AG: Aretha Ghibran

AG: Aretha Ghibran
part 82



Tok tok tok.


Pintu kamar Aretha di ketuk dari luar membuat Aretha beranjak untuk membukakan pintu untuk orang itu.


Ceklek.


"Umi." ucap Aretha dan mempersilahkan Umi Fatimah untuk masuk ke dalam kamar.


"Kamu kenapa sayang?" tanya Umi Fatimah.


"Retha gak papa kok, tadi cuma ada masalah sedikit." jawab Aretha.


"Masalah apa sampai buat kamu seperti ketakutan kayak gitu?" tanya Umi Fatimah.


Aretha pun menceritakan kejadian yang dia alami di pasar malam tadi sampai selesai.


"Syukurlah kamu tidak kenapa kenapa. Terus sekarang Ghibran mau ketemu sama siapa?"


"Sama bang Arthan mi."


Deg.


Nama itu, nama itu seperti nama anaknya yang pertama. Bahkan apa tadi Aretha manggil dia dengan sebutan Abang. Hal itu menjadi pikiran buat Umi Fatimah.


"Bang Arthan, siapa itu sayang?" tanya Umi Fatimah memastikan.


"Teman aku sama mas Ghibran mi, tapi kita berdua manggilnya Abang karena kita menganggapnya sebagai kakak." jelas Aretha.


"Oooh gitu, bolehkah Umi juga berkenalan dengan dia?"pinta Umi Fatimah.


"Boleh mi, nanti Aretha akan bilang sama mas Ghibran suruh ajak bang Arthan ke sini."


"Ya udah sekarang lebih baik kamu istirahat dulu karena ini sudah malam. Umi mau ke depan dulu."


"Abi belum pulang mi?" tanya Aretha yang belum melihat keberadaan Abinya.


"Belum sayang, Abi harus lembur kan ini mendekati akhir bulan." jawab Umi Fatimah.


"Ooh iya Aretha lupa." cengir Aretha.


"Udah sana kamu tidur, biar besok tidak kesiangan bangunnya." suruh Umi Fatimah.


"Iya Umi ku sayang." balas Aretha.


Umi Fatimah pun keluar dari kamar Aretha meninggalkan Aretha sendirian di kamar.


"Hufft...." hela nafas Aretha dan bersiap untuk tidur.


-


Sementara di lain tempat Ghibran telah sampai di gudang tua yang Arthan gunakan sebagai markas untuk eksekusi musuh. Ghibran segera berjalan masuk dan menemui Arthan dan yang lainnya di dalam gudang.


"Dah sampai Lo." sambut Arthan.


"Assalamualaikum." salam Ghibran.


"Waalaikum salam." balas mereka yang ada di sana.


Ingat, di mana pun kita berada harus mengucapkan salam, kecuali di tempat yang di larang.


"Gimana?" tanya Ghibran.


"Tuh lo liat aja mereka." tunjuk Arthan pada beberapa orang yang sudah babak belur.


Ghibran berjalan menghampiri mereka yang wajahnya sudah tak berbentuk akibat di gebukin oleh anak buah Arthan.


Bug.


Satu bogeman melayang di wajah orang yang tadi Ghibran ingat sebagai penjaga bianglala.


"Siapa yang nyuruh kalian Hah?" bentak Ghibran.


Ya, mereka semua adalah orang orang penjaga pasar malam yang tadi berusaha kabur dari sana. Tidak semudah itulah mereka bisa kabur dari sana karena Arthan sudah menyebar anak buahnya di sana. Jadi dengan mudah Arthan menangkap mereka semua.


"Jawab!" tegas Ghibran karena mereka tidak ada yang mau membuka suara.


"Loh gitu, baiklah jika itu mau kalian. Bang habisin aja mereka, sekalian sama keluarganya juga." ucap Ghibran datar dengan pandangan menatap tajam orang orang penjaga pasar malam.


"Cih di ancam gitu saja kalian sudah ketakutan. Apalagi gw bawa anak anak kalian ke sini." sindir Arthan yang sedang duduk di sebuah kursi yang sudah tua.


"Cepat katakan siapa yang suruh kalian, sebelum kita mengambil anak kalian." tegas Ghibran.


"Ka-kami tidak tahu tuan." gagap mereka.


"Bagaimana bisa kalian tidak tahu, sedangkan kalian di perintahkan langsung oleh orangnya?" tak percaya Ghibran.


"Kami tadi di suruh sama seseorang yang menggunakan masker dan jubah hitam. Dia akan menghancurkan tempat kami kalau kami tidak melakukan perintahnya." jelas salah satu dari mereka.


"Dasar bodoh." maki Arthan berjalan menghampiri mereka.


"Aku tahu bang, tadi saat di atas aku sempat melihat orangnya." bisik Ghibran pada Arthan.


"Lepaskan mereka dan buang mereka ke tempat yang tidak memungkinkan mereka buat kembali." perintah Arthan pada anak buahnya dan segera pergi dari sana.


"Baik bos." patuh anak buah Arthan.


"Jangan tuan kami mohon, kasian keluarga kami tuan." mohon salah satu dari mereka.


"Kasian? Cih, dari tadi kemana saja kok gak kasian waktu saya dan istri saya yang ketakutan saat berada di atas hmm." balas Ghibran yang membuat mereka semua terdiam.


Ghibran pun ikutan pergi menyusul Arthan. Arthan dan Ghibran pergi meninggalkan gedung tua itu menuju kediaman Ghibran.


"Apa yang lo lihat tadi?" tanya Arthan setelah sampai di rumah Ghibran.


"Ya sama seperti mereka, orang itu pakai jubah hitam dan memakai masker. Tadi dia sempat melihat keadaan aku dan Aretha dan pandangan kami sempat bertemu." jelas Ghibran.


"Sepertinya dia sudah menampakkan dirinya." seringai Arthan.


"Siapa orang itu bang? Kita harus cepat cepat menghabisinya, karena dia sangat berbahaya." ucap Ghibran.


"Kalau gw tahu orangnya, mungkin dari dulu udah gw habisin." balas Ghibran.


"Terus sekarang kita harus gimana?" tanya Ghibran.


"Kita ikuti saja permainannya, nanti juga pasti dia bakalan menampakkan diri. Yang pasti kita harus hati hati dan selalu menjaga keluarga kita." jawab Arthan.


"Lo harus tetap tenang dan bersiap seperti biasa agar Aretha dan yang lain tidak curiga. Nanti soal Abi biar gw yang kasih tahu." lanjut Arthan.


"Ya udah bang gw mau pulang ke rumah Umi dulu pasti Aretha sudah nungguin. Lo kalau mau tidur di sini silahkan di kamar tamu sudah di siapin kok semuanya." pamit Ghibran.


"Hati hati Lo."


"Iya, assalamualaikum." pamit Ghibran.


"Waalaikum salam." balas Arthan.


Ghibran pun pergi meninggalkan rumahnya menuju rumah Abi Umar. Tanpa Ghibran ketahui ada seseorang yang memperlihatkan Ghibran saat keluar dari rumahnya. Dan orang itu pun segera pergi setelah Ghibran tidak lagi terlihat dari pandangannya.


-


Keesokan harinya pukul dua dini hari Aretha sudah berada di kamar mandi untuk memuntahkan semua yang ada di dalam perutnya.


Huek huek huek....


Suara muntahan Aretha dari dalam kamar mandi. Ghibran yang masih tidur dengan nyenyak pun samar samar mendengar suara itu.


"Sayang." pangil Ghibran dengan mata yang masih tertutup tapi tangannya mencari keberadaan Aretha di sampingnya.


"Loh sayang kamu dimana?" panik Ghibran dan terbangun saat tangannya tidak mendapati Aretha di sisinya.


"Sayang...." pangil Ghibran lagi.


Huek huek huek.


"Bukan sahutan yang Ghibran dengar, melainkan suara orang tengah muntah muntahan dari dalam kamar mandi.


"Siapa itu?" tanya Ghibran dan segera beranjak untuk melihat siapa yang ada di dalam kamar mandi.


"Astaghfirullah hallazim sayang kamu kenapa?" kaget Ghibran saat melihat Aretha terduduk di lantai kamar mandi dan kepala yang dia arahkan ke kloset untuk memuntahkan semua yang ada di perutnya.


"Mas...." pangil Aretha lirih karena tenaganya rasanya sudah terkuras habis habisan.


...***...