Dan dedek bayinya juga biar cepat ada di sini." rayu Ghibran.


"Mau ya, ya, ya... plis...."


"Ya udah deh ayo." pasrah Aretha.


"Yes, makasih sayang." Ghibran langsung menggendong tubuh Aretha ke dalam kamar mandi untuk mengambil wudhu.


Dan setelah itu hanya mereka lah yang tahu, entah itu mereka jungkir balik kek, kayang kek. Yang pasti mereka sangat merasa puas.


-


Hari pun terus berganti, rumah tangga Ghibran dan Aretha semakin terlihat harmonis. Aretha sekarang juga semakin bucin pada Ghibran. Terbukti seriap Ghibran pergi ke cafe pasti nanti siangnya Aretha akan datang menemui Ghibran dan tetap stay di sana sampai Ghibran pulang nanti.


Toko roti Aretha juga semakin berkembang pesat setelah di renovasi dan memberikan nama menjadi AG bakery. Bahkan sekarang Aretha juga berencana untuk membuka cabang yang baru di luar kota. Dan semua itu juga tak luput dari bantuan Ruby sahabatnya.


Sekarang Aretha sedang berjalan menuju ruangan kerja Ghibran di cafe. Tadi Aretha pergi ke kampus untuk mengambil undangan wisuda untuk wali Aretha, dan setelah pulang dia tidak langsung ke rumah melainkan ke cafe untuk bertemu dengan Ghibran.


"Assalamualaikum mas." salam Aretha yang membuka pintu ruangan kerja Ghibran tanpa mengetuknya terlebih dahulu.


"Waalaikum salam sayang. Kok kamu udah di sini, sama siapa kamu pulangnya?" sambut Ghibran.


Ghibran menyuruh agar Aretha duduk di pangkuannya dan tanpa malu malu lagi Aretha segera menurutinya.


"Aku pulang barusan naik taksi terus aku langsung ke sini deh." jawab Aretha sambil mengalungkan tangannya di leher Ghibran.


"Kenapa gak minta jemput aku saja hmm, bagaimana nanti kalau kamu kenapa kenapa di jalan."


"Maaf, aku tadi gak mau merepotkan kamu. Lagian juga sekarang aku sudah ada di sini dan gak ada yang luka sedikitpun." ucap Aretha.


Cup.


"Ya udah untuk kali ini kamu aku maafkan, tapi untuk lain kali akan aku berikan kamu hukuman kalau kamu mengulanginya lagi." peringat Ghibran.


Cup.


Tanpa malu Aretha mengecup bibir Ghibran, agar Ghibran tidak marah marah lagi.


"Kok cuma sebentar sih, yang lama dong." pinta Ghibran.


"Itu mah maunya kamu." balas Aretha.


"Mas lagi sibuk ya?" tanya Aretha melihat laptop Ghibran yang menyala dan terdapat banyaknya grafik serta angka angka yang jumlahnya sangat banyak.


"Enggak kok ini cuma mantau saham aja." jawab Ghibran.


"Kita pulang yuk, terus jalan jalan. Aku pengen ke pasar malam cari gula kapas." ajak Aretha.


"Bentar ya aku beresin semua ini dulu, habis itu kita langsung pulang." balas Ghibran dan di angguki oleh Aretha.


"Oh iya mas ini ada undangan wisuda aku, kamu bisa datang kan?" tanya Aretha mengambil sebuah undangan dari dalam tasnya.


"Kapan waktunya?"


"Lusa."


"Ya udah aku nanti bakalan datang. Nanti kalau kamu mendapatkan nilai yang bagus aku bakal kasih kamu hadiah."


"Beneran mas?" antusias Aretha.


"Iya dong, masak mas bohong." jawab Ghibran meyakinkan.


"Aaaaa... makin sayang deh aku sama kamu." senang Aretha memeluk Ghibran dengan erat.


"Emang kamu yakin kalau nilai kamu bagus?" selidik Ghibran menggoda Aretha.


"Yakin dong, masak anaknya Abi Umar nilainya jelek sih." pede Aretha.


"Pede banget sih." mencubit hidung Aretha gemas.


"Aku kerja lagi dulu ya, kamu duduk yang manis di sini jangan banyak gerak nanti kamu jatuh." peringat Ghibran dan di angguki oleh Aretha.


Ghibran pun fokus pada laptop nya lagi, setelah selesai dia segera mengajak Aretha pulang untuk membersihkan tubuhnya sekaligus sholat ashar, baru setelah itu dia mengajak Aretha pergi ke pasar malam.


"Mas nanti kita naik bianglala ya." pinta Aretha saat dalam perjalanan menuju tempat di adakannya pasar malam.


"Iya terserah kamu saja nanti mas nurut." jawab Ghibran yang akan menuruti semua keinginan istri cantiknya ini.


Oh iya sekarang Aretha itu sudah terbiasa memakai gamis. Dia sudah tidak lagi menggunakan celana kalau keluar rumah kecuali celana buat dalaman gamis.


Mereka sudah sampai di pasar malam, Ghibran segera turun dan membukakan pintu mobil untuk Aretha. Mereka berdua berjalan beriringan memasuki pasar malam yang cukup ramai akan pengunjung.


Aretha segera menarik tangan Ghibran saat dia melihat ada penjual gula kapas yang menarik perhatiannya.


"Mas mau itu ya." tunjuk Aretha.


"Ya udah kamu tunggu biar mas yang pesankan untuk kamu." ucap Ghibran dan dengan semangat Aretha menggangukkan kepalanya.


"Pak saya mau gula kapas nya dua ya. Satu yang pink dan satunya lagi yang warna-warni." ucap Ghibran memesan gula kapas pada penjual gula kapas.


"Sebentar biar saya buatkan silahkan mas tunggu." jawab penjual gula kapas.


Ghibran pun kembali menghampiri Aretha yang tengah berdiri sendirian menunggu dirinya.


"Sabar ya sebentar lagi jadi." ucap Ghibran dan di balas senyuman oleh Aretha.


Mereka menunggu beberapa menit dan setelah jadi Ghibran segera membayarnya.


"Terimakasih ya pak." ujar Ghibran.


"Sama sama mas, saya juga terimakasih sama mas." balas penjual gula kapas.


Ghibran pun menghampiri Aretha kembali dan menyerahkan gula kapas itu pada Aretha.


...***...