
"Yuk silahkan masuk sini." ajak Ghibran mempersilahkan Arthan masuk.
Arthan pun masuk dengan sombongnya dan duduk di samping Aretha tanpa memperdulikan tatapan orang orang terhadap dirinya.
"Maaf bisakah anda duduknya geseran dikit, kita bukan mahram." ucap Aretha mengusir Arthan.
"Ssttt diam, aku mau beresin masalah suamimu dulu." ucap Arthan sambil jari telunjuknya berada di depan bibir Aretha.
"Astaghfirullah hallazim." refleks orang orang yang ada di sana.
Sementara itu Kiyai Mahfudz dan Ghibran hanya terkekeh saja melihat adegan itu. Meskipun dalam hati Ghibran ingin sekali memotong tangan Arthan.
"Untung saja lo tuh kakak ipar gw, coba kalau bukan. Udah abis lo." batin Ghibran.
Kiyai Mahfudz sudah mengenali wajah Arthan meskipun hanya sekali lihat saja. Terus dia juga ingat apa yang di katanya Ghibran tadi, jadi dua semakin yakin kalau yang duduk di samping Aretha itu adalah cucunya yang pertama.
"Tangan kamu lancang banget ya." marah Aretha.
"Ssttt diam, nanti aku malah gak jadi jelasin masalah suamimu." balas Arthan menyuruh Aretha diam.
Aretha pun diam, demi menyelamatkan mama baik suaminya maka dia tidak akan protes begitupun orang orang yang ada di sana. Mereka semua juga bingung, terlebih Kiyai Mahfudz hanya diam saja yak menegur.
"Bisa saya mulai?" tanya Arthan dengan wajah datar dan di balas anggukan oleh mereka semua.
"Sebelumnya perkenalkan dulu, nama saya Arthan dan saya temennya Ghibran sama Aretha." ucap Arthan memperkenalkan dirinya.
"Di sini saya mau menjelaskan perihal semalam. Memang benar Ghibran semalam itu pergi keluar, tapi itu bersama saya bukan sama nih ulet keket." jelas Arthan sambil menunjuk Nafisah.
"Jaga tangan kamu ya, jangan sembarang main menunjuk istri saya." sentak Wahyu pada Arthan.
"Istri? Mana ada istri yang ingin main di belakang suaminya." balas Arthan sambil tersenyum licik.
"Apa maksud kamu?" tanya Wahyu.
"Cari tahu aja sendiri, percuma uang banyak kalau gak di gunain." sindir Arthan.
"Udah udah, ayo kita kembali ke masalah utama." sangah ustadz Suaib agar mereka tidak lagi berdebat untuk hal di luar masalah semalam.
"Ya udah apa lagi yang mau di jelaskan, yang pasti si ulet keket itu bohong, dia mengarang cerita dan memainkan dramanya." jelas Arthan simpel.
"Enggak sayang, mereka itu bohong. Aku bahkan tidak melihat dia pergi bersama Ghibran. Ghibran semalam pergi sama aku." ucap Nafisah membela dirinya.
"Cih masih aja ngotot, udah tahu salah juga." decih Arthan.
"Begini nak Arthan, sebelum ada bukti kami masih belum bisa menyimpulkan mana yang benar dan mana yang salah." ucap ustadz Suaib sebagai pemandu acara.
"Bener tuh ustadz, udah jelas jelas semalam Ghibran pulang bersama saya, masih aja mengelak." timpal Nafisah karena merasa ada yang membelanya.
Ghibran dan Arthan yang mendengar itu hanya tersenyum licik. Nafisah bagi mereka berdua sangat lah bodoh. Apa dia tidak kepikiran kalau di dalam cafe dan di depan gerbang pesantren itu ada cctv.
"Oooh kalian mau bukti, baiklah akan aku perlihatkan bagaimana kebusukan dia semalam." Arthan mengambil ponsel di sakunya dan mencari rekaman cctv yang dia dapat dari cafe dan di depan gerbang pesantren.
Jika kalian bertanya dari mana Arthan mendapatkan itu semua? Jawabannya mudah yaitu dengan cara merentasnya.
Arthan memperlihatkan layar ponselnya ke ustadz Suaib dan Kiyai Mahfudz. Di sana terlihat jelas kalau Ghibran keluar pesantren hanya sendiri dan setelah beberapa saat ada Nafisah yang mengikuti Ghibran.
Setelah itu Ghibran masuk ke dalam mobil yang sudah menunggunya yang tak lain adalah mobil Arthan. Sedangkan Nafisah dia juga masuk ke dalam mobil yang entah milik siapa, yang pasti pengemudinya laki laki. Karena lampu dalam mobil yang di nyalakan mata terlihatlah siapa yang ada di dalam, meskipun tidak terlihat jelas wajahnya.
Sehabis itu Arthan juga memperlihatkan cctv di cafe, yang hanya ada mereka berdua yang sedang ngobrol serius. Tapi setelah beberapa saat ada Nafisah yang menguping pembicaraan mereka. Dan tak lupa Arthan juga memperlihatkan mereka berdua yang membeli martabak manis sama martabak telur di pinggir jalan. Serta Ghibran yang membelikan gula kapas untuk Aretha.
"Gimana? Sudah jelaskan semuanya." tanya Arthan sambil tersenyum licik menatap Nafisah.
"Stop Nafisah stop." bentak Wahyu yang sudah malu dengan kelakuan istrinya.
"Enggak mas, mereka itu bohong." kekeh Nafisah sambil menangis.
"Apa lo bilang, bohong? Heh lo gak punya cermin apa, udah jelas jelas lo yang bohong. Lagian udah ada buktinya juga masih aja keras kepala." sahut Arthan yang sudah kepalang kesal.
"Ayo kita pulang, ustadz, Romo yai kami pamit pulang dulu. Saya sebagai perwakilan dari istri saya ingin meminta maaf yang sebesar besarnya, terutama pada Gus Ghibran dan neng Aretha." Ucap Wahyu dengan rasa malu yang menyelimuti dirinya akibat dari perbuatan istrinya.
"Iya, gw bilangin sama kamu hati hati sama istri kamu, dia bukan wanita baik baik." balas Ghibran sambil melirik Nafisah sebentar.
"Sekali lagi saya minta maaf, kalau begitu kami pamit dulu. Assalamualaikum." pamit Wahyu membawa pulang Nafisah yang masih menangis sesenggukan.
"Waalaikum salam." balas mereka semua.
Wahyu pergi meninggalkan pesantren, tak lupa tadi dia salim kepada Kiyai Mahfudz dan ustadz yang lainnya yang berada di sana.
Setelah kepergian mereka berdua, suasana ruang tamu rumah Kiyai Mahfudz pun menjadi hening. Karena mereka semua sibuk dengan pemikirannya sendiri sendiri.
"Ehem." dehem Arthan menyadarkan mereka semua.
"Baiklah karena semual sudah beres saya mau pamit pulang dulu." ucap Arthan ingin pamit pergi dari sana.
"Terimakasih ya karena sudah bantu aku." ucap Ghibran berterimakasih pada Arthan.
"Oke santai aja, kita kan Oren." balas Arthan sambil terkekeh.
"Untuk kalian semua yang ada di sini, terutama yang perwakilan para santri. Saya minta kalian menceritakan hal barusan tidak ada yang di lebih lebihkan dan tidak ada yang di kurang kurangi. Apakah kalian mengerti?" ucap ustadz Suaib.
"Mengerti ustadz." balas mereka semua yang di tunjuk oleh ustadz Suaib.
"Baiklah silahkan kalian keluar dengan tertib dari sini, dan lanjutkan kegiatan belajar kalian." perintah ustadz Suaib.
"Baik ustadz, Assalamualaikum." pamit perwakilan dari para santri dan lainnya.
"Waalaikum salam." balas mereka semua yang masih tetap stay di rumah Kiyai Mahfudz.
"Kita juga mau sekalian pamit nek, kek, pekerjaan mas Ghibran sudah menunggu di Jakarta." pamit Aretha.
"Ya sudah kalian hati hati ya, maaf atas peristiwa yang menimpa kalian di sini. Dan semoga kalian gak bosan datang ke sini." balas kiyai Mahfudz.
"Iya kek, nanti kalau ada waktu lagi pasti kita ke sini kok."
Mereka berdua dan Arthan pun pamit pulang. Karena searah, maka Ghibran mengajak Aretha pergi barengan dengan Arthan. Sebenarnya tadi Aretha menolak tapi karena Kiyai Mahfudz menyetujuinya juga akhirnya dia tidak bisa berbuat banyak.
"Putu lanang ku wes gede dadakno."
(Cucu laki laki ku udah besar ternyata.) bisik Kiyai Mahfudz saat Arthan berpamitan padanya.
"I-iya kek." balas Arthan berbisik juga.
Tak di pungkiri, ada kerinduan di dalam benak Arthan pada keluarganya. Ingin rasanya dia bisa hidup normal seperti yang lainnya, tapi apa boleh buat jalan hidupnya sudah seperti ini jadi ya harus dia lalui.
"Arthan pamit dulu ya kek, jangan bilang ini semua pada nenek." pinta Arthan dan di angguki oleh Kiyai Mahfudz.
Mereka bertiga pun pergi menggunakan mobil Arthan langsung menuju Bandar udara Abdulrachman Saleh untuk menuju Jakarta.
...***...