
"Bi." pangil Ghibran.
"Iya nak ada apa, sini duduk." Abi Umar mempersilahkan Ghibran untuk duduk di sofa sampingnya.
"Ghibran mau kasih tahu sesuatu sama Abi." ucap Ghibran serius.
"Apa itu?"
"Jadi ternyata...." Ghibran langsung membisikkan sesuatu pada Abi Umar agar tidak ada yang dapat mendengar apa yang dia ucapkan.
Ya walaupun mereka berada di dalam kamar, tapi tadi dalam chattingan Ghibran dan Arthan, Arthan ada bilang kalau di rumah dia ada mata mata. Jadi Ghibran memutuskan untuk membisikkan saja dari pada harus ngomong dengan keras.
"Kamu serius, kamu gak becanda kan?" tak percaya Abi Umar.
"Iya Bi, ini beneran Ghibran gak bohong, dia sendiri yang kirim pesan ke Ghibran." jawab Ghibran tak menyebutkan nama Arthan.
"Alhamdulillah ya Allah, terima kasih." Abi Umar langsung bersujud syukur saat itu juga, bahkan Abi Umar sampai meneteskan air matanya.
"Trus ini nanti gimana?" tanya Abi Umar setelah menghapus air matanya.
"Ya kita lanjutin aja, tapi niatnya kita rubah." jawab Ghibran.
"Ya sudah, kamu saja nanti yang urus." Abi Umar memasrahkan semuanya pada Ghibran.
"Trus sekarang dia ada di mana?" lanjut Abi Umar bertanya pada Ghibran.
"Untuk soal tempatnya sih Ghibran juga tidak tahu, yang pasti dia aman di sana." jawab Ghibran.
Ghibran melirik ke arah jendela, dia seperti melihat ada bayangan yang tengah menguping pembicaraan mereka.
"Iya Bi, Ghibran sedih banget. Kenapa ya bang Arthan sama Ruby perginya terlalu cepat. Padahal kan kita baru saja bertemu dengan bang Arthan." drama Ghibran menangis yang membuat kening Abi Umar mengernyit heran.
Dengan isyarat mata, Ghibran menyuruh Abi Umar untuk melihat kearah jendela. Setelah mengetahui Abi Umar pun mengikuti drama yang Ghibran ciptakan.
"Iya Bi, bang Arthan orang baik pasti dia di sana tengah tertawa senang karena sudah tidak ada lagi masalah yang harus dia pikul."
Mereka terus membuat drama menangis hingga bayangan orang itu pergi dari sana. Setelah memastikan orang itu udah pergi, Ghibran dan Abi Umar satu persatu pergi menuju ruang kerja Ghibran untuk melihat rekaman cctv yang ada di sana.
"Ayo cepat kamu lihat, sebelum mereka menghapusnya." suruh Abi Umar.
"Iya Bi." Ghibran segera membuka rekaman cctv yang ada di samping kamar mertuanya.
"Loh kok item gini." ucap Ghibran membuat Abi Umar melihat kearah layar komputer yang ada di depan Ghibran.
"Sepertinya kita sudah keduluan oleh mereka." balas Abi Umar.
"Aarrgg...." geram Ghibran.
"Terus kita harus gimana bi, gak mungkin kita terus terusan hidup di bawah tekanan mereka. Ghibran gak mau nanti saat anak Ghibran lahir masalah ini belum selesai." geram Ghibran.
"Sabar nak, pelan pelan kita cari siapa pelakunya. Tapi memang dia sangatlah hebat untuk kita lawan." balas Abi Umar.
"Kalau terus terusan kayak gini, nanti yang ada semua keluarga kita juga ikut terancam bi."
"Iya nak, Abi ngerti. Cuma mau bagaimana lagi, semuanya sangat sulit untuk di pecahkan."
"Sepertinya hanya bang Arthan yang bisa selesaikan masalah ini." gumam Ghibran.
"Benar kata kamu, karena dialah yang menjadi incarannya, maka pasti dia yang bisa memecahkan masalah ini." setuju Abi Umar.
"Ya udah bi, nanti coba Ghibran hubungin bang Arthan biar dia cepat bertindak."
"Iya nak, lebih cepat lebih baik." balas Abi Umar.
...***...