
Setelah melewati jalanan ibu kota yang padat, sekarang mobil Arthan mulai memasuki kawasan hutan yang di pinggir jalannya terdapat banyak pohon pohon besar.
"Lo mau bawa gw ke mana?" tanya Ruby setengah takut, takut kalau di culik Arthan.
"Mau culik kamu." jawab Arthan tanpa menoleh ke Ruby.
Ruby syok, ternyata apa yang dia pikirkan benar. Bagaimana nanti kalau sampai Arthan berbuat sesuatu yang di larang. Atau bahkan bisa jadi Arthan nanti akan memperkaosnya di dalam hutan sana.
"Gak gak aku becanda, mana mungkin sih aku tega culik wanita secantik kamu. Aku cuma mau ngajak kamu ke suatu tempat aja, kamu gak perlu khawatir, aku gak akan melakukan hal hal yang buruk kok sama kamu." jelas Arthan selanjutnya.
Arthan tahu kalau sekarang Ruby tengah gelisah memikirkan kalau dia menculik Ruby. Padahal mah aslinya dia cuma mau healing berdua sama Ruby.
"Trus lo mau bawa gw kemana. Ini jalanan sepi banget, kok aku semakin yakin ya kalau lo mau culik gw." balas Ruby tak percaya.
"Dih, ya udah kalau gak mau percaya, kita lihat saja nanti. Awas aja nanti kalau sampai ada orang yang senang berada di sana, aku langsung nikahin kamu besok."
"Jangan ngaco kalau ngomong, nikah itu bukan perkara yang mudah."
"Aku serius, bahkan kalau bisa sekarang pun kalau kamu mau kita bisa menikah." serius Arthan menatap Ruby sebentar baru kembali lagi menatap ke arah jalanan yang mereka lewati.
"Stress." Ruby melirik Arthan sebentar dan mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Arthan tak menanggapi ucapan Ruby lagi, entah kenapa dia tadi bisa berbicara segamblang itu. Tapi dia tak menyesali dengan apa yang sudah dia ucapkan, dia malah merasa lega hatinya setelah mengucapkan itu.
Jalanan mulai berbelok-belok dan menanjak, sehingga membuat kepala Ruby terasa agak pening. Ruby memijat pelipisnya untuk mengurangi rasa pusing yang baru muncul di kepalanya. Dan semua itu tak luput dari perhatian Arthan.
"Kamu kenapa?" tanya Arthan.
"Enggak kok aku gak papa, cuma agak pusing aja." jawab Ruby.
"Aku gak papa cuma agak pusing aja lihat jalanan yang berbelok-belok."
"Ya udah kita balik aja, aku takut nanti kamu semakin parah pusingnya." usul Arthan dan menepikan mobilnya di pinggir jalan yang agak lebar agar tidak menggangu penguna jalan yang lain yang ingin lewat sana.
"Udah kita lanjutin aja perjalanannya, aku gak papa kok. Lagian kalau kita mau balik percuma, ini jalanan sudah jauh dari perkotaan." tolak Ruby tak setuju dengan usul Arthan.
"Tapi kan kamu sedang gak enak badan, aku takut kamu kenapa kenapa."
"Aku beneran gak papa Arthan. Lagian juga aku penasaran kamu mau bawa aku kemana malam malam gini?"
Ya, hari sudah gelap, tadi mereka menyempatkan untuk sholat dhuhur di sebuah masjid yang terletak di pinggiran kota sebelum memasuki jalanan yang kurang akan penguna jalannya.
"Kamu yakin?"
"Iya aku yakin, udah deh cepat bawa aku ke sana, keburu nanti makin malam."
"Ya udah, tapi sebaiknya kamu tidur saja agar tidak melihat jalanan yang berbelok-belok." perintah Arthan.
"Tapi...."
"Udah kamu gak usah takut, aku gak akan apa apain kamu kok." potong Arthan yang mengerti jalan pikiran Ruby.
Ruby memandang mata Arthan, dan terlihat di sana tidak ada tanda tanda kebohongan. Akhirnya Ruby pun menidurkan tubuhnya di kursi samping kemudi untuk mengurangi rasa pusing yang dia alami.
...***...