AG: Aretha Ghibran

AG: Aretha Ghibran
part 114



Pagi pun tiba, Kiyai Mahfudz dan ibu nyai Halimah sudah berangkat pulang ke Malang lagi. Sekarang di kediaman Aretha hanya tinggal kedua orang tua Aretha dan Arthan yang masih setia di sana.


"Bang gimana kemaren Ruby nya?" tanya Aretha penasaran, kemaren dia lupa untuk menanyakan hal itu pada Arthan karena tubuhnya sudah capek.


"Entahlah, Abang belum ketemu sama dia." jawab Arthan lesu.


"Terus sekarang dia gimana, aku udah telfon berkali-kali tapi handphonenya gak aktif." khawatir Aretha.


"Udah kamu tenang aja jangan banyak pikiran entar kamu bisa stress, serahin semua sama bang Arthan, biar dia yang urus." ucap Ghibran menenangkan Aretha.


"Tapi gimana nanti kalau sampai terjadi sesuatu sama dia."


"Kamu berdoa saja, semoga Ruby tidak kenapa kenapa." Ghibran mengelus punggung Aretha dan memeluknya, meletakkan kepala Aretha di dadanya.


"Hiks hiks...." suara isak tangis barengan dengan dada Ghibran yang terasa basah, dan benar saja ternyata Aretha tengah menangis dalam pelukannya.


"Cup Cup Cup, udah dong jangan nangis, nanti kalau bundanya nangis dedek bayinya juga ikutan nangis loh." ucap Ghibran agar Aretha tenang.


"Hiks Ruby kemana hiks hiks...." tangis Aretha.


"Ssttt... udah ya jangan nangis, nanti kita ke sana, kita cari Ruby sama sama."


"Beneran?" Aretha mendongakkan kepalanya menatap wajah Ghibran dan di balas anggukan dengan senyuman manis yang menghiasi wajah Ghibran.


Cup.


"Udah jangan nangis lagi, gak malu kamu sama Abi dan Umi." mendengar itu seketika Aretha kembali menyembunyikan wajahnya di dada bidang Ghibran karena malu.


"Dih, pakai acara malu segala, orang biasanya nangis juga gak malu." sindir Arthan.


"Biarin." balas Aretha.


Abi Umar pun merasa sangat bahagia, karena dia tidak salah dalam memilih pendamping hidup buat putrinya. Di tambah lagi sekarang dia sudah bertemu dengan anak kandung yang satunya lagi, makin bahagia hati Abi Umar rasanya.


"Nak Arthan mau pulang atau masih mau di sini?" tanya Umi Fatimah pada Arthan.


"Arthan balik kok mi, tapi nanti agak siangan." jawab Arthan.


"Kamu tinggal sendirian di rumah kamu?" tanya Umi Fatimah lagi.


"Iya mi." balas Arthan seadanya.


"Bagaimana kalau kamu ikut tinggal sama Umi dan Abi, biar nanti di rumah rame terus kamu juga gak kesepian di rumah sendiri." ajak Umi Fatimah.


"Gak usah lah mi, Arthan nanti ngerepotin Umi sama Abi." tolak Arthan lembut, padahal mah aslinya dia sangat senang banget di kasih tawaran seperti itu.


"Iih kata siapa ngerepotin, yang ada Umi malah seneng karena di rumah bakalan rame. Kan semenjak Aretha pindah rumah Abi jadi sepi. Kamu mau ya?"


"Eeemmm... gimana ya mi...." Arthan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Udah kamu terima saja tawaran Umi, enak loh nanti kamu bisa makan gratis di rumah Abi. Apalagi masakan Umi itu sangat memanjakan lidah." timpal Abi Umar agar Arthan menerima tawaran Umi Fatimah.


"Abi bisa saja, gimana kamu mau gak?" tanya Umi Fatimah.


"Ya udah deh Arthan mau." terima Arthan.


"Nah gitu dong, nanti setelah pulang dari sini kamu beres beres barang kamu dan pindah ke rumah kita." suruh Umi Fatimah.


"Iya mi." balas Arthan.


"Iiih bang Arthan kok tinggal di rumah Umi sih, kan Aretha juga mau." cemberut Aretha yang sudah melepaskan diri dari pelukan Ghibran.


"Wleek, nanti masakan Umi gw sendiri yang makan." ajek Arthan.


"Lah kalau kita pindah terus rumah ini siapa yang tempatin?" balas Ghibran.


"Ya biarin kosong." jawab santai Aretha.


"Kita di sini aja ya, nanti kalau kamu mau ke rumah Umi aku antar ke sana, tapi kita gak pindah ke sana. Atau nanti kita bisa sesekali kita nginap di rumah Umi sama Abi." ucap Ghibran memberikan pengertian pada istrinya.


"Tapi aku maunya tinggal di sana terus." kekeh Aretha.


"Retha sayang, kamu dengerin apa kata suami kamu ya. Kan kamu sekarang sudah berumah tangga jadi harus ikut ke mana suami kamu tinggal. Lagian sayang kan rumah sebesar ini kalau gak ada yang nempatin." ucap Umi Fatimah memberikan pengertian buat Aretha.


"Tapi Aretha maunya tinggal sama Umi di rumah Umi." balas Aretha yang tetap kekeh dengan pendiriannya.


"Eemmm... bagiamana kalau Umi sama Abi aja yang pindah ke sini dan bang Arthan juga." usul Ghibran.


"Kalau gw sih ok ok aja di manapun gw berada asal bisa makan masakan Umi." balas Arthan.


"Gimana bi, mi?" tanya Ghibran menunggu Jawa dari Umi serta Abi Umar.


"Emmm... oke lah, Abi sama Umi pindah saja ke sini. Toh kandungan Aretha juga semakin tua, Umi juga khawatir nanti kalau sewaktu waktu kamu tinggal Aretha kerja." final Umi Fatimah.


"Kalau Abi sih di mana ada Umi di situ pasti ada Abi juga." balas Abi Umar setuju.


"Yes, berarti rumah Aretha bakalan rame lagi gak jadi sepi kayak sebelumnya." senang Aretha.


"Makasih Abi sama Umi." lanjut Aretha beranjak dan memeluk Abi Umar serta Umi Fatimah yang duduk berdempetan.


"Sama sama sayang, asal kamu bahagia kita akan sebisa mungkin untuk menuruti permintaan kamu."balas Umi Fatimah membalas pelukan anaknya.


"Arthan juga mau dong di peluk kayak gitu." ucap Arthan yang mendapatkan plototan mata dari Aretha dan juga Umi Fatimah.


"Gak boleh, kamu bukan mahram kita." tegas Aretha.


"Bisa kok, nih buktinya."


Bruk.


Arthan langsung berhambur ke pelukan Abi Umar, Umi Fatimah dan juga Aretha.


"ARTHAN KAMU JANGAN SEMBARANGAN YA." marah Umi Fatimah melepaskan pelukan Arthan dengan paksa.


"Maaf." lirih Arthan dan menundukkan kepalanya menatap lantai.


"Umi jangan marahin Arthan." tegur Abi Umar yang tahu gimana perasaan Arthan sekarang.


"Apa Bi, Umi memang mengganggap Arthan seperti anak Umi sendiri, tapi tidak dengan bersentuhan kulit. Kita bukan mahram. Terlebih lagi dia pada Aretha yang sudah bersuami." garang Umi Fatimah.


"Maaf Umi, Arthan gak bermaksud apa apa. Arthan cuma mau peluk kalian bertiga." ucap Arthan dengan mata yang sudah menggembun siap turun hujan.


"Tapi kamu seharusnya tahu batas, kita itu bukan mahram kamu. Kamu ngerti kan?" tegas Umi Fatimah.


Arthan semakin menundukkan kepalanya, dia terlalu takut kalau harus berhadapan dengan Umi Fatimah. Bahkan tanpa Arthan sadari air matanya sudah menetes mengenai lantai.


Ghibran yang tak tega pun membantu Arthan agar duduk kembali ke tempatnya tadi sambil menepuk pundak Arthan memberikan kekuatan buat Arthan.


"Mungkin saat ini momen yang tepat untuk Abi bicarakan ini sama Umi dan Aretha."


...***...


Jeng jeng....