AG: Aretha Ghibran

AG: Aretha Ghibran
part 67



Ghibran bukan pergi ke cafe miliknya, melainkan dia pergi ke kantor milik Abi Umar. Sampai di loby kantor Ghibran langsung di persilahkan masukkan oleh asisten Abi Umar yang kebetulan berada di lobby.


"Mati tuan muda saya antar ke atas." tawar asisten Abi Umar pada Ghibran dan di angguki oleh Ghibran.


Sampai di lantai paling atas Ghibran langsung di persilahkan masuk oleh asisten Abi Umar setelah meminta izin pada Abi Umar.


"Assalamualaikum Abi." salam Ghibran saat memasuki ruangan kerja Abi Umar di kantor.


"Waalaikum salam." balas Abi Umar mendongakkan kepalanya dari komputer menatap ke arah Ghibran sambil tersenyum.


"Loh kamu sudah pulang dari Malang?" tanya Abi Umar berdiri menghampiri Ghibran.


"Sudah Abi, tadi jam sebelas an kita mendarat di Jakarta." jawab Ghibran mengikuti Abi Umar yang sudah duduk di sofa ruagan Abi Umar.


"Ooh Abi kira kalian bakal lama di sana."


"Enggak Bi, kan pekerjaan Ghibran di sini sudah Ghibran tinggal terlalu lama. Dan Aretha juga harus ke kampus." balasan Ghibran.


"Eemmm Bi, Ghibran mau tanya sesuatu boleh?" lanjut Ghibran.


"Mau tanya apa?" balas Abi Umar balik bertanya.


"Eeemmm... gimana ya ngomongnya." bingung Ghibran sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Mau tanya apa sih, bikin Abi penasaran saja kamu ini."


"Apakah Aretha punya saudara kembar?" to the poin Ghibran yang membuat Abi Umar kaget.


"Dari mana kamu tahu?" tanya Abi Umar kaget.


"Ghibran tahu dari seseorang, dan tadi juga Ghibran udah tanya ke kakek katanya memang iya. Apakah itu benar bi?" jelas Ghibran.


"Huh, iya saya memiliki dua anak kembar laki-laki dan perempuan. Tapi waktu setelah acara tiga bulanan mereka berdua, anak Abi yang laki laki di culik oleh musuh bisnis Abi." Jawab Abi Umar mengenang masa lalu yang sangat memukul hidupnya.


"Terus kenapa Abi tidak mencarinya?" tanya Ghibran mengorek informasi tentang masa lalu keluarga istrinya.


"Sudah, Abi sudah mencarinya kemana mana. Bahkan Abi juga sudah menemukan seseorang yang sudah menculik anak Abi, tapi dia sudah membuangnya dan tidak mau mengakui di mana tempat membuang anak Abi." jawab Abi Umar sedu.


"Terus sekarang orang itu kemana?" tanya Ghibran lagi.


"Orang itu sudah Abi bunuh." jawab Abi Umar yang membuat Ghibran melotot.


"Abi seriusan?" tanya Ghibran tak percaya.


"Iya Abi serius, pasti kamu gak percaya kan?" menatap Ghibran dan di balas gelengan kepala oleh Ghibran.


"Abi akan melakukan apa pun untuk keluarga Abi, meskipun Abi tahu kalau itu dosanya sangatlah besar."


"Apakah kakek tahu soal itu?"


"Iya Abah tahu, bahkan dulu pernikahan Abi sama Umi sudah di ujung tanduk karena kemarahan keluarga Umi dan Umi juga yang tidak bisa menerima Abi sebagai pembunuh." jelas Abi Umar yang semakin membuat Ghibran tidak menyangka.


"Tapi Abi membuktikan kepada mereka kalau Abi tidak akan mengulanginya lagi dan Alhamdulillah Umi mau menerima Abi lagi sampai sekarang ini." lanjut Abi Umar.


"Tapi Bi, kalau orang yang menculik anak Abi itu udah Abi bunuh kenapa seseorang yang Ghibran temui itu bilang kalau orang itu masih ada?" tanya Ghibran heran.


"Maksud kamu bagaimana, orang Abi melihat sendiri bagaimana proses pemakamannya." bantah Abi Umar.


"Benar bi, bahkan orang itu tidak berani menemui Abi dan yang lainnya karena ada yang selalu mengawasi gerak-gerik keluarga Abi selama ini. Bahkan dia juga bilang kalau ada mata mata di dalam keluarga Abi."balas Ghibran.


"Mana mungkin, dan siapa orang yang kamu maksud itu?" tak percaya Abi Umar pada penjelasan Ghibran.


"Arthan." jawab Ghibran to the poin.


"Ya, dia anak Abi."


"Mana mungkin, anak Abi sudah tidak ada."


Ceklek.


" Kata siapa aku tidak ada Bi?" ucap seseorang yang baru saja masuk ke dalam ruangan Abi Umar.


"Assalamualaikum bi." salam Arthan dan memeluk tubuh Abi Umar sambil menangis karena kangen.


"Waalaikum salam. hiks." Abi Umar ikutan menangis karena dia tidak menyangka ternyata anak yang selama ini dia anggap tidak ada ternyata masih hidup.


Ghibran yang melihat kehangatan di keluarga istrinya itu pun ikutan senang. Meskipun dalam hatinya ada rasa iri melihat kebersamaan mereka, sedangkan dirinya tidak bisa lagi merasakan pelukan dari seorang ayah.


"Kamu beneran Arthan anak Abi kan?" tanya Abi Umar masih belum percaya sambil mendekap pipi Arthan yang sudah banjir dengan air mata.


"Iya Bi, ini Arthan anak Abi." jawab Arthan meyakinkan.


"Alhamdulillah ya Allah, engkau masih memberikan hamba kesempatan untuk memeluk anak hamba lagi." ucap syukur Abi Umar.


"Kamu sehat kan?" tanya Abi Umar melihat penampilan Arthan yang begitu baik.


"Alhamdulillah bi Arthan sehat, Arthan selalu di kelilingi orang orang baik yang senantiasa menerima Arthan dengan baik, tanpa memandang siapa Arthan." balas Arthan.


"Terus kamu selama ini tinggal di mana hmm, kenapa tidak datang menemui Abi?"


"Arthan selalu ada di sekitar Abi kok. Selama ini Arthan tinggal di panti asuhan. Dan beberapa tahun terakhir ini Arthan tinggal di rumah Arthan sendiri hasil dari kerja keras Arthan selama ini." jelas Arthan.


"Dan tidak semudah itu Arthan datang menghampiri Abi, karena di sini masih banyak mata mata yang terus memantau pergerakan Abi dan yang lain." lanjut Arthan.


"Apakah yang di jelaskan Ghibran tadi itu benar?" tanya Abi Umar memandang Ghibran dan Arthan bergantian meminta penjelasan.


"Iya bi semua itu benar. Dan orang yang Abi bunuh dulu itu bukan pelaku utamanya. Dia cuma orang suruhan saja." jawab Arthan membenarkan.


"Terus sekarang kita harus bagaimana?"


"Kita jalani saja dulu seperti sebelumnya. Abi pura pura saja kalau anak Abi sudah meninggal. Nanti Arthan akan bilang kalau Arthan ini hanya teman bisnis Ghibran." usul Arthan.


"Dan Arthan juga minta sama Abi untuk tidak bilang ke Umi ataupun Aretha perihal masalah ini." pinta Arthan.


"Kenapa mereka tidak boleh tahu, pasti Umi kamu nanti akan senang kalau tahu anaknya masih hidup."


"Tidak bisa bi, Arthan tidak percaya sama mereka berdua yang mulutnya suka kelepasan. Bisa saja nanti sewaktu waktu mereka di ancam dan membeberkan semuanya pada musuh." jelas Arthan sangat dewasa.


"Baiklah kalau menurut kamu itu yang terbaik Abi ikuti saja kemauan kamu." setuju Abi Umar.


"Terus bagaimana kalian bisa ketemu?" tanya Abi Umar kepo.


"Ceritanya panjang bi, nanti kalau di ceritakan tidak akan cukup satu part." canda Ghibran.


"Ya udah terserah kalian saja, yang pasti Abi senang karena kamu masih hidup."


"Bukan cuma Abi saja yang senang. Arthan juga senang bisa ketemu lagi bersama keluarga Arthan." balas Arthan.


Mereka bertiga pun terus berbincang bincang sampai lupa akan waktu. Ghibran pamit pulang duluan karena Aretha sudah mengabari dirinya kalau dia sudah mau pulang. Alhasil Ghibran pun segera pergi untuk menjemput istrinya.


Sebenarnya Arthan masih belum mau menunjukkan batang hidungnya di hadapan keluarganya. Tapi mengingat nasihat yang di berikan Ghibran, Arthan pun mengambil keputusan untuk muncul di depan keluarganya tapi itu hanya orang tertentu saja, seperti Abi Umar dan kiyai Mahfudz.


...***...