AG: Aretha Ghibran

AG: Aretha Ghibran
part 91



"Bi, tadi kok wajah nak Arthan kayak gak asing gitu ya bagi Umi?" tanya Umi Fatimah pada Abi Umar.


"Aduh jangan sampai Umi tahu sebelum nanti waktunya tiba." batin Abi Umar.


"Bi." pangil Umi Fatimah.


"Hah iya,mi kenapa tadi?" tanya Abi Umar.


"Iiih Abi mah gitu, tadi Umi tanya kok wajah nak Arthan seperti tidak asing bagi Umi ya." ulang Umi Fatimah rada kesal.


"Ya,ya, apakah Umi lupa, kita kan di ciptakan dengan 7 kembaran. Ya mungkin saja Umi pernah lihat wajah wajah yang mirip Arthan." balas Abi Umar.


"Iya juga sih Bi."


Setelah itu mereka pun terdiam, tak ada lagi yang mereka bicarakan hingga sampai di rumah mereka.


-


Jam menunjukkan pukul sebelas malam. Tapi Aretha belum juga mau tidur, dia ingin bermanja-manja dengan suaminya yang kini malah sibuk dengan laptopnya.


"Bee...." pangil Aretha manja menghampiri Ghibran yang tengah duduk di sofa kamar mereka dengan laptop yang ada di pangkuannya.


"Kenapa hmm?" tanya Ghibran tak mengalihkan pandangannya dari laptop.


"Iiih...." kesal Aretha dan langsung memindahkan laptop yang ada di pangkuan Ghibran berganti dengan tubuhnya.


"Apa mau marah?" garang Aretha membuat Ghibran meneguk ludahnya kasar.


"Enggak kok sayangku, kenapa hmm kok belum tidur?" tanya Ghibran, pasalnya biasanya jam segini Aretha sudah tidur.


"Kamu tinggalin aku sendiri di sana, aku ya gak bisa tidur." cemberut Aretha memeluk leher Ghibran dan meletakkan kepalanya di pundak Ghibran.


"Ulululu... cayang nya Aa Ghibran lagi ngambek nih. Cini tium!" goda Ghibran membuat bibir Aretha semakin mengerucut.


"Dedek ayah jahat sama bunda, kita nanti tidur berdua aja ya." ucap Aretha melepaskan pelukan Ghibran dan mengelus perutnya yang masih rata.


"Gak bisa gitu dong bunda, kan ayah kasian." balas Ghibran menirukan suara anak kecil.


"Dedek mau apa hmm, mau makan?" tawar Ghibran mengelus perut Aretha juga.


"Gak mau pokoknya nanti ayah tidur di kamar."


"Iiih bunda kok jahat sih, kan ayah sedih." cemberut Ghibran.


"Iiih geli deh lihat muka ayah yang seperti itu, jadi pengen muntah." jijik Aretha menatap wajah cemberut Ghibran.


"Eehhh jangan dong, nanti kasian makanannya. Masak baru masuk udah di keluarin lagi."


"Iiih ayah kok lebih mementingkan makanannya sih, kan seharusnya aku yang di perhatiin."


"Ya kan biar beda Bun dari yang lainnya."


"Tapi gak gitu juga ayah."


"Terus ayah harus gimana hmm?"


Aretha diam, dia tengah memikirkan sesuatu hal apa yang akan dia butuhkan.


"Eemmm aku maunya nasi goreng buatan ayah. Tapi masaknya bukan pakai kompor." keinginan Aretha.


"Terus kalau bukan pakai kompor Pakai apa yang, pakai Magicom?" heran Ghibran.


"Pakai tungku." jawab Aretha singkat.


"Tungku?" tak percaya Ghibran.


Di mana Ghibran harus mendapatkan tungku di rumah ini. Mana ini udah malam makin sulit kalau nyari.


"Iya tungku, yang pakai kayu itu loh."


"Hahaha kamu gak lagi becanda kan yang?"


"Enggak babe, aku serius."


"Tadi kan kamu udah makan bagaimana kalau besok pagi saja. Aku janji deh besok pagi pagi banget kamu bangun tidur nasi gorengnya sudah ada di samping tempat tidur kamu." rayu Ghibran.


"Eemmm gimana ya... ok lah gapapa, tapi kamu janji ya besok pagi banget makanan sudah ada di samping aku." final Aretha.


"Nah gitu dong, sekarang kita tidur yuk." ajak Ghibran.


"Gak mau, aku maunya gini sambil di pok pok." tolak Ghibran.


"Hah pok pok, apa lagi itu sayang?" bingung Ghibran.


"Gini loh." menarik tangan Ghibran dan meletakkannya di b*k*ngnya, dan mengarahkan untuk menepuk nepuk b*k*ngnya.


"Ooh gitu, ya udah sini." balas Ghibran sambil melaksanakan perintah Aretha.


Aretha pun menyederkan kepalanya di pundak Ghibran lagi menikmati tepukan Ghibran di b*k*ngnya.


Ghibran terus melakukan kemauan Aretha sambil menahan hasratnya. Ghibran harus menjaga keinginannya sampai nanti bayinya sudah benar benar aman dan kuat.


Setengah jam berlalu Ghibran merasa hembusan nafas Aretha di lehernya sudah teratur. Ghibran pun melonggarkan pelukannya dan melihat wajah damai Aretha yang sudah tertidur dengan nyenyak.


"Assalamualaikum sayang selamat tidur, good night."


Cup.


Mengecup kening Aretha dan membopong tubuh Aretha menuju ranjang. Setelah itu Ghibran merapikan laptopnya dan pergi menyusul Aretha menuju alam mimpinya.


-


"Hiks hiks hiks...."


"Hiks hiks hiks...."


Tidur nyenyak Ghibran terusik dengan tangisan seseorang. Ghibran perlahan membuka matanya dan melihat jam di dinding yang masih menunjukkan setengah tiga pagi.


"Hiks hiks hiks...." suara itu terdengar lagi.


"Loh sayang, kamu kenapa?" panik Ghibran bangun dan segera membawa Aretha ke dalam pelukannya.


"Hiks hiks hiks...." tangis Aretha makin pecah.


"Ssttt... udah ya, kenapa nangis hmm?" tanya Ghibran sambil mengelus punggung istrinya agar merasa tenang.


"Kamu bohong hiks." ucap Aretha yang membuat Ghibran bingung.


Bohong? Perasaan dia tidur dengan ateng deh. Istrinya ini memang sangat sangat ajaib dan beda dari yang lain.


"Bohong kenapa hmm?" tanya Ghibran.


"Ka hiks katanya hiks semalam waktu aku hiks bangun tidur nasi gorengnya hiks sudah ada di samping aku hiks. Tapi kamu bohong hiks, buktinya nasi goreng aku belum ada hiks hiks hiks." jawab Aretha sambil sesenggukan.


Astaghfirullah, ingin rasanya Ghibran mengumpat. Tapi dia ingat kalau istrinya ini lagi hamil, pantas saja kelakuannya seperti itu.


"Ini kan masih pagi banget sayang, nanti ya agak siangan." ucap Ghibran semoga saja Aretha mengerti.


"Ini udah pagi hiks, aku mau nasi goreng hiks hiks." ngeyel Aretha.


"Aku buatin di kompor aja ya, nanti kalau sudah siang aku bautin pakai tungku."


"Mau ya sayang, plis mas mohon." mohon Ghibran.


"Ya udah deh hiks, Tapi harus yang pedes hiks hiks." tangis Aretha sudah rada mereda.


"Ya udah aku buatin dulu, kamu tunggu di sini aja ya."


"Gak mau, aku mau ikut hiks." keras kepala Aretha.


"Ya udah ayo." pasrah Ghibran.


"Gendong." manja Aretha merentangkan kedua tangannya minta di gendong.


Dengan senang hati Ghibran menggangkat tubuh Aretha dan membawanya ke dapur.


Ghibran dengan telaten meracik bumbu untuk membuat nasi goreng, sedangkan Aretha hanya sibuk memperhatikan Ghibran saja.


"Cabenya yang banyak, kamu gak akan bangkrut kalau cuma buat beli cabe aja." ucap Aretha yang melihat Ghibran hanya memasukkan satu biji cabe.


"Jangan pedes pedes ya, nanti perut kamu sakit."


"Gak mau, pokoknya aku mau yang pedes." ngeyel Aretha.


"Nanti aku ganti uangnya, buat beli cabe." ucap Aretha yang tahu harga cabe lagi melambung tinggi.


"Gak usah di ganti juga gak papa sayang, bahkan kalau kamu mau kita juga bisa langsung memetiknya secara langsung di kebun cabe."


"Ide yang bagus tuh."


"Mampus." Ghibran menggerutuki kebodohannya sendiri yang main ngomong dan gak mikir dulu.


...***...