
Aretha melajukan mobilnya menuju toko dengan di ikuti Ghibran di belakangnya. Aretha menambah kecepatan laju mobilnya saat jalanan lumayan sepi, begitu pula mobil Ghibran yang mengikuti di belakang mobil Aretha.
Sampai di toko Aretha segera mencari keberadaan Ruby tanpa menawarkan Ghibran untuk ikut masuk juga ke dalam toko.
"Tumben lo pagi pagi udah di sini, gak ngampus Lo?" tanya Ruby menyambut kedatangan Aretha.
"Ayo ikut gw." ajak Aretha tanpa menunggu persetujuan Ruby dia langsung menarik tangan Ruby keluar dari toko menuju mobilnya.
Semua karyawan toko Aretha yang baru saja beres beres pun memandang penuh tanya apa yang akan di lakukan bos nya itu. Tapi mereka tak mungkin bertanya pada yang bersangkutan, mana berani mereka.
"Apaan sih Ret main tarik tarik aja, di kira ini tarik tambang apa." ucap Ruby berusaha menghentikan langkah Aretha tapi itu tidak bisa sampai dia di dudukkan di bangku penumpang depan sambil kemudi.
"Udah diem aja nanti lo juga bakal tahu." ucap Aretha setelah masuk ke dalam mobil.
Aretha segera menjalankan mobilnya menuju taman terdekat, tak lupa pula ada mobil yang mengikutinya di belakang yang tak lain adalah mobil Ghibran.
"Mau kemana sih Ret?" tanya Ruby penasaran.
"Taman." balas Aretha singkat padat dan jelas.
"Ngapain?"
"Udah gw bilang kan tadi, nanti lo juga bakal tahu." balas Aretha dengan pandangan yang fokus pada jalanan pagi hari ini.
"Oke." akhirnya Ruby memilih diam karena dia sudah melihat ada raut tak mengenakkan di wajah Aretha.
Sampai di taman Aretha turun dari mobil di ikuti Ruby. Begitupun dengan Ghibran, dia juga turun dari mobil dan menuju tengah taman untuk ngobrol dengan Aretha.
"Lo tunggu di sini, gw mau ngobrol sama Ghibran. Lo ngerti kan apa maksud gw." ucap Aretha pada Ruby.
"Ooh... ngomong dong dari tadi, tahu gitukan tadi lo gak perlu narik narik gw, biar gw jalan sendiri. Kalau soal Ghibran mah gw dukung." balas Ruby.
Aretha segera menghampiri Ghibran yang ada di tengah tengah taman. Aretha memandang Ruby sebentar untuk memastikan kalau dirinya dan Ghibran masih bisa di jangkau oleh penglihatan Ruby.
"Mau ngomong apa?" tanya Aretha to the poin.
"Bisa kamu duduk dulu." suruh Ghibran mempersilahkan Aretha untuk duduk di bangku taman yang ada di samping mereka.
Beruntungnya keadaan taman kali ini tidak ramai, hanya ada beberapa orang di sana yang sepertinya tengah menyegarkan pikiran mereka dari beratnya hidup.
"Gak usah, gw berdiri aja." tolak Aretha.
"Oke."
"Cepat mau ngomong apa, waktu gw gak banyak." pinta Aretha agar Ghibran tidak mengulur waktu.
"Eemmm...."
"Eemmm... apa cepat ngomong." kesal Aretha karena Ghibran tak kunjung membuka suara.
"Kamu mau gak jadi istri aku."
Deg.
"Maaf maksud aku, aku berniat untuk melamar kamu dalam waktu dekat ini. Tapi sebelum aku membawa keluarga aku untuk menemui keluarga kamu aku memilih untuk bicara dulu sama kamu. Aretha Hazna Shabira maukah kamu menjadi pendamping hidupku, ibu dari anak anakku kelak?" Ujar Ghibran lagi, kali ini dengan kalimat yang lumayan manis. Masih lumayan ya, belum manis banget.
Kalau manis manis ntar author yang diabetes.
Aretha diam, dia bingung harus menjawab apa. Tadi aja dia menyuruh Ghibran untuk cepat cepat ngomong, tapi sekarang setelah Ghibran mengucapkan sesuatu malah dia sendiri yang di buat terdiam bingung mau membalas apa.
"Ret...." pangil Ghibran.
"Hah, iya." cengoh Aretha.
"Aku tahu kamu masih belum suka sama aku, bahkan mungkin kamu benci sama aku. Tapi entah kenapa aku malah semakin suka sama kamu. Aretha sekali lagi aku tanya sama kamu, maukah kamu menjadi istriku? Aku gak akan janji banyak hal untuk kamu, tapi aku akan mengusahakan agar kamu bisa selalu hidup bahagia bersamaku."
"A-aku...." gagap Aretha bingung.
"Kamu gak perlu jawab panjang lebar, cukup iya atau tidak." sela Ghibran.
"A-aku gak tahu mau jawab apa, k-kalau kamu mau sama aku minta aku pada Abi." jawab Aretha membuat Ghibran bingung, dan entah mengapa Panggilan Aretha yang biasanya lo gw sekarang sudah menjadi aku kamu.
"Maksud kamu?" tanya Ghibran.
"Aku gak tahu mau jawab gimana, kalau kamu memang berniat untuk melamar aku mintalah aku pada Abi. Aku yakin semua keputusan Abi adalah yang terbaik buat aku." jelas Aretha.
"Tapi kamu mau kan?" tanya Ghibran antusias, pasalnya dia sudah yakin seratus persen kalau Abi Umar yang memberikan jawaban pasti jawabannya akan iya.
"Kalau Abi bilang iya aku juga iya." jawab Aretha.
"Alhamdulillah ya Allah." Ghibran langsung seketika sujud syukur di hadapan Aretha yang membuat Aretha sampai kaget.
"Terimakasih, aku yakin pasti Abi akan menerima aku jadi menantunya." yakin Ghibran.
"Pede banget ya Lo." sinis Aretha.
"Loh, kok jadi lo gw lagi, tadi udah bagus loh aku kamu." protes Ghibran yang menyadari perubahan Aretha lagi.
"Suka suka gw lah, udah ahh gw mau pergi."
"Ehh tunggu." tahan Ghibran.
"Apa lagi." kesal Aretha.
"Nanti kalau Abi menerima aku, kamu beneran terima aku juga kan?" tanya Ghibran memastikan sekali lagi.
"Hmm." balas Aretha dan segera pergi dengan langkah agak cepat agar bisa menjauh dari Ghibran secepatnya. Tanpa Aretha sadari pipinya sudah berubah warna menjadi merah akibat salting.
"Yes." seru Ghibran senang.
"Oke berarti kali ini gw tinggal ngomong sama Abi, habis itu lamaran terus nikah deh." monolog Ghibran seperti orang gila yang berbicara sendiri di tengah taman, untung saja tidak ada yang melihatnya.
Ghibran pun segera pergi dari sana dan pulang ke apartemen untuk berganti pakaian Abi Umar dengan pakaian miliknya sendiri untuk ke cafe.
...***...