
Mereka semua diam, diam bukan berarti ingin mendengarkan ucapan Ghibran. Tapi diam karena takut dengan anak buah Arthan.
"Tapi sebelum itu, izinkan istri saya selalu pemilik toko roti ini untuk berbicara." ucap Ghibran dan mempersilahkan Aretha untuk berbicara.
"Assalamualaikum wr wb." salam Aretha sebelum memulai berbicara.
"Waalaikum salam wr wb." balas mereka semua.
"Sebelumnya saya Aretha selaku pemilik toko ini ingin meminta maaf yang sebesar besarnya kepada pelanggan toko ini semua karena sudah membuat kalian semua kecewa. Tapi saya berani jamin kalau masalah barusan itu bukan atas kesengajaan kami." ucap Aretha.
"Maafkan kami yang telah teledor sampai sampai bikin banyak orang sakit perut dan di bawa ke rumah sakit. Saya janji ini semua tidak akan terjadi lagi." lanjut Aretha.
"Halah percuma kalau minta maaf semua orang juga bisa. Bilangnya aja tidak sengaja palingan juga aslinya beneran di sengaja." ucap seorang wanita yang sepertinya dia sangat bagus dalam hal berbicara dan tak takut pada ancaman apapun.
Buktinya saja meskipun sudah di jaga banyak bodyguard dia tetap berani berbicara seperti itu.
"Maaf mbak, tapi memang benar kita tidak sengaja. Dan ada yang menyabotase toko kami." balas Aretha dengan sabar.
"Halah semua toko juga gitu kalau udah ketahuan curang, pasti alasannya ada yang sabotase." balas wanita itu lagi.
"Betul gak?" tanya nya meminta dukungan dari yang lain.
"Betul...." timpal yang lainnya.
"Oke oke tenang, di sini saya yang akan tangani masalah ini. Kami nanti akan memberikan bukti kalau memang bukan kami yang salah dan ada yang sabotase toko kami. Tapi beri waktu kami sampai besok pagi. Kalau sampai kami belum juga menunjukkan buktinya besok pagi kalian bisa membawa masalah ini ke jalur hukum." ucap Ghibran yang sudah tidak bisa lagi membiarkan istrinya di keroyok banyak orang.
"Kamu..."
"Udah kamu gak usah khawatir, serahkan semuanya kepada aku sama bang Arthan." potong Ghibran sebelum Aretha melanjutkan ucapannya.
"Lah kok gw, gw gak tahu apa apa loh." sahut Arthan yang mendengar ucapan Ghibran.
"Bang plis deh."
"Ya deh." pasrah Arthan.
"Jadi untuk hari ini kalian semua pulang dulu ke rumah masing-masing. Dan untuk yang sakit silahkan ke rumah sakit nanti anak buah saya yang akan mengurus semua biaya rumah sakit. Dan juga untuk uang kalian yang buat beli tadi akan kami kembalikan nanti." ucap Ghibran tegas dan berwibawa.
"Oke kita kasih kalian waktu sampai besok pagi, kalau sampai tidak ada bukti juga kita laporkan toko ini ke pihak yang berwajib." ucap seorang laki laki mewakili yang lainnya.
"Kalian bisa pegang omongan saya." balas Ghibran dengan tenang.
Para rombongan pedemo itu pun pergi meninggalkan toko Aretha yang keadaan sudah tidak karu karuan.
"Udah ya gak usah di pikir, ayo kita masuk." ajak Ghibran merangkul pundak Aretha dan membawanya masuk ke dalam toko.
-
"Bagaimana ini, besok kita harus memberikan buktinya kalau kita tidak salah. Sedangkan sampai sekarang ini kita belum menemukan bukti apa apa." panik Aretha mondar mandir.
"Bener, kita harus cepat mencari bukti itu." timpal Ruby yang ada di sana.
"Kalian itu bisa diam gak sih, pusing aku lihatnya." ucap Arthan menyuruh Aretha dan Ruby agar tetap tenang.
"Bagaimana kita bisa diam kalau masalah ini saja belum ada jalan keluarnya." balas Aretha.
"Udah yang sini kamu duduk, kamu lagi gak enak badan loh." suruh Ghibran yang jugalah ikutan pusing melihat tingkah istrinya dan temannya itu.
"Kamu mah tidak tahu, toko ini sangat berharga buat aku sama Ruby. Jadi kita gak mau gitu aja toko ini jatuh." balas Aretha.
"Iya aku tahu kalian merintis toko ini dari nol. Tapi kalian juga gak bisa buat apa apa kan sekarang? Dari pada capek mondar mandir gak jelas mending duduk anteng. Biar nanti bang Arthan yang cari buktinya." ucap Ghibran.
"Loh kok gw?"
"Ya kan lo tahu di mana bukti itu. Gw gak bodoh kayak mereka bang." balas Ghibran sambil tersenyum mengejek.
"Si*l*n." umpat Arthan karena ternyata Ghibran dapat membaca pikirannya.
"Apa sih, orang kita gak ngomongin apa apa." balas Arthan.
"Ooh aku tahu siapa pelakunya." ucap Ruby tiba tiba membuat mereka bertiga menatap ke arah Ruby.
"Siapa by?" tanya Aretha penasaran.
"Dia," menunjuk Arthan." Lo kan pelakunya, hayo lo ngaku aja." lanjut Ruby.
"Lah kok gw, enak aja main tuduh orang sembarang. Palingan juga lo sendiri yang masukin tuh obat pencahar." balas Arthan tak terima di salahkan.
"Enak aja main tuduh tuduh gw, orang gw di sini korbannya kok." balas Ruby.
"Udah udah kenapa kalian jadi ribut sih." sela Aretha menengahi perdebatan antara Ruby dan Arthan.
"Tau tuh, dia yang mulai." tunjuk Ruby pada Arthan lagi.
"Lah gak salah tuh. Lo kayaknya gak suka banget ya sama gw, ayo kita selesaikan di ranjang." celetuk Arthan membuat Aretha dengan refleks melempar lap ke wajah Arthan.
"Woy ini apaan woy, kenapa bau banget." teriak Arthan dan mengambil lap yang sudah kotor dari wajahnya.
"Hahahaha rasain tuh." tawa Ruby.
"Lo...." bukan menunjuk Aretha, tapi menunjuk Ruby.
"Apa?" tantang Ruby tidak takut.
"Yok bisa yok kita ke KUA." ucap Ghibran yang sedari tadi memperhatikan perdebatan mereka.
"Apa lo bilang, ke KUA sama dia?" menunjuk Ruby, "Ogah." lanjut Arthan.
"Udah ihh kalian kenapa ribut terus sih."
"Dia tuh Ret yang mulai." lagi dan lagi Ruby menyalahkan Arthan.
"Iya dah iya gw yang salah." ngalah Arthan.
"Tuh kamu sendiri kan Ret, dia ngaku."
"Udah by kamu bisa diam gak sih, pusing aku." balas Aretha menyuruh Ruby diam.
Ruby pun kicep seketika setelah Aretha menyuruhnya untuk diam.
"Terus ini gimana?" tanya Aretha kembali.
"Gimana apanya sih yang?" balik tanya Ghibran.
"Ya ini gimana cari buktinya, kita aja gak ada yang tahu siapa pemiliknya."
"Kan aku tadi udah bilang, serahin aja semuanya pada bang Arthan biar dia yang selesaikan semuanya." balas Ghibran.
Rasanya Ghibran selalu di buat gemas dengan tingkah laku Aretha. Buktinya Aretha ngeyel gitu saja Ghibran sudah gemas dan ingin memakannya lagi seperti semalam.
"Emang dia bisa?" tak percaya Aretha pada Arthan.
"Wohohoho... Bran istri lo gak percaya nih sama gw. Jelasin ama dia kalau gw udah ada buktinya tinggal ambil saja." tak terima Arthan.
"Udah sayang kamu percaya saja sama dia." ucap Ghibran membela Arthan.
"Tuh dengerin suami lo."
Entah kenapa Arthan kalau di dekat Aretha tuh rasanya ingin saja berdebat. Tidak seperti di dekat Abi Umar yang selalu membuat diagram ingin menangis dan di peluk. Mungkin itu salah satu ciri ciri saudara.
...***...