
'Hiks hiks hiks kamu di mana hiks.' Tangis Aretha dari sebrang sana yang membuat Ghibran panik.
'Sayang kamu kenapa?' ucap keras Ghibran panik, dan itu membuat Abi Umar dan Arthan menatap Ghibran penuh tanya.
'Kamu di mana, aku cari cari gak ada hiks hiks hiks.' jawab Aretha.
'Loh aku kan tadi udah pamit sama kamu kalau aku mau ke cafe.'
'Tapi kamu lama hiks hiks....'
'Ya udah bentar lagi mas pulang, ini mas lagi ngobrol sebentar sama Abi dan bang Arthan.' jujur Ghibran membuat kedua lelaki beda usia yang berada di ruangan Ghibran itu melotot pada dirinya.
'Disana ada Abi?' tanya Aretha dan seketika itu tangisan Aretha mereda.
'i-iya....' ragu Ghibran karena dia menyadari apa yang sudah dia lakukan barusan.
'Ya udah nanti kamu pulangnya sekalian ajak Abi sama bang Arthan ya.' pinta Aretha.
'Mau ngapain?' tanya Ghibran curiga.
'Gak ngapa ngapain, cuma kangen aja.' balas Aretha.
'Ya udah aku tunggu di rumah ya, cepet pulang dedek bayinya sudah nungguin. Dan jangan lupa ajak Abi sama bang Arthan, kalau sampai mereka gak mau nanti aku bakal marah.'
'Assalamualaikum.' salam Aretha.
Tut.
Aretha langsung menutup sambungan telepon tanpa menunggu jawaban dari Ghibran.
"Waalaikum salam." balas Ghibran lirih.
"Hehehe." cengir Ghibran saat menyadari Abi Umar dan Arthan sudah menatapnya dengan pandangan membunuh.
"Dia cuma kangen aja kok, mau ya... plis...." mohon Ghibran.
Karena nanti kalau sampai tidak di turuti maka dia yang akan kena hukumannya dengan tidur di kamar lain.
"Hufft, ya udah ayo. Abi juga udah kangen sama anak Abi." setuju Abi Umar.
"Aku juga anak Abi loh." sahut Arthan.
"Iya kamu juga anak Abi, tapi Abi tak bisa berbuat lebih karena nanti akan membahayakan kamu. Maafkan Abi ya...." menepuk pundak Arthan.
"Ya udah yuk kita ke rumah sekarang." ajak Ghibran.
Mereka bertiga pun memutuskan untuk pulang ke rumah Ghibran dan tidak jadi makan siang di cafe. Mereka akan makan siang di rumah Ghibran saja nanti.
-
Sementara itu, seseorang tengah tertawa senang melihat keberhasilannya dalam membuat perusahaan Abi Umar di ujung kebrangkutan.
"Umar Umar, lihat saja kalau aku tidak bisa mendapatkan anak lelakimu. Maka akan aku buat hidupmu dan istrimu menderita."
"Hahahaha...." tawa menggelegar mengisi ruangan yang gelap dan hanya di terangi lampu remang-remang saja.
Mungkin kalau ada yang mendengar suara tawanya, mereka akan lari terbirit-birit karena saking menyeramkannya.
"Tinggal sedikit lagi perusahaan yang kamu bangun dari bawah akan hancur di tanganku ini."
" Hahahaha...." lanjutnya masih dengan tawa yang menyeramkan.
Setelah puas, orang itu langsung diam dan menatap tajam ke depan. Entah apa yang ada di pikirannya, seperti tengah merencanakan sesuatu.
-
"Assalamualaikum sayang, mas pulang...."Teriak Ghibran saat memasuki rumah di ikuti Abi Umar dan Arthan di belakangnya.
"Sepertinya menantu Abi juga sudah tidak beres." bisik Arthan pada Abi Umar yang berjalan di sampingnya.
"Benar kata kamu, sepertinya dia udah gila gara gara istrinya." balas Abi Umar berbisik juga pada Arthan.
"Waalaikum salam. Mass....aku kangen...." balas salam Aretha dan berlari menghampiri Ghibran.
"Sayang jangan lari, kamu lagi hamil." Teriak Ghibran.
"Aretha...."
Bruk.
...***...
...Maaf ya akhir akhir ini aku update cuma sedikit, lagi banyak fikiran jadi susah buat ngetik cerita 🙏🙏....