
"Gimana tadi perjalanan kalian?" tanya Kiyai Mahfudz.
"Alhamdulillah lancar kek." balasan Ghibran ramah.
"Alhamdulillah kalau gitu, maaf ya tadi kakek sama nenek suruh kalian cepat cepat ke sini jadi ganggu kerjaan kamu."
" Enggak kok kek, kita gak merasa keganggu. Ya kan sayang?" Ghibran menyengol lengan Aretha yang duduk di sebelahnya.
"Hah, iya." jawab Aretha agak malu, pasalnya Ghibran memanggil dirinya sayang di depan banyak orang.
"Syukurlah kalau begitu."
"Aduh pengantin baru tuh bawaannya beda ya." celetuk abah Suaib, ustadz yang membantu mengurus pesantren.
"Apaan sih abah mah gitu sama Retha." malu Aretha.
"Udah bah jangan di ganggu, tuh pipinya jadi merah." ujar ustadzah Hani, istri abah Suaib.
"Apaan sih ustadzah, dah ahh Aretha males di sini. Mending Aretha ke dapur aja bantu nenek." pamit Aretha pergi begitu saja.
Ya Memang begitu sikap Aretha, gak di rumah gak di pesantren sama aja. Suka keluyuran gak jelas. Bahkan sekarang Aretha meninggalkan Ghibran sendiri di sana di tengah tengah orang yang belum Ghibran kenal secara keseluruhan kecuali Kiyai Mahfudz.
"Nih bini kayaknya minta di hukum deh, tega banget ninggalin suaminya sendiri." batin Ghibran menggerutuki kepergian Aretha.
"Udah gak usah takut gitu, kan ada kakek di sini." ucap Kiyai Mahfudz menepuk pundak Ghibran.
"Hehehe iya kek." cengir Ghibran.
"Kamu asli orang mana?" tanya Abah Suaib.
"Ghibran asli orang Jakarta bah." balas Ghibran.
"Ooh gitu, saya kita kamu orang jauh. Kelihatan dari wajah kamu kayak ada bule bulenya gitu."
"Hehehe gak ada bah, mungkin hanya kebetulan saja." balas Ghibran sambil tersenyum canggung.
"Hanya di cafe biasa ustadz." jawab Ghibran sambil tersenyum.
"Masak sih menantu Gus Umar hanya pekerja cafe, pasti Gus Umar salah pilih deh." ucap lelaki itu merendahkan pekerjaan Ghibran.
"Karim kamu tidak boleh bicara seperti itu, apapun pekerjaannya yang penting halal itu jauh lebih baik dari pada memakai dasi tapi korupsi." tegur Kiyai Mahfudz pada orang itu yang bernama ustadz Karim.
"Inggih Romo yai maaf, tapi bukankah tidak pantas. Neng Retha yang anak pengusaha menikah dengan pekerja kafe kayak dia. Mendingan nikah sama anak saya yang jadi manajer perusahaan."
"Ooh jadi dia merendahkan pekerjaan ku karena kalah saing. Cih manajer perusahaan emang gajinya berapa, berani beraninya mau ambil Aretha dari saya." batin Ghibran.
"Hus, kamu gak boleh ngomong gitu, mungkin mereka memang sudah jodoh. Jadi kamu gak bisa ngomong sembarangan seperti itu, apalagi sampai menghina pekerjaan orang."
"inggih Romo yai maaf." ujar ustadz Karim yang sudah kalah telak.
"Nak Ghibran jangan di masukkan ke hati ya apa yang ustadz Karim katakan tadi. Kakek percaya kok kalau kamu memang yang terbaik buat cucu kakek. Karena pilihan anak kakek pasti tidak pernah salah." ujar Kiyai Mahfudz agar Ghibran tidak bersedih.
"Iya kek, gak papa kok." balas Ghibran raman dan tersenyum.
Mereka asik mengobrol dan para wanita sudah pergi dari sana. Dan sekarang hanya tinggal para pria saja. Mereka mengobrol dengan asik kadang juga ada candaan yang mereka buat. Dan ada juga yang dengan terang terangan menunjukkan sikap tidak sukanya pada Ghibran, salah satunya adalah ustadz Karim.
Saat mereka tengah asik berbincang, tiba tiba saja ada yang datang dan mengucapkan salam.
"Assalamualaikum." ucap salam dua orang yang terdiri dari pria dan wanita.
"Waalaikum salam." jawab orang orang yang ada di dalam tak terkecuali Ghibran.
Mereka semua pun menoleh ke arah pintu dan terlihatlah di sana ada dua orang yang sudah mereka tunggu kedatangannya dari tadi selain Ghibran dan Aretha.
Deg.
...***...